Percakapan ini merupakan bagian dari serial Memaknai Ulang Indonesia yang mengajak kita mempertanyakan warisan penjajahan dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi Indonesia.
Marlinda Na’u adalah seorang ibu rumah tangga dari masyarakat Mollo yang tinggal di Desa Taiftob, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Marlinda Na’u juga aktif bergiat sebagai koordinator pangan di Komunitas Lakoat Kujawas.
Carla: Kenapa akhirnya memutuskan untuk fokus bergerak di bidang pangan? Apakah ada momen tertentu dalam kehidupanmu yang membuatmu merasa bahwa isu pangan itu penting?
Marlinda Na’u: Sebenarnya, beta salah satu orang di antara banyak masyarakat Mollo yang dulu merasa sangat inferior dengan pangan lokal. Beta kemudian memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Lakoat Kujawas yang bergerak di bidang pangan di Mollo pada tahun 2018. Kami mencoba mengeksplor pekarangan rumah dan hutan, dan dari situ beta jadi mengingat kembali memori-memori masa kecil, di mana dulu beta belum mengenal beras.
Bersama komunitas, kami juga memperkenalkan pangan lokal dan beta merasa bahwa ternyata orang dari luar sangat mengapresiasi makanan yang selama ini beta anggap sebagai “makanan orang kampung” atau “makanan orang susah”.
Dari situ beta sadar bahwa kita tidak boleh merasa rendah diri dengan apa yang kita punya, karena sebenarnya kalau kita bicara pangan, kita juga bicara soal identitas — seperti yang beta bilang tadi, ada memori masa kecil di mana pangan lokal dihadirkan sebagai salah satu makanan ritual.
Jadi beta akhirnya sadar kalau bicara pangan, beta juga sedang bicara tentang identitas beta sendiri.
Carla: Kamu sempat bilang ada rasa inferior, seperti makanan yang kamu makan selama ini dianggap “makanan kampung”. Bisa dijelaskan kenapa perasaan itu bisa muncul?
Marlinda Na’u: Karena makanan yang kami anggap paling bergengsi itu beras dan makanan instan. Dulu, ketika kami makan ubi atau jagung, kami diberi stigma sebagai orang yang tidak mampu. Jadi, ukuran kesejahteraan kami dibandingkan dengan nasi putih. Kalau makan nasi, artinya mampu membeli beras. Tapi kalau isi piringnya jagung, ubi, atau kacang, itu berarti kami dianggap orang susah.
Carla: Berarti ada kaitannya dengan status sosial dan ekonomi seseorang: apakah dia bisa makan nasi atau tidak, apakah dia mampu membeli beras atau tidak?
Marlinda Na’u: Iya, benar. Di masa kecil beta makan ubi, jagung, dan kacang-kacangan, dan tetap sehat. Namun, ketika beranjak remaja, seperti ada keharusan untuk makan nasi dan mi instan. Padahal kami tinggal di daerah pegunungan; tidak ada sawah dan tidak ada padi, tapi kami seperti harus makan nasi. Dari mana datangnya nasi? Orang tua terpaksa menjual jagung sampai berutang di kios untuk bisa membeli beras.
Kami menyesuaikan diri dengan teman-teman dan tetangga yang sudah makan nasi, karena kalau sampai di sekolah saya membawa bekal jagung, saya akan dibully habis-habisan. Jadi mau tidak mau, ada tekanan sosial dari teman-teman kalau kita belum makan nasi
Carla: Sekarang kalau kita bicara pangan, mungkin yang langsung terpikir adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Banyak yang bilang program ini mengingatkan pada program swasembada beras dulu, karena seolah-olah makanan seluruh anak Indonesia diseragamkan. Menurutmu, bagaimana soal ini?
Marlinda Na’u: Menurut beta, MBG itu sebenarnya program yang sangat meresahkan. Karena ini bukan bicara soal pemerataan, tapi bagaimana program ini membuat anak-anak kami harus bergantung pada nasi. Mereka makan nasi hanya di sekolah, tapi ketika pulang ke rumah, orang tua menyediakan ubi dan jagung. Akhirnya, anak-anak jadi tidak mau makan karena mereka berpikir besok di sekolah akan makan nasi lagi lewat MBG. Ketika diberi makanan yang ada di rumah, beberapa anak bahkan memilih puasa semalaman hanya untuk menunggu makan MBG besok harinya.
Menurut beta, ini salah satu politik untuk membuat generasi sekarang bergantung pada nasi, seolah-olah ubi dan jagung sebagai makanan pokok kami, sebagai identitas kami di Timur, perlahan-lahan mau dihilangkan.
Carla: Tadi juga sempat dibahas soal bagaimana pangan itu sangat dekat dengan identitas dan cara hidup sebuah masyarakat, sebuah komunitas. Apa yang membuat kamu merasa bahwa pangan itu lebih dari sekadar makanan, melainkan juga bagian dari identitas?
Marlinda Na’u: Kalau bicara pangan orang Timor (Mollo), makanan pokoknya itu jagung dan ubi. Itu sudah menjadi identitas kami. Artinya, ke mana pun orang Timor pergi, orang akan tahu bahwa makanan orang Timor itu jagung dan ubi.
Kalau pangan itu dihilangkan, identitas kami juga ikut hilang, dan menurut beta itu terjadi perlahan-lahan.
Ditambah sebenarnya, kalau bicara ubi dan jagung, secara tidak langsung kita juga bicara soal merawat tanah dan alam.
Carla: Pangan itu dekat sekali hubungannya dengan alam. Apa yang bisa kita pelajari dari relasi ini? Bagaimana pangan lokal bisa membantu kita lebih paham cara alam bekerja?
Marlinda Na’u: Sejauh yang beta pelajari, secara tidak langsung pangan mengajari bagaimana merawat alam, membaca musim, menghormati tanah, menjaga air.
Kami di sini makan secara musiman. Jadi, makanan yang dimakan pada bulan ini dan bulan depan berbeda-beda, dan biasanya makanan-makanan ini didapat dari hutan. Misalnya, kalau di kampung kami sedang musim kacang, kampung sebelah mungkin sedang musim ubi hutan. Dan sekarang, dengan krisis iklim, pola musim ini jadi terganggu dan tidak menentu.
Di Mollo, kalau bicara soal pangan, kami juga bicara soal kecukupan, tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan, dan tidak serakah. Artinya, kami mengambil apa yang ada di hutan dan di kebun secukupnya hanya untuk dimakan dan bukan untuk dijual.
Carla: Jadi murni untuk bertahan hidup, untuk makan, bukan untuk mencari untung.
Marlinda Na’u: Betul, bukan untuk mencari untung. Di hutan, sebenarnya banyak sekali makanan yang bisa diambil. Tapi karena hutan terus dibuka untuk dijadikan kebun yang hanya menanam satu jenis tanaman saja, dan yang tujuannya hanya untuk dijual, akhirnya banyak tanaman lain yang ikut musnah.
Saatnya musim panen tiba, kami jadi tidak bisa menikmati apa yang disediakan hutan, ujung-ujungnya hanya makan nasi putih saja karena tidak bisa mendapatkan yang lain.
Setiap ada perkebunan besar yang muncul, artinya ada banyak jenis tanaman dan banyak jenis makanan yang ikut hilang.
Carla: Pengetahuan tentang pangan itu pengetahuan turun-temurun. Apakah orang tuamu yang mengajarkan cara bercocok tanam, cara mengolah makanan, dan itu akhirnya diteruskan lagi ke anak cucu?
Marlinda Na’u: Benar, pengetahuan dan pengalaman tentang cara mengambil makanan yang bisa dimakan, cara mengolahnya, semuanya diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena di sini ada beberapa jenis makanan hutan yang harus melewati proses pengolahan yang cukup panjang, jadi cara mengolahnya harus tetap dipelajari dan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.
Salah satunya adalah arbila hutan, atau yang kami sebut kacang beracun, karena kacang ini mengandung sedikit sianida. Jadi prosesnya harus direbus berulang kali, sampai sebelas kali, baru bisa dimakan.
Carla: Ada kekhawatiran tidak kalau warisan pengetahuan ini akan hilang jika kita memaksakan fokus hanya pada satu jenis pangan tertentu?
Marlinda Na’u: Sudah pasti ada kekhawatiran itu.
Kalau lahan sudah tidak ada, hutan sudah tidak ada, dengan sendirinya pengetahuan itu akan hilang.
Bagaimana kami bisa menjelaskan kepada anak dan cucu kalau cuma bercerita tanpa mempraktikkannya? Itu akan sia-sia karena mereka tidak akan paham.
Anak-anak generasi sekarang bahkan tidak tahu tumbuhan jagung seperti apa. Jadi harus tetap ada praktiknya, supaya bisa mengajarkan tumbuhan apa yang bisa dimakan dan proses pengolahannya seperti apa sampai bisa disajikan di atas meja. Kalau cuma bercerita saja, menurut saya itu sia-sia, karena mereka tidak akan mengerti.
Apalagi, pengetahuan seperti ini bukan sesuatu yang dipelajari juga di sekolah, dan mau tidak mau memang belajarnya dari keluarga, dari orang tua, dari kakek-nenek.
Carla: Aku ingin bertanya soal hubungan antara pangan dan perempuan. Sepertinya perempuan di beberapa komunitas punya peran penting dalam mengolah dan membuat makanan untuk keluarga, memastikan semua orang di rumah kenyang. Menurutmu, seberapa penting peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan pangan?
Marlinda Na’u: Sejauh pengalaman beta, peran perempuan itu sangat penting untuk menjaga pangan. Karena perempuanlah yang tahu tumbuhan apa yang bisa dimakan dan bagaimana cara mengolahnya. Jadi kalau mengolah kebun, perempuan harus ikut. Perempuan yang lebih tahu soal benih atau tumbuhan apa yang harus ditanam dan dijaga.
Selain penjaga dapur, perempuan juga penjaga pengetahuan karena semua pengetahuan ini datangnya dari perempuan. Jadi, peran perempuan untuk pangan lokal itu penting sekali, sangat penting.
Carla: Apa yang bisa kita pelajari, terutama yang tinggal di kota dan tidak terlalu dekat hubungannya dengan makanan lokal di daerahnya masing-masing, dari cara masyarakat adat melihat pangan?
Marlinda Na’u: Menurut beta, kita harus menghargai keberagaman pangan.
Masyarakat itu harus diberi kebebasan untuk makan sesuatu yang ada di daerahnya sendiri dan tidak bergantung pada satu jenis makanan saja.
Ini juga soal melihat bahwa sebenarnya tidak ada hierarki di antara jenis pangan karena selama ini kesannya nasi yang paling superior dan yang lain seperti ubi dan jagung ada di bawahnya.
Teman-teman juga harus mulai dengan mengenal asal makanannya. Mungkin bisa mengunjungi petani, mengenal sumber makanannya dari mana, lalu memahami prosesnya seperti apa. Dari situ kita bisa belajar bagaimana menghargai apa yang kita makan.
Carla: Seberapa penting bagi kita untuk mengetahui asal-usul makanan yang kita makan?
Marlinda Na’u: Penting sekali. Kita harus tahu isi piring kita itu apa dan dari mana asalnya. Misalnya, ketika makan sayur, kita bisa tahu sayur ini ditanam oleh petani di tanah, secara hidroponik, atau dengan cara lain. Dari situ juga kita bisa belajar untuk menghargai; selain menghargai tanah, kita juga belajar menghargai alam itu sendiri.
Dan ketika tahu asal-usul makanan kita, kita juga mengenal asal-usul kita sendiri, karena seperti yang beta bilang, bicara pangan itu bicara tentang identitas.
Carla: Karena kita membahas bulan Agustus, yang erat kaitannya dengan kemerdekaan, kalau untuk dirimu, arti merdeka itu apa?
Marlinda Na’u: Sebagai masyarakat adat di Mollo, arti merdeka itu adalah ketika masyarakat bebas menentukan pangan yang kami tanam dan olah, yang berarti pengetahuan leluhur juga tetap hidup sebagai bagian dari masa kini dan masa depan, bukan sebagai masa lalu. Pengetahuan leluhur tetap dihargai, bukan berarti harus diseragamkan dari ujung ke ujung.
Ketika kami diberi kebebasan untuk memilih pangan kami sendiri untuk diolah, menurut beta, itulah arti merdeka.
Merdeka juga ketika kami diberi kebebasan untuk bisa merawat tanah dan alam kami sendiri, tidak harus bergantung pada kebijakan-kebijakan yang ada, karena sekarang, bahkan untuk merawat alam dan tanah pun, seperti tidak punya kepemilikan.
Misalnya, di kampung beta sendiri, ada satu tempat di mana masyarakat biasa melakukan ritual-ritual. Ritual ini penting sekali bagi kami. Ketika kami mau membuka lahan baru untuk menanam, kami harus mengadakan ritual, harus meminta izin kepada leluhur, apakah kami bisa menebang pohon tertentu untuk membuka lahan. Tapi sekarang tempat itu sudah diambil alih sebagai taman nasional, yang kemudian menutup akses kami untuk mengadakan ritual di sana.
Selain ritual, tempat itu juga menjadi salah satu sumber kehidupan bagi kami, untuk mengambil makanan, mengambil obat-obatan, mengambil kayu bakar. Sekarang semua itu tidak bisa diakses lagi.
Carla: Kalau kamu bisa membayangkan ulang Indonesia saat ini, yang sistem dan aturannya banyak sekali mewarisi masa penjajahan, kira-kira Indonesia seperti apa yang terbayang?
Marlinda Na’u: Beta membayangkan Indonesia yang menghargai keberagaman, tidak memaksa semua daerah memiliki pola makan yang sama, tetapi memberi ruang bagi setiap daerah untuk menjaga pangan lokalnya.
Kemudian juga melihat petani, perempuan, dan masyarakat adat sebagai penjaga kehidupan, bukan kelompok yang tertinggal. Kadang kita melihat mereka seperti orang kampung yang tidak tahu apa-apa, padahal pengetahuan mereka banyak sekali.
Carla: Ada rekomendasi apa yang harus kita lakukan kalau ingin belajar lebih lanjut soal pangan?
Marlinda Na’u: Belajar langsung di kebun, melihat bagaimana petani menanam dan merawat tanaman. Kemudian bisa juga ke dapur-dapur mama-mama di kampung, melihat proses pengolahannya.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Feby Indirani dan Memaknai Ulang Perempuan.
Belai Djandam dan Upaya Kembali Berakar.
John dan Merayakan Papua Lewat Seni.





Artikel yang bagus sekali. Swasembada beras benar-benar program yang mengecilkan pangan lokal, dan membuat remeh peran masyarakat adat dan kerja perempuan dalam mengelola ruang hidup. Semoga tanah dan pengetahuannya bisa diteruskan ke generasi berikutnya, sebab sekarang rasanya banyak orang yang tidak pandai mengidentifikasi tumbuhan bahkan yang sangat umum dijumpai sebenarnya 😔