Beberapa hari terakhir, pasanganku hampir selalu menangis setiap ia pulang kerja.
Sesampainya di apartemen pada malam hari, kepalanya berdenyut sakit, perutnya kosong, matanya lelah, dan sialnya besok pagi ia masih harus bersiap kembali berdesakan di dalam gerbong Kereta Rel Listrik (KRL). Tangisannya tumpah sesenggukan saat ia susah payah melepas sepatu, lanyard, dan pakaian kerjanya.
Aku, yang sehari-hari bekerja remote dari laptop di sudut kamar atau coffee shop, menyiapkan nasi hangat lengkap dengan soto betawi kesukaannya sembari mendengarkan keluh kesah yang ia keluarkan.
Dalam hati, aku menaruh harapan jikalau upaya sederhana ini sanggup memulihkan sekeping kewarasannya yang sudah dikuras habis sepanjang hari.
Tidak banyak kata penenang yang berani kuucapkan untuknya. Kami berdua sadar betul bahwa ini adalah siklus yang akan kembali—cepat atau lambat. Jadi, alih-alih merapal kalimat “Sabar ya” yang hanya terdengar seperti omong kosong belaka, saat itu ruang makan kami justru dipenuhi oleh sumpah serapah.
“Atasan anjing,” umpat pasanganku saat bercerita tentang tumpukan pekerjaan tambahan yang ditimpakan persis pada pukul lima sore dan harus selesai hari itu juga. Padahal, kakinya sudah bersiap melangkah keluar dari kantor.
Aku mengangguk mengaminkan amarahnya dan turut bercerita kekesalan serupa tentang klien yang masih saja menuntut perbaikan sesegera mungkin di luar jam kerja, seolah-olah hidupku adalah layanan pelanggan dua puluh empat jam.
Malam itu, kami berdua pada akhirnya hanyalah dua manusia kelelahan yang merutuk keadaan. Sumpah serapah itu—yang mungkin terdengar kasar bagi telinga yang tidak terbiasa—adalah salah satu mekanisme pertahanan diri paling masuk akal yang masih kami miliki.
Aku percaya bahwa cerita-cerita yang bersemayam di ruang makan kami bukan hanya milik kami berdua. Kelelahan itu menemukan pelampiasannya juga di kemacetan nan jahanam Jalan Kopo Bandung setiap pagi, di antrean kasir Family Mart pada jam makan siang, atau di sesaknya gerbong KRL Green Line saat jam pulang.
Saban hari, sebagian dari kita membunyikan klakson berkali-kali hanya karena kendaraan di depannya terlambat melaju sedetik setelah lampu berubah hijau. Sebagian dari kita mendengus kesal dan menatap penuh benci pada seorang yang kebingungan memindai kartu keluar di gerbang stasiun. Sebagian dari kita mudah sekali menjadikan pekerja layanan sebagai samsak emosi.
Sekilas, sangat mudah untuk menuding bahwa kemarahan-kemarahan banal ini murni soal tabiat yang buruk atau hilangnya tata krama dalam masyarakat.
Anggapan semacam itu tentu benar karena tidak semua luapan emosi bisa dengan mudah diucapkan begitu saja. Setiap orang tetap memiliki agensi (kapasitas bertindak) untuk menjaga cara mereka memperlakukan orang lain, terlebih mereka yang sama-sama sedang bertahan menjalani hari.
Kendati demikian, memahami akar sistemik dari persoalan ini juga sama pentingnya untuk dibicarakan secara serius. Sebab rasanya terlalu naif jika kita melihatnya hanya dalam kacamata persoalan moralitas individu saja.
Jika kita telisik saksama, maka kita akan menemukan benturan kontinu antara keterbatasan eksistensi manusia dan ekspektasi sistem yang hari ini menuntut kecepatan dan efisiensi di hampir seluruh lini kehidupan.
Sebelum seperti sekarang, sebenarnya pernah ada masa ketika kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia belum sepenuhnya diatur oleh logika ekonomi kapitalisme yang telah begitu mengakar hingga terasa alamiah dalam cara kita memandang waktu.
Dalam banyak masyarakat praindustri, aktivitas seperti membuat kerajinan, memasak, bertani, atau membangun dilakukan sebagai bagian dari kehidupan. Pekerjaan belum sepenuhnya dipisahkan dari keseharian manusia dan tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas untuk memenuhi tuntutan pasar.
Sebab sebagai manusia, bekerja pada dasarnya lahir dari dorongan untuk mencipta, bereksperimen, dan memberi bentuk pada pengalaman hidup.
Bahkan cara manusia beristirahat dahulu tidak selalu mengikuti pola “tidur 8 jam penuh di malam hari” seperti yang sekarang dianggap normal. Orang bisa tidur lebih awal setelah gelap, terbangun di tengah malam untuk beribadah, menjaga hewan, atau menyiapkan pekerjaan esok hari lalu kembali tidur saat subuh.
Perubahan radikal terjadi seiring dengan meletusnya Revolusi Industri yang mulai menstandarkan waktu kerja dan produktivitas secara global. Aktivitas dipecah menjadi fungsi-fungsi yang sempit, diukur lewat waktu dan target, lalu diulang secara terus-menerus demi efisiensi produksi.
Bahkan hari ini, gagasan seperti work-life balance sering kali tetap berangkat dari asumsi bahwa manusia perlu “mengelola diri” agar tetap mampu bekerja secara optimal. Istirahat, olahraga, sampai hobi dipromosikan bukan karena manusia memang membutuhkan hidup yang utuh, tetapi karena tubuh dan pikiran yang terlalu lelah dianggap bisa menurunkan performa kerja.
Perkembangan teknologi, transportasi, informasi, dan komunikasi yang dicanangkan untuk mempermudah hidup ironisnya justru membuat kita terus merasa semakin kekurangan waktu. Alih-alih menghadirkan kelonggaran, percepatan itu menciptakan tekanan agar kita terus menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang semakin cepat.
Akibatnya, kita terbiasa melihat waktunya sebagai sumber daya kapital yang harus dioptimisasi agar selalu “berguna”. Hari demi hari. Jam demi jam. Menit demi menit. Detik demi detik. Kita senantiasa menghitung dan memberi bobot rating pada segala hal.
Kecepatan berubah menjadi standar kenyamanan bare minimum dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran jika sekarang layanan serbainstan dan kemudahan-kemudahan digital pun semakin berjamuran di mana-mana. Memesan makanan hanya butuh beberapa klik, mencari pasangan atau teman cukup lewat swipe, bahkan menyelesaikan tugas pun sering kali tinggal “ChatGPT aja” atau “Claude aja”.
Masalahnya, dunia yang kita tinggali tetaplah dunia yang penuh friksi. Ia diwarnai oleh dinamika-dinamika alami yang berantakan dan di satu sisi juga tidak sempurna. Sayangnya, karena otak kita sudah telanjur diprogram untuk memuja kecepatan dan efisiensi mutlak, rintangan-rintangan manusiawi tidak lagi kita lihat sebagai bagian dari hidup bersosial.
Kita menjadi sulit menerima bahwa manusia bisa lelah, bingung, lambat, atau membuat kesalahan kecil karena ekspektasi serba instan membuat kita cepat merasa pantas atas hasil yang sempurna. Kita pun semakin berjarak dari apa yang namanya proses—dari pengalaman ketubuhan itu sendiri.
Empati membutuhkan waktu. Begitu pula memahami orang lain. Sementara dalam kehidupan modern, waktu adalah komoditas—time is money, they said. Kita menaruh ekspektasi setinggi langit, tanpa melihat siapa yang hidup di bawahnya.
Dalam konteks ini, sistem kapitalisme telah berhasil menanamkan ketakutan kolektif yang mengerikan: jika kita berhenti atau jika kita melambat sedikit, maka kita adalah pihak yang bersalah. Kita adalah manusia gagal yang pantas tertinggal zaman.
Ada sesuatu yang sinting dari sistem yang menganggap manusia harus selalu siap sedia setiap waktu. Dan yang paling menyedihkan adalah bagaimana manusia saling mengisolasi dan mengawasi satu sama lain. Kita diajarkan untuk curiga pada orang yang dianggap tidak cukup “berjuang”.
Banyak persoalan sosial hari ini pun akhirnya dipandang semata-mata sebagai kegagalan individu. Orang burnout dianggap tidak pandai mengatur waktu. Mereka yang menganggur dicap klemar-klemer.
Padahal kemampuan seseorang untuk bergerak produktif dan stabil sangat dipengaruhi oleh kelas sosial, kondisi mental, gender, disabilitas, sampai akses mereka terhadap pendidikan. Namun, logika kapitalisme cenderung meratakan semua pengalaman manusia ke dalam ukuran performa yang homogen.
Alienasi ini pada gilirannya menciptakan sebuah tragedi yang amat menguntungkan tatanan sistem itu sendiri. Ketika kita saling menumpahkan amarah kepada sesama kelas pekerja yang juga sedang berdarah-darah mempertahankan kewarasannya, orang-orang yang diuntungkan dari sistem justru duduk manis tanpa tersentuh.
Kita diadu domba dengan sisa-sisa tenaga kita sendiri; melepaskan keputusasaan pada orang lain di ruang publik sekadar untuk merengkuh kembali secuil ilusi bahwa kita masih memiliki kendali atas hidup.
Seorang kawan pernah berkata padaku bahwa “The personal is political ‘yang personal adalah politis’”. Kalimat itu tiba-tiba berdenging kembali di kepalaku saat menulis esai ini. Dulu, sama seperti kebanyakan orang, aku telanjur dikondisikan untuk percaya bahwa stres sepulang kerja atau sumpah serapah yang kerap meletup-letup saat sendirian atau bersama orang-orang terdekat hanyalah persoalan privat semata.
Aku sering kali mengira keputusasaan semacam itu hanya karena kegagalan personalku dalam mengelola emosi atau membagi waktu.
Kini aku menyadari, keputusasaan yang mengendap di ruang-ruang paling intim itu sejatinya bukanlah murni milik kita. Ia juga bagian dari rembesan langsung tatanan ekonomi kapitalisme yang memang didesain untuk tak kenal ampun.
Ia disokong oleh inkompetensi pemerintah yang abai menyediakan jaring pengaman dan membiarkan warganya saling sikut di infrastruktur yang menyiksa; ia dilanggengkan oleh kolonialitas yang masih memosisikan kita di belahan Dunia Selatan ini sekadar sebagai tenaga kerja murah bagi industri global; dan ia dipertahankan oleh patriarki yang menuntut kita untuk terus mereproduksi pembagian peran sosial secara timpang.
Menyadari realitas yang mengurung kita ini adalah langkah pertama. Selanjutnya, kita harus berani membayangkan sebuah alternatif masa depan di mana nilai seorang manusia tidak lagi diukur dari seberapa efisien ia melayani pasar dan di mana kesejahteraan bukan lagi privilese bagi segelintir orang.
Aku paham betul bahwa tidak semua orang punya kapasitas untuk melakukannya ketika sistem yang membelenggu ini justru terus memaksa kita bertahan hidup dari hari ke hari. Namun setidaknya, dengan menyadari bahwa banyak kelelahan dan kecemasan yang kita alami bersifat sistemik, kita bisa lebih berempati—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Di tengah raungan zaman yang terus mendikte kita agar bergerak secepat mesin, kemampuan untuk duduk berhadapan dan beresonansi di frekuensi yang sama adalah sebuah kemenangan kecil.
Kesediaan untuk tetap saling menjangkau di tengah kelelahan kolektif itu pula membuktikan satu hal penting: sejauh apa pun sistem kapitalisme berkelindan memeras habis tenaga manusia, nyantanya kita masih mampu memahami pentingnya keterhubungan sosial, menumbuhkan keberanian politik, membangun solidaritas, dan menghidupkan kemungkinan akan kehidupan yang lebih setara.
Bacaan lebih lanjut
Han, B. C. (2015). The Burnout Society. Stanford University Press.
Rosa, H. (2013). Social Acceleration: A New Theory of Modernity. Columbia University Press.
Heberle, R. (2015). The Personal Is Political. Dalam Disch, L. & Hawkesworth, M. (ed). The Oxford Handbook of Feminist Theory (593–609). Oxford University Press.
Thompson, E. P. (1967). Time, Work-Discipline, and Industrial Capitalism. Past & Present, 38(1), 56–97.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Tentang tren baddie yang maknanya sekarang disabotase di sini.
Tentang ilusi Mencari Pekerjaan yang Sempurna di sini.
Tentang pelanggengan kekerasan dan patriarki di sini.



Iya. Kelelahan yang kita rasakan karena semua ini bergulir begitu cepat. Kapitalisme tidak hanya mereproduksi modal dalam siklus tanpa akhir, tapi juga memproduksi teknologi yang mendorong siklus itu untuk ber-akselarasi, semakin cepat, semakin tanpa jeda, tapi entah mau ke mana. Kita yang berada di dalamnya, mau tidak mau, harus mengikutinya ritmenya. Dan di tengah kecepatan tanpa tujuan itu, kita juga merasa semakin kehilangan makna.
Terimakasih, tulisan yang bagus, setidaknya saya bisa memetakan diri di kehidupan yg lebam telak, maju nabrak, mundur di hakimi massa ini.