Penulis: Rendy Manggalaputra
Peringatan pemicu: esai ini memuat topik kekerasan terhadap perempuan yang berpotensi memantik trauma dan reaksi emosional tertentu.
Lima bulan lalu, empat puluh lima tahun ke belakang, seorang sosiolog pejuang perlawanan, Hélène Legotien, dibunuh oleh filsuf pelaku femisida, Louis Althusser.
Peradaban manusia telah gagal mencegah pembunuhannya, dan sejarah filsafat tidak berhasil mengarsipkan kebenaran bagi korban dengan adil dan bijak.
Setidaknya begitu, sampai Francis Dupuis-Déri ikut menggugat lewat bukunya Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan. Dupuis-Déri menunjukkan bahwa filsuf pelaku kekerasan dan femisida beserta pemikirannya adalah sebuah kemunafikan.
Dalam delapan puluh dua halaman, Francis Dupuis-Déri tidak hanya mengajak pembaca menggugat lika-liku tragedi pembunuhan ini, tetapi turut menyoroti fenomena psikologisasi dan viktimisasi yang menguntungkan si pelaku.
Meski telah mengaku mencekik korban hingga tak bernyawa, Althusser Pembunuh tidak pernah sekali pun diadili karena dianggap mengidap gangguan mental. Ia justru dimasukkan ke rumah sakit jiwa, terbebas dari pidana, dan statusnya sebagai intelektual terus dilindungi oleh lingkar elit filsuf dan kekuasaan.
Berbagai tesis kemudian muncul di ruang publik dengan corak yang sama. Sang pembunuh disebut mengalami ‘kegilaan’, namun tetap diakui sebagai ‘pemikir ulung’. Femisida ini juga terus dijelaskan dari sisi kejiwaan sang pembunuh, sehingga mengalami depolitisasi dan berujung pada non-lieu, atau disudahinya proses hukum atas kasus tersebut (Dupuis-Déri, 2025).
Kematian Hélène juga seolah dilewati begitu saja tanpa pelurusan sejarah. Minimnya dokumentasi dan pengarsipan soal kesaksian korban, teman dan kerabatnya ‘membunuh’ Hélène untuk kedua kalinya. Alhasil, upaya pencarian kebenaran untuk Hélène hanya akan menemui jalan memutar yang kembali bersumber pada cerita dari sang pembunuh dan para pembelanya. Setiap narasi telah dengan sengaja menghilangkan analisis politis, feminisme, dan kelindannya pada keadilan gender.
Dalam otobiografinya (1985), Althusser Pembunuh menyampaikan pembelaan diri yang bertubi-tubi. Rangkaian “pembenaran” tersebut bahkan telah dipersiapkan sejak tiga tahun sebelumnya, 1982, yang dituliskan sang pembunuh tanpa rasa bersalah:
“Pembunuhan Hélène adalah ‘bunuh diri yang dibantu oleh perantara’, sebab perempuan itu pastilah mengatakan bahwa dia ingin mati, tetapi tidak mampu mengambil tindakan seorang diri. Aku mencekik istriku di tengah serangan kekacauan mental yang intens dan tidak dapat diprediksi, pada 16 November 1980, dia adalah segalanya bagiku, dia yang sangat mencintaiku sampai-sampai dia hanya ingin mati karena tidak mampu hidup, dan tidak diragukan lagi, aku dalam kekacauan dan ketidaksadaranku, ‘memberikan bantuan tersebut’, dia sama sekali tidak membela diri.”
Manasuka, publik ‘dibuat percaya’ dengan wacana yang justru memosisikan pelaku sebagai korban. Althusser Pembunuh juga mendaulat kasusnya sebagai ‘pembunuhan yang dilakukan dua orang’ lewat dalih menggenapi keinginan korban yang sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Sungguh klaim yang terlampau serampangan.
Institusi kampus, media massa, dan lingkaran pemikir lainnya dengan naif ikut mengabaikan prinsip berpihak pada korban. Mereka menampik fakta-fakta seperti keinginan Hélène yang semakin kuat untuk meninggalkan hubungannya menjelang ia dibunuh, karena akumulasi dari ketidakadilan yang terpaksa ia saksikan dan terima.
Sementara si pelaku, dalam pengakuannya, justru menempatkan femisida–yang tetap tidak ia akui–sebagai respons atas ketidakpastian, ketakutan, ketidakmampuan utnuk menguasai diri, serta diagnosis-diagnosis lain tentang ketidakberdayaan akibat derita psikis yang dialaminya.
Sepanjang sejarah, Hélène Legotien masih terus ‘dibunuh’. Keuntungan dari impunitas ini malah dimanfaatkan oleh Althusser Pembunuh untuk mendulang perlindungan dari solidaritas maskulin dan aparatus patriarkis di sekelilingnya.
Akibatnya, Hélène tidak hanya menjadi korban femisida. Ia juga mengalami epistemic erasure: ketika peran dan narasi korban dalam reproduksi pengetahuan selalu dipinggirkan, ditempatkan sebagai liyan–asing–lalu secara sistematis dihapuskan.
Padahal di sepanjang aktivismenya, Hélène Legotien telah menempuh jalan terjal untuk memerangi fasisme dan totalitarianisme, serta merawat jaringan aktivis dan serbaneka solidaritas bawah tanah. Namun, hingga hari ini, ia dan keluarganya tak kunjung mendapat hak-hak pemulihan sebagai korban.
Tidak banyak yang bisa mengangkat cerita ini. Informasi dan cerita tentang Hélène Legotien masih sangat sedikit—itu pun didapat dari celah janggal dalam wacana yang dibangun sang pembunuh. Kenyataan ini makin menguatkan bukti bahwa patriarki telah dan masih beroperasi begitu kuat sehingga bisa mengeksploitasi korban hingga ke akar-akarnya sekaligus terus memastikan dominasi narasinya.
Sementara itu, publik masih terus terjebak dalam pengabaian ketidakadilan: ketika mereka terus menerus mengutip pemikiran Althusser Pembunuh, mencetak ulang buku-bukunya, mengelola jurnal dan konferensi untuk menghargai kontribusi filsafatnya. Serta yang paling fatal: memisahkan tindakan femisida dari sesosok filsuf untuk menihilkan segala kelindan terhadap pemikirannya.
Pada sepuluh halaman terakhir, refleksi dan simpulan dari Francis Dupuis-Déri menebal dalam kepala saya lewat sepaket pertanyaan: bisakah kita memisahkan penulis (dan subjek lain) dari karyanya? Jika tidak, maka bagaimana baiknya dan adilnya untuk kita memosisikannya?
Pergumulan ini mula-mula saya bawa ke dalam diskusi kolektif bersama beberapa sejawat untuk mencari titik terang.
Rupanya, pengalaman serupa sempat mereka alami, seperti Namira Fathya yang memilih untuk memboikot Regina Spektor ketika mengetahui sang penyanyi adalah seorang zionis. Nami percaya bahwa the personal is political, yakni karya seseorang turut dibentuk oleh pandangannya sebagai subjek politis, sehingga tak terpisahkan.
Beresonansi dengan itu, Widyarsal berargumen bahwa karya sang kreator adalah miniatur hidupnya yang sekaligus memberi proyeksi soal dunia seperti apa yang dia usahakan. Menurutnya, tidak ada urgensi apapun juga untuk memberi keuntungan pada subjek yang bermasalah. Meski begitu, kesadaran untuk memboikot perlu dilatih, sebab kondisi “ngefans” dapat menyulitkan prosesnya, seperti yang sempat ia rasakan pada kasus Abbas Kiarostami.
Lantas, bagaimana dengan Althusser Pembunuh?
Bagi saya, pergumulan semacam ini telah sepenuhnya menampar pipi kiri. Sebab setahun belakangan, ketika hendak menulis seri esai tentang perburuan aktivis, oknumisasi, dan brutalitas aparat negara, pengetahuan yang otomatis muncul dalam kepala saya justru berasal dari referensi semasa kuliah, yakni pada tesis Ideology and Ideological State Apparatuses, buah pemikiran Althusser Pembunuh.
Kegelisahan ini mengantar saya untuk melacak alternatif teori lainnya, termasuk opsi dari turunannya yang lebih kritis. Dalam percakapan berikutnya bersama rekan sejawat Talitha, saya dipandu untuk memahami bahwa setiap turunan yang tetap bersandar pada pemikiran Althusser Pembunuh hanya akan melanggengkan kekerasan sistemik, bahkan ketika tujuannya ingin menggugat kebiasaan tersebut.
Sebab dalam pengertian demikian, Hélène Legotien dan jutaan korban anonim lainnya akan selalu dibunuh berkali-kali; oleh apa yang secara tragis disebut Althusser Pembunuh sebagai aparatus ideologis negara.
Seperti kompleksitas yang telah dijelaskan Francis Dupuis-Déri dalam bukunya: seluruh turunan pemikiran Althusser Pembunuh (lewat para murid, sekutu, dan filsuf yang membelanya) tidak lebih dan tidak kurang bakal mempertahankan status quo. Ketika sang hipokrit terus dimuliakan, sementara nasib korban makin terbengkalai dalam pembiaran ketidakadilan. Menurutnya, mengabaikan (bahkan memboikot) karya dan pemikiran orang-orang problematik toh tidak akan mengurangi pustaka pemikiran.
Semestinya, yang dibunuh ialah patriarki.
Althusser Pembunuh memang tidak punya minat soal keadilan dalam variasi gagasannya. Analisis ideologinya gagal memaknai—dan selalu menyangkal—bahwa sistem dan struktur kekuasaan selalu dijalankan oleh hegemoni patriarki yang meminggirkan interseksionalitas antara ras, gender, seksualitas, dan marginalitas.
Itu sebabnya, pemikiran Althusser Pembunuh tidak perlu lagi disembah, justru harus persisten dibongkar, untuk merombak praktik sehari-hari yang tampak biasa namun berakar pada patriarki.
Rehan Mujafar, pelaku penikaman pada korban berinisial FA, malah mendapat dukungan warganet—mayoritas dari laki-laki—setelah mengetahui kalau motifnya bersandar pada perasaan cemburu dan sakit hati setelah ditinggalkan korban. Pernyataannya justru membingkai pelaku sebagai “korban perasaan”. Sementara korban terus disudutkan oleh komentar warganet yang permisif terhadap upaya femisida. Persis seperti kasus Althusser Pembunuh.
Roby Tremonti, pelaku grooming terhadap korban berinisial AM, tetap mendapat banyak dukungan dari figur publik sehingga membuatnya leluasa untuk melakukan penyangkalan yang asal-asalan. Ruang publik kemudian menjadi gelanggang tempur yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk menggalang solidaritas kejantanan, seperti melancarkan viktimisasi, tuntutan pemulihan reputasi, hingga popularitas di media sosial lewat konten “that’s simple”. Persis seperti kasus Althusser Pembunuh.
Mohan Hazian, pelaku kekerasan seksual pada beberapa model perempuan, masih mendapat simpati dari publik penggemarnya setelah penyangkalan dalam klarifikasi; serta pemahaman yang mengacu pada preseden serupa kasus Gofar Hilman. Respons dari Thanksinsomnia dan USS sebagai brand afiliasinya juga turut membingkai kasus itu sebagai masalah personal; untuk kemudian mengabaikan fakta bahwa kekerasan seksual di lingkungan kerja terjadi akibat absennya ruang aman dan pengabaian kekerasan oleh lingkaran di sekitar pelaku. Lagi-lagi, persis seperti kasus Althusser Pembunuh.
Penting untuk diingat bahwa laku beracun dari patriarki tidak melulu muncul dalam bentuk kekerasan langsung. Ia dipupuk lebih dulu lewat kebiasaan, nilai, dan norma yang mewajarkan banalitas kejantanan serta stigmatisasi negatif pada perempuan, ragam gender, dan kelompok rentan lainnya.
Alih-alih ‘berorasi’ lebih panjang, esai ini hendak mengundang lebih banyak refleksi dan pengakuan. Seperti kenyataan bahwa dalam proses tumbuh-menjadi, saya pernah gagal membunuh patriarki lebih cepat, akibat berdiam diri dalam ketidaktahuan, termasuk ketika abai soal kata-kata, kelakar, hingga membiarkan relasi yang penuh ketimpangan.
Lewat perenungan atas pengalaman di relasi yang berbeda-berbeda, saya perlu mengaku bahwa dalam banyak situasi, sebagai laki-laki saya telah mendapat banyak keuntungan. Ketika hanyut dalam superior-dominan macam penakluk, diikuti dengan fleksibilitas untuk menunda atau lepas dari tanggung jawab emosional, sampai mewajarkan kebohongan dan manipulasi yang seakan tampak natural. Dan pada lingkup yang lebih luas, saya masih sering diberi ruang dan legitimasi untuk memimpin atau mengatur otoritas hanya karena saya diidentifikasi sebagai laki-laki.
Dalam beberapa pengalaman bekerja, banyak kolega perempuan mengingatkan bahwa identitas sebagai laki-laki telah memberi saya banyak keistimewaan yang tidak pernah ia dapatkan. Saya lebih sering didengar dan jarang ditegur, leluasa mengelola jam kerja tanpa kontribusi domestik dan kerja perawatan yang ketat, hingga kompetisi kesejahteraan yang lebih memihak pekerja laki-laki.
Dan itu semua bakal diperparah jika atasan, sekalipun bukan laki-laki, turut serta mendukung pelanggengan patriarki.Sementara itu, perempuan dipaksa untuk bekerja lebih keras agar bisa diterima, kontribusinya baru diakui ketika menembus urutan satu, bahkan seringnya baru dapat pengakuan ketika berhasil menyalip pencapaian pekerja laki-laki.
Padahal, dalam banyak situasi, kepentingan perempuan belum didukung dan dipenuhi oleh lingkungan-institusi kerja. Seperti—tetapi tidak terbatas pada—hak cuti ketika menstruasi, ruang aman untuk didengar dan bersuara, serta perlindungan dari kekerasan seksual, termasuk lewat ujaran, candaan, dan perlakuan yang seksis, misoginis, juga diskriminatif.
Upaya learn, unlearn, and relearn yang ditempuh memang tidak terbilang mudah, mengingat saya (barangkali juga kamu) tumbuh dalam keluarga yang patriarkis serta lingkungan pergaulan yang penuh kekerasan. Namun, tidak ada kata terlambat, sebab di sepanjang perjalanan itu, tidak semua ‘atribusi’ maskulin dapat saya terima dengan nyaman, seperti otoritatif, kompetitif, dan performatif.
Kesadaran yang dibangun bersama di lingkup pertemanan dan pekerjaan, pada prosesnya, juga berkontribusi memahamkan saya soal kerugian kolektif akibat patriarki. Patriarki makin menjauhkan keadilan dari kerja-kerja yang kami yakini dan kerjakan bersama kelompok rentan dan marginal.
Kepekaan tersebut kemudian dilatih lebih cekal bersama sejawat dan kolega yang bersedia menolong saya untuk bertransformasi lewat teguran, belajar mendengar dan membentuk ruang aman. Saya juga diajak untuk menelusuri apa saja kerugian yang saya terima dari patriarki: alienasi, tuntutan berlebih, proyeksi laki-laki ideal, hingga kelelahan batin yang konstan.
Refleksi dan pengakuan, dalam bentuk terbaiknya, bukan soal menekuni jargon yang tampak progresif. Tetapi, ini tentang lebih dulu melacak patologi patriarki dan residunya yang masih membelenggu; untuk kemudian meruntuhkannya bersama dengan melibatkan diri dalam perjuangan perempuan dan kelompok rentan. Termasuk melalui inisiatif untuk mendokumentasikan, menyuarakan, serta mengarsipkan cerita-cerita yang berpihak pada kesaksiannya.
Pada mulanya, untuk mengakhiri siklus kekerasan dan femisida, tiap-tiap subjek perlu menyudahi setiap jengkal patriarki dalam dirinya. Barangkali, cita-cita semacam itu yang patut diusung sebagai komitmen kolektif untuk melanjutkan perjuangan Hélène Legotien dan jutaan korban anonim lainnya.
Sebab kami tidak lupa. Dan kami tidak mengampuni.
Daftar Pustaka
Dupuis-Déri, F. (2025). Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan (Rio Johan, Penerjemah). Marjin Kiri.



ini yang terjadi di salihara, ngejagain nama baik si sitok padahal dia rapist kontol
sampai sekarang rasanya masih kesal kalau melihat one of their names yang disebutkan di atas masih eksis di media digital sampai detik ini:<