Percakapan ini merupakan bagian dari serial Memaknai Ulang Indonesia yang mengajak kita mempertanyakan warisan penjajahan dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi Indonesia.
Johno Surodji Sembor, atau biasa dipanggil Mas John, adalah seorang seniman yang lahir dan besar di Wamena, Papua Pegunungan. Hari ini Mas John banyak berkarya di Jakarta dan Bali.
Carla: Apakah ada momen spesifik dalam kehidupanmu yang membuat kamu berkarya seperti sekarang ini?
John: Dari kecil, waktu masih di Papua, aku sudah bermimpi untuk jadi seniman. Mama dan Papa juga percaya sama aku. Itu yang membuat dorongan untuk menjadi seniman semakin kuat karena aku jadi berpikir, “Sudahlah, aku akan mengejar cita-cita ini.” Walaupun memang sempat sedikit terhenti karena sebelum menjadi seniman penuh waktu, aku sempat kerja kantoran dan juga modeling. Semua pengalaman itu yang akhirnya membentuk aku sekarang.
Jadi, aku rasa cita-cita dan mimpi itu yang bikin aku terus mau mengejar menjadi seorang seniman.
Carla: Aku melihat karya-karyamu itu sangat beragam. Apakah memang itu ciri khas kamu sebagai seniman?
John: Itu memang aku apa adanya dan ada latar belakangku yang membentuk aku. Aku lahir dan besar di Papua, lalu pindah ke Jakarta karena waktu itu mau kuliah desain interior, sedangkan di Papua tidak ada jurusan itu. Bahkan sampai sekarang, orang Papua sebenarnya masih belum terlalu familiar dengan dunia desain. Padahal kalau kita tahu, di Papua ada banyak karya yang bisa dikembangkan lagi. Jadi, latar belakang itu semua yang membentuk aku menjadi beragam.
Biasanya orang suka mengotak-ngotakan. Kita selalu disuruh memilih satu kotak saja. Dan dari kecil aku sudah muak dengan itu.
Akhirnya, mungkin tergambarkan dari karya-karyaku yang bentuknya beda-beda dan beragam, tidak masuk satu kotak tertentu.
Carla: Berarti, apakah ada momen di masa kecil, atau mungkin saat pindah ke Jakarta, di mana kamu merasa dianggap sedikit “berbeda” atau “aneh” karena tidak mengikuti standar-standar tertentu—standar yang sebenarnya kita sendiri pun tidak tahu dibentuk oleh siapa?
John: Tentu ada. Kalau di Papua, tidak terlalu terasa. Ditambah, kedua orang tuaku memberi aku kepercayaan yang sangat besar. Jadi selama Mama dan Papa belum berkomentar, aku merasa masih aman untuk berjalan sesuai jalanku sendiri.
Yang lebih terasa justru saat menjadi model karena aku merasakan langsung standar kecantikan di Jakarta yang sungguh berbeda dengan di Papua. Misalnya, kalau standar kecantikan di Papua lebih merayakan dan mengapresiasi bentuk tubuh yang lebih berisi. Tapi begitu masuk ke industri model di Jakarta, khususnya di dunia fashion, ternyata standarnya sangat berbeda—di sini kita “harus” kurus.
Itu yang bikin aku, ketika awal masuk industri ini, merasa ingin mengubah sesuatu. Tapi tantangan saat itu, terutama pada tahun 2015-2016, adalah kebanyakan kompetitor model itu bule.
Itu juga salah satu alasan aku punya rambut gimbal sejak awal modeling, karena aku tidak mau ikut standar kecantikan tertentu. Walaupun bicara soal penghasilan, itu berat—tapi aku selalu berpikir, kalau enggak aku coba dan enggak aku mulai, siapa lagi? Aku bersyukur masih ada orang-orang yang percaya sama aku dan terus mendorong aku. Sampai akhirnya, aku bisa jadi salah satu cover majalah di Jakarta dengan rambut gimbal. Itu salah satu kebanggaanku.
Carla: Rasa takut untuk jadi yang pertama itu juga menakutkan, ya, apalagi tadi kamu bilang dari segi finansial juga bisa berkurang. Mungkin lebih gampang untuk bermain aman dan mengikuti standar.
John: Iya, memang harus pantang menyerah dan berani. Dan akhirnya dari situ, sekarang aku bisa melihat orang-orang hari ini jadi lebih ekspresif, lebih bisa jadi diri sendiri, lebih unik. Bisa menyaksikan perubahan ini juga menjadi kebahagiaan tersendiri buatku.
Carla: Berarti ada banyak perubahan antara sepuluh tahun lalu dan hari ini?
John: Ada. Misalnya, hari ini, kalau aku ke Blok M, dulu mungkin cuma satu orang yang berpenampilan “nyeleneh”. Tapi sekarang jadi tren. Itu salah satu kebahagiaan buatku. Dan itu juga yang bikin aku termotivasi untuk tidak berhenti.
Atau misalnya, gaya aku itu sebenarnya “dangdut”. Itu karena dari kecil mamaku, walaupun dia perempuan Papua, sangat terobsesi dengan dangdut. Itu yang membuat aku cinta sama dangdut. Dan sekarang, ketika aku melihat musik dangdut jadi hype lagi, ada momen di mana aku merasa, “Ternyata ini benar-benar bisa terjadi.”
Carla: Berarti ada masa ketika kamu sempat menerima banyak komentar negatif soal penampilanmu?
John: Iya, dan terutama soal rambut. Tapi buatku, rambut gimbal adalah bagian dari diriku. Di daerah asalku, Karubaga, di Papua, perempuan dan laki-laki banyak yang berambut gimbal.
Dan ketika aku berambut gimbal, aku membawa sepotong tempat aku berasal ke mana pun aku pergi. Walaupun bagi sebagian orang, rambut gimbal tidak masuk dalam standar estetika mereka.
Carla: Apakah cara pandang ini, soal break the rules, break the standard, memengaruhi bagaimana kamu berkarya dan pesan yang ingin kamu bawa lewat karya-karyamu?
John: Iya, bisa aku bilang begitu. Ketika membuat karya, aku selalu ingin ada pesan dan fungsi di dalamnya. Ini juga jadi salah satu hal yang sering aku diskusikan dengan orang-orang galeri, karena menurut mereka karya seorang seniman tidak harus selalu punya pesan.
Tapi mungkin karena latar belakangku, aku selalu ingin karyaku membawa sesuatu—minimal, orang yang melihatnya bisa menangkap pesan yang ingin kusampaikan, terutama tentang Papua.
Di sisi lain, secara bisnis, itu menjadi tantangan tersendiri. Jadi aku belajar memosisikan diri supaya tetap bisa membuat karya yang menyampaikan aspirasiku, tetapi dengan cara yang tidak terlalu radikal. Itu juga menjadi proses pembelajaran buatku. Pada akhirnya, karyaku pasti selalu membawa pesan, hanya saja aku menyampaikannya dengan cara dan twist-ku sendiri.
Carla: Biasanya, pesan utama apa yang paling ingin kamu sampaikan lewat karya-karyamu?
John: Kebanyakan karyaku bicara soal bagaimana kita (sebagai orang Indonesia/Papua) merasa “ditindas”. Misalnya, ada karya yang menggambarkan sosok perempuan yang merepresentasikan kita sebagai orang Indonesia, yang sedang menunduk kepada sosok bule. Itu cara aku menyampaikan bagaimana kita masih menjunjung orang-orang tertentu dan juga menggambarkan hierarki: siapa yang dianggap lebih “superior”.
Ada juga lanjutan dari karya itu, di mana sosok perempuan tadi sudah kembali ke akarnya. Secara visual, dia digambarkan kembali bersama sosok laki-laki lokal, dan ini sebenarnya untuk menggambarkan bahwa kita sebagai Indonesia sudah pulih, sudah ingin kembali ke akar kita sendiri.
Carla: Aku merasa, bahkan sekarang, warisan penjajahan ini sudah sangat mengakar tanpa kita sadari, bahkan sampai mendesain preferensi kita dan cara kita melihat sesuatu. Menurutmu, bagaimana soal itu? Apakah ada yang dirugikan dan diuntungkan dari situasi ini?
John: Menurutku ada banget. Salah satu yang paling sering terjadi itu soal self-esteem—kita jadi sering membanding-bandingkan diri, misalnya, “hidungku kurang mancung”.
Tapi kalau dari pengalaman pribadiku, sebelum masuk industri ini, aku biasa saja, tidak terlalu terekspos dan tidak terlalu terkena efeknya—mungkin karena kedua orang tuaku, terutama mamaku, sangat bangga menjadi perempuan Papua. Aku melihat itu dari kecil, sehingga aku selalu berpikir kalau aku juga harus bangga dengan identitas aku sebagai orang Papua. Tapi nyatanya, tidak semua orang mendapatkan pengalaman seperti itu.
Yang paling sering aku obrolkan sama teman-teman, itu soal sistem pendidikan kita. Kita kurang belajar soal sejarah daerah kita sendiri. Misalnya, di Papua, kita tidak pernah belajar secara spesifik soal sejarah suku Papua atau perjuangan-perjuangan lokal.
Padahal, menurutku, kalau kita tahu dan memahami sejarahnya, akan muncul rasa belonging: aku bagian dari sejarah dan budaya ini, dan budaya ini juga bagian dari diriku. Dari situ, muncul keinginan untuk terus mempertahankannya dan merayakannya.
Carla: Tapi mungkin itu juga sesuatu yang memang di-set by design, ya — sistemnya yang dirancang supaya kita tidak punya ikatan yang kuat dan dekat dengan budaya kita sendiri.
John: Iya, kayaknya sudah dipikirkan oleh sistem ini, supaya orang-orang lupa dan jauh dari budaya sendiri.
Sebenarnya menyedihkan karena kita punya Bhinneka Tunggal Ika, di mana jauh sebelum “diversity” menjadi tren, para penggagas sudah visioner soal hal itu. Sayangnya, kita belum benar-benar menjalankan nilai-nilainya.
Carla: Dengan Bhinneka Tunggal Ika dan diversity yang sangat digembar-gemborkan, banyak budaya dan simbol dari Papua yang dipakai hanya untuk menunjukkan kalau “kita beragam”, misalnya pejabat memakai baju daerah Papua di acara-acara resmi — tapi di saat yang sama, tidak ada ruang yang benar-benar diberikan untuk teman-teman Papua. Menurutmu, bagaimana soal ini?
John: Aku punya satu karya soal ini yang sempat dipamerkan di Bali tahun lalu. Aku merasa budaya Timur, termasuk musik-musiknya, lagi naik daun; orang-orang jadi banyak yang tahu, bahkan sampai diundang ke acara musik besar di Jakarta.
Aku tentu senang, namun ada perasaan bahwa kita, orang Papua, hanya “dipakai” sebagai aksesori saja.
Ditambah, ada banyak yang meminjam budaya Papua tanpa benar-benar paham situasi yang terjadi di sana. Sehingga aku mempertanyakan, “Cinta ke Papuanya itu di mana? Apakah benar-benar ada?”
Carla: Dan ketika kalian ingin menyampaikan situasi yang sebenarnya terjadi di Papua, itu justru tidak didengar, karena seperti yang kamu bilang, cuma dijadikan sebatas aksesori saja.
John: Betul, itu yang selalu aku pikirkan.
Aku sering banget berpikir soal baju daerah yang dipakai untuk acara-acara pemerintahan. Sebenarnya, banyak pola dan motif yang punya tujuan dan makna tertentu, bahkan sifatnya sakral. Misalnya, ada pola yang khusus digunakan untuk kematian atau untuk merayakan panen, tapi malah dipakai dalam acara penjemputan pejabat.
Makanya, aku sempat berpikir untuk mencari solusinya. Siapa tahu ke depannya kita bisa punya satu baju atau kostum yang merepresentasikan Papua khusus untuk acara pemerintahan, tanpa harus menggunakan pola dan motif yang tidak sesuai konteks. Jadi, simbol-simbol yang punya makna dan fungsi khusus bagi orang Papua tetap bisa kita jaga dan tidak digunakan sembarangan.
Menurutku, hal seperti ini terjadi karena orang tidak mau belajar atau melakukan riset sendiri. Padahal, sebelum menggunakan sesuatu, seharusnya kita cari tahu dulu apa makna dan konteksnya.
Carla: Kalau melihat situasi seperti itu, perasaanmu lebih ke kecewa, marah, atau sudah pasrah?
John: Dulu ada rasa kecewa dan marah, tapi sekarang lebih ke “Aku harus bikin solusi.” Karena kalau tidak ada solusi, tidak akan ada perubahan.
Carla: Apa pendapatmu soal cultural appropriation—ketika budaya seseorang dipakai oleh orang yang bukan berasal dari daerah/budaya tersebut?
John: Menurutku, kalau ada niat memakai sesuatu tanpa benar-benar tahu atau melakukan riset terlebih dahulu, itu sudah salah dari awal. Tapi, balik lagi ke pemakainya dan intensinya. Misalnya, ada beberapa orang non-Papua yang lahir dan besar di Papua, jadi mereka paham betul konteksnya—kalau mereka memakainya dengan benar dan dengan maksud yang benar, aku bisa menerima itu.
Kadang ada juga orang yang bilang, “Kan kita cuma mau bantu mempromosikan budaya kalian.” Padahal kita tidak meminta itu.
Itu juga salah satu mentalitas yang menurutku masih sangat erat dengan kolonialisme—mentalitas bahwa “kita harus membantu orang-orang Timur”, seolah-olah mereka harus dibantu, diselamatkan—padahal belum tentu itu yang dibutuhkan.
Contohnya, yang kita butuhkan itu buku dan kertas, tapi yang dikasih justru makanan, padahal makanan kita sendiri banyak. Walaupun niatnya membantu, karena tidak sesuai kebutuhan, akhirnya jadi tidak benar-benar membantu.
Carla: Kadang solusi yang diberikan itu solusi yang menurut mereka benar, padahal belum tentu. Dan kembali ke poin awal, kalau mau membantu, juga harus mau belajar dulu.
Carla: Arti merdeka untukmu itu seperti apa?
John: Merdeka itu ketika aku bisa bangga dan merasa aman menjadi diriku sendiri — dalam situasi apa pun. Aku bisa merasa nyaman dan tetap menjadi diriku di mana saja. Menurutku, itulah merdeka yang sesungguhnya.
Carla: Kalau misalnya bisa membayangkan ulang Indonesia, terlepas dari aturan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang ada sekarang, Indonesia seperti apa yang terbayang?
John: Indonesia yang benar-benar menjalankan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila dengan sungguh-sungguh. Indonesia yang merayakan keberagaman. Kita ini memang beda-beda, tapi bukan berarti harus diseragamkan, dan itu yang membuat kita jadi Indonesia.
Dan terutama lebih menjalankan sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Carla: Punya rekomendasi untuk teman-teman yang ingin memperdalam perspektif atau sudut pandang ini?
John: Aku suka podcast-podcast seorang drag queen, namanya Lushious Massacr. Dia menunjukkan bagaimana menjadi diri sendiri, dan aku merasa punya banyak kemiripan dengan cara dia menjalani identitasnya, walaupun berbeda, esensinya sama.
Ada juga film anime berjudul “Colorful” (2010) yang menurutku mengingatkan kita soal apa artinya menjadi manusia.
Selain itu, ada satu buku, lebih ke visual book, yang berjudul “A Spoonful of Sugar In Your Cup of Tea: Questions on Colonialism and Discrimination in Five Acts”. Di situ ada karyaku dan juga karya seniman-seniman lain yang mengeksplor topik soal dekolonisasi dan diskriminasi yang masih ada dalam masyarakat hari ini. Misalnya, ada seorang seniman yang berbagi cerita soal bagaimana tumbuh besar sebagai orang keturunan Tionghoa di Inggris.








