Aku melihat ada nama Abbas Kiarostami di esai ini. Sebagai penikmat film-film buatannya, aku nggak tahu apa-apa soal kasus beliau? Boleh kasih tau sedikit nggak, ya?
Pada akhirnya patriaki hanya berubah jika ada keinginan dalam diri manusia itu sendiri. Abai seringkali meliput sistem ini yang sudah mengakar oleh budaya dan kebiasaan. Anyway, tulisan yang bagus. Terima kasih, Mas!
Setelah baca ini, perasaan saya campur aduk. Saya bangga atas diri saya, karena ternyata diri saya sendiri sudah sangat menolak patriarki dengan keras, tanpa saya sadari dan ketahui, sampai saya baca tulisan ini. Tetapi, disisi lain saya sangat sedih, karena nyatanya, dari orang disekeliling saya (semuanya perempuan), hanya saya seorang diri yang menolak patriarki, sedang mereka tanpa sadar mengizinkan budaya patriarki yang memang sudah mengakar itu berlanjut dengan membela Rehan, mengatasnamkan perasaan sebagai validasi pembelaan. Bahkan dikasus lain yang serupa. Yang itu sebenarnya juga kondradiktif dengan pernyataan mereka yang katanya benci dan ingin menghilangkan patriarki.
ini yang terjadi di salihara, ngejagain nama baik si sitok padahal dia rapist kontol
sampai sekarang rasanya masih kesal kalau melihat one of their names yang disebutkan di atas masih eksis di media digital sampai detik ini:<
❤️❤️❤️❤️❤️
Aku melihat ada nama Abbas Kiarostami di esai ini. Sebagai penikmat film-film buatannya, aku nggak tahu apa-apa soal kasus beliau? Boleh kasih tau sedikit nggak, ya?
bacanya tahan napas dikit
Pada akhirnya patriaki hanya berubah jika ada keinginan dalam diri manusia itu sendiri. Abai seringkali meliput sistem ini yang sudah mengakar oleh budaya dan kebiasaan. Anyway, tulisan yang bagus. Terima kasih, Mas!
Setelah baca ini, perasaan saya campur aduk. Saya bangga atas diri saya, karena ternyata diri saya sendiri sudah sangat menolak patriarki dengan keras, tanpa saya sadari dan ketahui, sampai saya baca tulisan ini. Tetapi, disisi lain saya sangat sedih, karena nyatanya, dari orang disekeliling saya (semuanya perempuan), hanya saya seorang diri yang menolak patriarki, sedang mereka tanpa sadar mengizinkan budaya patriarki yang memang sudah mengakar itu berlanjut dengan membela Rehan, mengatasnamkan perasaan sebagai validasi pembelaan. Bahkan dikasus lain yang serupa. Yang itu sebenarnya juga kondradiktif dengan pernyataan mereka yang katanya benci dan ingin menghilangkan patriarki.