Berarti kalo Sherlock berjam-jam mecahin kasus, kadang ga dibayar kliennya, hanya karena dia cinta dunia detektif, apakah artinya kerjaan Sherlock adalah akal-akalan kapitalis?
Kalau misalnya Ahmad Dhani passionnya musik, ngarang lagu, bikin aransemen, dan karya-karya itu menembus jaman, apakah kerja keras Ahmad Dhani adalah akal-akalan kapitalis?
Tulisan ini panjang, tapi tanpa data, dan menggeneralisasi bahwa semua pekerjaan itu adalah akal-akalan kapitalis, sementara ada orang-orang yang memang bekerja karena kecintaan terhadap bidang tersebut.
Yang saya setujui dari tulisan ini hanya pemberian gaji yang layak. Selebihnya, tulisan ini menganggap para pemberi kerja dan mereka yang bekerja atas nama passion sebagai orang-orang jahat
Kalau misal demikian, Ahmad Dhani nggak jdi DPR kak hahaha. Not to mention Ahmad Dhani juga memperjuangkan hak nya supaya lagu itu punya hak cipta dan konser terus. Itu dibayar lho. Dan dia bisa berada di status ‘enjoy’ krn secara fundamental dia sudah cukup (misal udh ada duit untuk menyekolahkan anak dsb). Sedangkan kebanyakan dr kita tidak seperti itu.
Sherlock Holmes kalau ga punya rumah dan tinggal di slum area gak bakal gitu juga sih
Saya rasa reply ini tidak membantah komen diatas, justru menegaskan bahwa bekerja dengan passionate itu ada jika kelas dihapuskan dan semua orang mendapatkan kecukupan yang sama untuk menjadi passionate, fakta menjadi passionate tidak serta merta hilang hanya tidak dimiliki semua orang
Hemm sudut pandang yang menarik. Sebenarnya bekerja sesuai passion itu ideal dan bukan berarti kita diakalin kapitalis kok. Tapi tulisan ini ada benarnya juga. Intinya kita bicara bagaimana memastikan hak-hak sebagai pekerja tetap terlindungi tanpa harus mengorbankan diri demi romantisasi pekerjaan sesuai passion itu.
hi kak! terima kasih tulisannya. aku baru saja selesai baca tulisannya. Tapi, aku menangkap sisi burn out kecil dan juga perlawanan dari tiap-tiap paragraf yang ada, hope u rest enough. jujur, aku belum sepenuhnya setuju di beberapa bagian, termasuk pada judulnya. aku sangat setuju bahwa manusia bukan mesin, dan sistem sering kali memperlakukan pekerja hanya sebagai alat produksi. itu nyata sekali.
tapi dari sudut pandangku yang kecil ini, bekerja sesuai passion justru terasa seperti bentuk kebebasan dan pemberdayaan. dalam pengalamanku, sistem yang ada malah sering memaksa orang untuk bekerja apa saja asal digaji, tanpa peduli minat, jurusan, atau panggilan hidupnya. jadi ketika seseorang bisa bekerja sesuai passion, bagiku itu seperti merebut sedikit ruang otonomi dari sistem yang menekan.
memang, tidak semua pekerjaan harus berorientasi profit. dan benar, kapitalisme sering kali menjadi dalang ketimpangan. tapi mungkin persoalannya bukan pada passion-nya, melainkan pada sistem kerja yang eksploitatif.
di zaman sekarang, bisa bekerja saja sudah terasa seperti berkah. bekerja sesuai passion bahkan terasa seperti kemewahan. mungkin di situlah kompleksitasnya.
terima kasih sudah membuka ruang diskusi lewat tulisan ini 🙏🏻
I disagree with this. To illustrate, contoh sempurna dari masyarakat kapitalis itu ada di Amerika Serikat. Sebagian besar “working class” di sana harus kerja dua pekerjaan hanya sekadar untuk bertahan hidup. Banyak yang hidup dari paycheck ke paycheck dari pekerjaan yang hanya cukup buat menyambung hidup. Mereka nggak punya ruang untuk memikirkan “ikigai” mereka, karena kerja ya cuma buat cari uang.
Passion memang yang membuat pekerjaan terasa berarti. Sebelum kapitalisme meronta-ronta dijaman sekarang, setiap orang tetap harus bekerja, tetap harus memberi sesuatu pada masyarakat. Bekerja di bidang yang kita sukai itu sebenarnya sebuah privilege. Kalau kemudian kita burnout karena melakukan apa yang kita cintai, it is such a fair trade off. Nothing is perfect, this isnt a dream land. It is still so mich better dari orang yang terpaksa kerja di restoran, pom bensin, ritel, ngejar dua shift sehari, cuman karna mereka ngga mampu ngenar mimpi, atau bahkan ngga pernah punya ruang untuk mikir passionnya mereka sebenernya apa.
Konsep "kerja sesuai passion" ini yang saya ketahui dan dari pengalaman saya juga itu maksudnya kita mengerjakan apa yang kita suka tapi secara kebetulan kita juga dibayar. Bahkan konteks "passion" ini bisa pada aspek yang sangat spesifik, misal ngerakit Gundam, ngelukis sepatu, bahkan mural yang masih banyak orang yang menyamakan kesenian tersebut sebagai vandalisme.
Selama itu ada transaksi jual-beli maka itu sistem kapitalistik. Yang kita jual sebagai pekerja adalah jasa dari kegiatan yang "kita sukai." Yang membeli/membayar jasa kita ya siapapun yang membutuhkan jasa itu.
Kontrol kita sebagai pekerja atau insan yang menghasilkan suatu karya ini adalah dari bagaimana kita memberi harga yang layak sebagai bentuk menghargai usaha dan karya yang tidak hanya kita hasilkan, tapi sudah kita dedikasikan untuk bisa menghasilkan karya tersebut.
Maka dari itu saya gak sepakat dengan konsep "kerja keras" saya lebih mengamini konsep "kerja wajar." Jadi jangan tunduk atas ketidak wajaran atas nama "kerja keras."
Setuju banget. Mengerjakan apa yang kita suka, tapi secara kebetulan dibayar sepantasnya👍🏻 passion atau "gairah" yang dimaksud itu kan dalam hidup, bukan dalam karir. Selama kita melakukan untuk diri sendiri, sebagai bentuk life purpose yang "mengutuhkan" jiwa, kerja sesuai passion itu sebenarnya merupakan previlege
izin kak/bang, nyimpulin ( kalo salah boleh di koreksi hehehe )
jadi dari yg kubaca penulis mencoba memberikan pandangannya dimana bahwasanya tidak manusiawi jika manusia di mesinkan dengan beban alasan seharusnya mereka bersyukur bekerja sesuai passion, yg diharapkan adalah pekerjaan itu dilakukan utk kehidupan yg sempurna dan nyaman. Kenyataannya tidak nyaman sama sekali, bekerja tidak sesuai atau sesuai passion pada akhirnya akan di suruh utk bekerja/dimesinkan dan itu tidak manusiawi sama sekali, karna manusia tidak mempunyai daya energi yg cukup untuk menjadi pekerja 24 jam.
_____________________
jujur ini substack paling wow dan menarik yg pernah kubaca, dan aku baca ini dengan ukiran wajah yg murung dan penuh empati, benar sulit sulit sekali membayangkan dunia tanpa bekerja, karna bekerja memang membuahkan hasil dan memberi tujuan, tapi jika di eskploitasi menjadi hal yg kejam membuat kita kelelahan hinnga mati.
tapi kak/bang aku juga sempat mikir ini kan lingkungan kerjanya yg kejam, kalo nih kak kita yg menjadi pemilik tempat dan kita membuat istirahat dan tuntutan menjadi hal yg less cruel, apa kita berhasil memberi perubahan dalam sistem?
Tidak semua orang yang mencintai pekerjaannya berada dalam relasi eksploitatif. Masalahnya bukan pada passion itu sendiri, tapi pada kondisi kerja yang tidak adil di mana passion dipakai sebagai senjata untuk menekan tuntutan pekerja.
Yang menjadi probem selanjutnya, bagaimana kita membangun kondisi kerja di mana orang bisa mencintai pekerjaannya tanpa harus menukarnya dengan kesehatan dan martabat.
Lumayan membuka sudut pandang baru yaa kak. Cuman menurutku, kadang kalo kita selalu menganggap segala pekerjaan yang too much itu sebagai akal-akalan kapitalisme, rasanya gak masuk aja. Karena balik lagi, subjektif setiap orang pasti punya pace dan tempo sendiri untuk ngurusin pekerjaannya (orang yang passion bgt, bisa habisin waktu berjam-jam dan dia tetep enjoy), karena bekerja di suatu hal yang kita cintai, meskipun burnout, rasanya selalu ada alasan buat balik lagi bekerja. Jadi gabisa menyalahkan kondisi orang tersebut dan framing kalo orang yang lembur dan kerja terus itu orang yang menderita.
Cuman, aku tetep setuju sih mengenai pembahasan tentang bayaran yang gak sesuai. Dimana, ini menjadi dilema di masa sekarang. Ketika pekerjaan justru lebih banyak dibutuhkan oleh orang, sumber daya pekerja jadi melimpah dan kondisi ini kadang dimanfaatkan perusahaan untuk ngepush orang agar kerja gila-gilaan tapi gak sesuai bayarannya, dengan dalih dia bisa digantikan kapan saja. Nah ini keadaan paling ngeri dari kapitalisme ketika lapangan kerja kelebihan supply dengan skill yang bisa dibilang belum terlalu dihargai di pasar.
Judul yang provokatif dan saya menghargai provokasinya, hahaha. Saya paham, dan cenderung setuju, bahwa dorongan "bekerja sesuai passion" adalah, ya, dorongan untuk terus bekerja. Mungkin beberapa menafsirkan frasa "akal-akalan kapitalis" sebagai sesuatu yang seakan merupakan hasil rapat elit-elit tajir yang membahas "bagaimana yaacchhh mendorong kelas pekerja supaya lebih rajin uwu."
Saya melihatnya sebagai salah satu simptom sistem yang mendorong kerja terus-menerus - di sini kebetulan sistem kapitalis, karena yang tidak punya kapital dan alat produksi ya harus kerja terus (ini ditulis supaya kata ini tidak diartikan melipir ke mana-mana), serta budaya yang secara mendasar mengasumsikan bahwa kerja, bagaimanapun, pasti mulia. Maka, seperti yang ditulis di artikel, simptom ini menyebabkan kalau ada yang burnout, seakan karena "kurang beriman" sama pekerjannya, haha.
Wah, kebetulan aku juga sedang kepikiran hal ini. Distorsi yang ada seakan membuat kerja dengan passion di abad ini terasa seperti penipuan. Melihat orang-orang di sekitarku yang sudah bekerja membuatku sadar bahwa, baik bekerja dengan passion maupun tidak, jika kita menjalaninya tidak enjoy dan selalu dalam kondisi overworked, semuanya tetap menciptakan ruang hampa.
Dan sebetulnya, memang kapitalisme yang kejam punya andil besar dalam hal ini. Meski begitu, aku tetap menganggap bekerja dengan passion sebagai salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada fitrah manusia untuk menciptakan karya-karya luar biasa.
Jadi, kurasa semuanya kembali lagi pada work life di tempat kita bekerja kali ya? Jika lingkungan kerja tersebut sehat, meskipun burnout tetap mungkin terjadi, setidaknya kita masih akan kembali ke jalur itu walau harus pindah tempat kerja. Bahkan ketika seseorang harus banting setir sekalipun, selama ia masih mampu memaknai hidupnya, menurutku mereka termasuk orang-orang yang beruntung.
menurutku artikel ini agak terlalu sering ngelempar semua masalah ke kapitalisme. burnout, hubungan atasan-bawahan yang toksik, budaya kerja yang bikin capek, itu memang bisa diperparah sama sistem yang ngejar profit. tapi fenomena kayak gitu juga muncul di banyak konteks sosial, budaya, bahkan sistem ekonomi yang berbeda.
jadinya pas semua hal ditarik ke satu penyebab yang sama, analisisnya terasa agak nyederhanain masalah. kata "kapitalisme" di sini kadang berasa lebih kayak buzzword.
tapi esainya tetap kuat dan emosional. pengalaman yang diceritain juga relatable. terima kasih telah menulis ini!
Saya setuju dengan argument kakak yang bilang bahwa kita sebagai pekerja mengangap istirht adalah sebuah hak bukan reward yang diberikan perusahaan setelah kita bekerja keras,juga di bagian aspek yang kakak bilang bahwa konsep filosofi "ikigai" dari jepang itu di exploitasi oleh barat yang di mana harusny Filosofi asliny lebih mengedepankan fokus pada kebahagiaan hidup sederhana bukan formula untuk kerja di dunia korporat yang sempurna tapi kak menggeneralisasikan bahwa pekerjaan sempurna ialah pekerjaan yang mendapatkan gaji layak saya setuju emang kewajiban harusny dan mendapatkan istrhat sebgai hak juga setuju bnget karna kita bukan robot atau mesin kita manusia desain manusia itu sendiri gk bisa hidup tanpa emosi karna default kita lahir kita mengolah dua konsep logika dan emosi kita gk bisa memakai salah satunya disini saya gk membelah yah mendukung tekanan yang berasal dari toxic seperti exploitasi tapi saya lebih menekankan bahwa saya mendukung tekanan yang sifatnya profesional dan inovatif, memiliki kehidupan di luar kantor keluar dari komputer,wa kantor itu terlalu naif gk sih kak karna realitany tanpa ad tekanan dari segala arah kita sebagai manusia stuck trus kenapa contoh kalau kita melihat sejarah orng tinghoa atau China bayangkan mereka sebenerny itu di jamanny udah maju bnget contoh di abad kedua sebelum Masehi yah china udah punya kertas kak tapi di barat kertas ad pada saat di abad 11 sampai 12 masehi,dan bukan contoh kertas aj kak komps ,mesin cetak, bubuk mesiu juga tapi yang jadi pertanyaan kenapa mereka stuck trus jawabannya mneurut saya simpel karna stabilitas mereka,lah kok stabilitas jawabnny karna gini kak maksud konsep tekanan tadi manusia tanpa ad tekanan bakalan stuck trus karna ia merasa "ah ngapain capek capek menciptakan inovasi baru to gk ad tekanan dari siapa siapa santai dulu gk sih" nah mindset ini akhirny yang menjadi senjata makan tuan dari kenyamanan kak,contoh dari tekanan membawa inovasi baru kak kita sendiri tau yah kak bahwa mendirikan sebuah perusahaan di amerik susahny minta ampun kak kalau kita gk bisa efisiensi dalam mengelola perusahaan trus di bawah tekanan dari kompetitor lain jelas Perusahaan kita bakalan bangkrut kan tapi ironi terbesarny dari tekanan dan efisiensi ini lahirlah perusahaan besar kak seperti Microsoft, gogel hingga Tesla nah dampakny ap kak ? Kita sebagai konsumennya di beri teknologi yang jauh lebih tinggi dari zaman sebelumnya,nah makany saya kurang setuju dengan argumen kakak yang bilang pekerjaan harus tanpa Tekanan ini saya kutip di bagian "Tidak ada yang bilang kalau pada akhirnya, saya akan merasa burnout melakukan hal yang saya sangat sukai" Krn tanpa tekanan manusia gk akan maju sesimpel itu itu emang paradoks terbesar manusia kak,juga di bagian kakak bilang "Maka dari itu, mungkinkah kita menjadikan istirahat sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme? Mungkin akan terasa sulit, namun jika dilakukan secara kolektif, bukan tidak mungkin kita mengubah sistemnya perlahan-lahan" nah maksud kakak kan mengubah systemny walauapun perlahn,tapi kakak ny ad gk pengganti system dari kapitalis ini menurut saya kalau tidak ad ini terlalu naif kak kenapa ? Karna struktur sosial tanpa ad pengganti bakalan membuat sebuah kolektif bakalan collaps, contoh revolusi Prancis kak kita lihat di masa itu sebuah kolektif meruntuhkan system feodalisme Karn ketidakadilan tapi ujungny ap kak ? Jelas collpas bnget kak kekacauan ekonomi, pembunuhan massal emang terdengar kata katany idealisme yah meruntuhkan system tapi ketika sebuah system tidak ad pengganti dari sytem itu sendiri malahan kak membuat penderitan sebuah kolektif jauh lebih meyakitkan dan ironiny kak kdang kita terlalu meromantasikan idealis pengganti system kak Karn kalau kita sejarah kah contoh keruntuhan kekaisaran Romawi,runtuhny penguasa absolute Stalin manusia besi dan revolusi Prancis selalu akhirny ad pengorbanan kak nyawa sebua kolektif emang kita tega mengorbankan mereka di mana sisi moral kita sebagai manusia Hanya krna keegoisan kita itu Sama aj kita dengan penguasa kapitalis kan mengorbankan seseorng demi keuntungan kita jadi gk ad bedany kak,saya bukan anti perubahan tapi saya anti kekacauan sebelum mengubah system kita harus mendesain dulu untuk meminimalisir kemungkinan dari kerusakan yang kita hancurkan di system itu kalau kita gk mikir meminimalisir itu terlalu naif saya bilang
haii kak thankuu for sharing your opinion on this whole work for passion topic. Izin share opini ku sebagai pekerja yg bekerja tidak sesuai passion yaa kak ^^
Kalau dari aku konsep “ikigai” cukup membantu sih kak karena di kerjaan ku yang sekarang aku merasa sangat amat tidak cocok mulai dari passion, job desc, beserta lingkungan. Sehingga aku tidak well perform considering im not in the environment im not supposed to be. Jadi konsep ikigai cukup membantu ku untuk memahami, kira kira pekerjaan seperti apa yaa yang dapat membuat ku berambisi dalam hidup dan dapat memberi manfaat yang cukup untuk lingkungan sekitar.
jadi bekerja sesuai passion menurutku malah membantu orang-orang untuk terus merasa “hidup” dalam pekerjaannya.
senang sekali bertemu tulisan ini, dan seperti sedang melihat sisi lain dari bekerja sesuai passion. betul adanya, ketika bekerja sesuai passion seperti bisa membenci hal yang kita sukai karena tekanan.
namun, bekerja dengan passion vs tidak passion bukannya justru akan meningkatkan burnout? orang yang bekerja dengan passion, yang secara nalurinya dia memang senang di bidang tersebut, akan banyak hal yang dia akali untuk "perform" dan menurutku ini bukan hanya akal-akalan kapitalis, namun berdampak pada diri sendiri contohnya seperti kepuasan bekerja. Bagiku, puas ketika bekerja bukan hanya uang yang masuk ke rekening tiap bulan >< (meskipun itu pasti), tapi bagian lain adalah puas ketika kita bisa belajar bertumbuh dari apa yang kita kerjakan, kita bisa happy ketika melakukan pekerjaan dengan sempurna dan mungkin efisien.
karena bekerja dengan passion, tentu bisa jadi jauh lebih efisien bukan untuk perusahaan aja, menurutku juga untuk diri sendiri. efisien dari segi waktu - kita bisa lebih singkat mempelajarinya, kita bisa lebih singkat mengerjakannya. dan waktu yang efisien bisa memberi kita ruang untuk mengerjakan beberapa hal lain.
tapi aku pun masih dalam proses mencari "kepuasan" itu dalam bekerja. jadi, semoga kita semua yang sedang berjuang sampai saat ini terus menemukan makna dan sudut pandang dari kacamata lain, yang membuat pekerjaan bisa bagian dari hidup bukan keseluruhan dari hidup.
thank youuuu ka sudah tulis dan membuka ruang berdiskusiii.
Berarti kalo Sherlock berjam-jam mecahin kasus, kadang ga dibayar kliennya, hanya karena dia cinta dunia detektif, apakah artinya kerjaan Sherlock adalah akal-akalan kapitalis?
Kalau misalnya Ahmad Dhani passionnya musik, ngarang lagu, bikin aransemen, dan karya-karya itu menembus jaman, apakah kerja keras Ahmad Dhani adalah akal-akalan kapitalis?
Tulisan ini panjang, tapi tanpa data, dan menggeneralisasi bahwa semua pekerjaan itu adalah akal-akalan kapitalis, sementara ada orang-orang yang memang bekerja karena kecintaan terhadap bidang tersebut.
Yang saya setujui dari tulisan ini hanya pemberian gaji yang layak. Selebihnya, tulisan ini menganggap para pemberi kerja dan mereka yang bekerja atas nama passion sebagai orang-orang jahat
Kalau misal demikian, Ahmad Dhani nggak jdi DPR kak hahaha. Not to mention Ahmad Dhani juga memperjuangkan hak nya supaya lagu itu punya hak cipta dan konser terus. Itu dibayar lho. Dan dia bisa berada di status ‘enjoy’ krn secara fundamental dia sudah cukup (misal udh ada duit untuk menyekolahkan anak dsb). Sedangkan kebanyakan dr kita tidak seperti itu.
Sherlock Holmes kalau ga punya rumah dan tinggal di slum area gak bakal gitu juga sih
Saya rasa reply ini tidak membantah komen diatas, justru menegaskan bahwa bekerja dengan passionate itu ada jika kelas dihapuskan dan semua orang mendapatkan kecukupan yang sama untuk menjadi passionate, fakta menjadi passionate tidak serta merta hilang hanya tidak dimiliki semua orang
Hemm sudut pandang yang menarik. Sebenarnya bekerja sesuai passion itu ideal dan bukan berarti kita diakalin kapitalis kok. Tapi tulisan ini ada benarnya juga. Intinya kita bicara bagaimana memastikan hak-hak sebagai pekerja tetap terlindungi tanpa harus mengorbankan diri demi romantisasi pekerjaan sesuai passion itu.
hi kak! terima kasih tulisannya. aku baru saja selesai baca tulisannya. Tapi, aku menangkap sisi burn out kecil dan juga perlawanan dari tiap-tiap paragraf yang ada, hope u rest enough. jujur, aku belum sepenuhnya setuju di beberapa bagian, termasuk pada judulnya. aku sangat setuju bahwa manusia bukan mesin, dan sistem sering kali memperlakukan pekerja hanya sebagai alat produksi. itu nyata sekali.
tapi dari sudut pandangku yang kecil ini, bekerja sesuai passion justru terasa seperti bentuk kebebasan dan pemberdayaan. dalam pengalamanku, sistem yang ada malah sering memaksa orang untuk bekerja apa saja asal digaji, tanpa peduli minat, jurusan, atau panggilan hidupnya. jadi ketika seseorang bisa bekerja sesuai passion, bagiku itu seperti merebut sedikit ruang otonomi dari sistem yang menekan.
memang, tidak semua pekerjaan harus berorientasi profit. dan benar, kapitalisme sering kali menjadi dalang ketimpangan. tapi mungkin persoalannya bukan pada passion-nya, melainkan pada sistem kerja yang eksploitatif.
di zaman sekarang, bisa bekerja saja sudah terasa seperti berkah. bekerja sesuai passion bahkan terasa seperti kemewahan. mungkin di situlah kompleksitasnya.
terima kasih sudah membuka ruang diskusi lewat tulisan ini 🙏🏻
I disagree with this. To illustrate, contoh sempurna dari masyarakat kapitalis itu ada di Amerika Serikat. Sebagian besar “working class” di sana harus kerja dua pekerjaan hanya sekadar untuk bertahan hidup. Banyak yang hidup dari paycheck ke paycheck dari pekerjaan yang hanya cukup buat menyambung hidup. Mereka nggak punya ruang untuk memikirkan “ikigai” mereka, karena kerja ya cuma buat cari uang.
Passion memang yang membuat pekerjaan terasa berarti. Sebelum kapitalisme meronta-ronta dijaman sekarang, setiap orang tetap harus bekerja, tetap harus memberi sesuatu pada masyarakat. Bekerja di bidang yang kita sukai itu sebenarnya sebuah privilege. Kalau kemudian kita burnout karena melakukan apa yang kita cintai, it is such a fair trade off. Nothing is perfect, this isnt a dream land. It is still so mich better dari orang yang terpaksa kerja di restoran, pom bensin, ritel, ngejar dua shift sehari, cuman karna mereka ngga mampu ngenar mimpi, atau bahkan ngga pernah punya ruang untuk mikir passionnya mereka sebenernya apa.
Konsep "kerja sesuai passion" ini yang saya ketahui dan dari pengalaman saya juga itu maksudnya kita mengerjakan apa yang kita suka tapi secara kebetulan kita juga dibayar. Bahkan konteks "passion" ini bisa pada aspek yang sangat spesifik, misal ngerakit Gundam, ngelukis sepatu, bahkan mural yang masih banyak orang yang menyamakan kesenian tersebut sebagai vandalisme.
Selama itu ada transaksi jual-beli maka itu sistem kapitalistik. Yang kita jual sebagai pekerja adalah jasa dari kegiatan yang "kita sukai." Yang membeli/membayar jasa kita ya siapapun yang membutuhkan jasa itu.
Kontrol kita sebagai pekerja atau insan yang menghasilkan suatu karya ini adalah dari bagaimana kita memberi harga yang layak sebagai bentuk menghargai usaha dan karya yang tidak hanya kita hasilkan, tapi sudah kita dedikasikan untuk bisa menghasilkan karya tersebut.
Maka dari itu saya gak sepakat dengan konsep "kerja keras" saya lebih mengamini konsep "kerja wajar." Jadi jangan tunduk atas ketidak wajaran atas nama "kerja keras."
Terimakasih penulis sudah menulis tulisan ini
Setuju banget. Mengerjakan apa yang kita suka, tapi secara kebetulan dibayar sepantasnya👍🏻 passion atau "gairah" yang dimaksud itu kan dalam hidup, bukan dalam karir. Selama kita melakukan untuk diri sendiri, sebagai bentuk life purpose yang "mengutuhkan" jiwa, kerja sesuai passion itu sebenarnya merupakan previlege
izin kak/bang, nyimpulin ( kalo salah boleh di koreksi hehehe )
jadi dari yg kubaca penulis mencoba memberikan pandangannya dimana bahwasanya tidak manusiawi jika manusia di mesinkan dengan beban alasan seharusnya mereka bersyukur bekerja sesuai passion, yg diharapkan adalah pekerjaan itu dilakukan utk kehidupan yg sempurna dan nyaman. Kenyataannya tidak nyaman sama sekali, bekerja tidak sesuai atau sesuai passion pada akhirnya akan di suruh utk bekerja/dimesinkan dan itu tidak manusiawi sama sekali, karna manusia tidak mempunyai daya energi yg cukup untuk menjadi pekerja 24 jam.
_____________________
jujur ini substack paling wow dan menarik yg pernah kubaca, dan aku baca ini dengan ukiran wajah yg murung dan penuh empati, benar sulit sulit sekali membayangkan dunia tanpa bekerja, karna bekerja memang membuahkan hasil dan memberi tujuan, tapi jika di eskploitasi menjadi hal yg kejam membuat kita kelelahan hinnga mati.
tapi kak/bang aku juga sempat mikir ini kan lingkungan kerjanya yg kejam, kalo nih kak kita yg menjadi pemilik tempat dan kita membuat istirahat dan tuntutan menjadi hal yg less cruel, apa kita berhasil memberi perubahan dalam sistem?
Tidak semua orang yang mencintai pekerjaannya berada dalam relasi eksploitatif. Masalahnya bukan pada passion itu sendiri, tapi pada kondisi kerja yang tidak adil di mana passion dipakai sebagai senjata untuk menekan tuntutan pekerja.
Yang menjadi probem selanjutnya, bagaimana kita membangun kondisi kerja di mana orang bisa mencintai pekerjaannya tanpa harus menukarnya dengan kesehatan dan martabat.
Lumayan membuka sudut pandang baru yaa kak. Cuman menurutku, kadang kalo kita selalu menganggap segala pekerjaan yang too much itu sebagai akal-akalan kapitalisme, rasanya gak masuk aja. Karena balik lagi, subjektif setiap orang pasti punya pace dan tempo sendiri untuk ngurusin pekerjaannya (orang yang passion bgt, bisa habisin waktu berjam-jam dan dia tetep enjoy), karena bekerja di suatu hal yang kita cintai, meskipun burnout, rasanya selalu ada alasan buat balik lagi bekerja. Jadi gabisa menyalahkan kondisi orang tersebut dan framing kalo orang yang lembur dan kerja terus itu orang yang menderita.
Cuman, aku tetep setuju sih mengenai pembahasan tentang bayaran yang gak sesuai. Dimana, ini menjadi dilema di masa sekarang. Ketika pekerjaan justru lebih banyak dibutuhkan oleh orang, sumber daya pekerja jadi melimpah dan kondisi ini kadang dimanfaatkan perusahaan untuk ngepush orang agar kerja gila-gilaan tapi gak sesuai bayarannya, dengan dalih dia bisa digantikan kapan saja. Nah ini keadaan paling ngeri dari kapitalisme ketika lapangan kerja kelebihan supply dengan skill yang bisa dibilang belum terlalu dihargai di pasar.
Exactly, sebagai buruh pabrik aku cukup ngerasain ini. Tapi, if i like that job, i wouldn't need to get paid.
Judul yang provokatif dan saya menghargai provokasinya, hahaha. Saya paham, dan cenderung setuju, bahwa dorongan "bekerja sesuai passion" adalah, ya, dorongan untuk terus bekerja. Mungkin beberapa menafsirkan frasa "akal-akalan kapitalis" sebagai sesuatu yang seakan merupakan hasil rapat elit-elit tajir yang membahas "bagaimana yaacchhh mendorong kelas pekerja supaya lebih rajin uwu."
Saya melihatnya sebagai salah satu simptom sistem yang mendorong kerja terus-menerus - di sini kebetulan sistem kapitalis, karena yang tidak punya kapital dan alat produksi ya harus kerja terus (ini ditulis supaya kata ini tidak diartikan melipir ke mana-mana), serta budaya yang secara mendasar mengasumsikan bahwa kerja, bagaimanapun, pasti mulia. Maka, seperti yang ditulis di artikel, simptom ini menyebabkan kalau ada yang burnout, seakan karena "kurang beriman" sama pekerjannya, haha.
Wah, kebetulan aku juga sedang kepikiran hal ini. Distorsi yang ada seakan membuat kerja dengan passion di abad ini terasa seperti penipuan. Melihat orang-orang di sekitarku yang sudah bekerja membuatku sadar bahwa, baik bekerja dengan passion maupun tidak, jika kita menjalaninya tidak enjoy dan selalu dalam kondisi overworked, semuanya tetap menciptakan ruang hampa.
Dan sebetulnya, memang kapitalisme yang kejam punya andil besar dalam hal ini. Meski begitu, aku tetap menganggap bekerja dengan passion sebagai salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada fitrah manusia untuk menciptakan karya-karya luar biasa.
Jadi, kurasa semuanya kembali lagi pada work life di tempat kita bekerja kali ya? Jika lingkungan kerja tersebut sehat, meskipun burnout tetap mungkin terjadi, setidaknya kita masih akan kembali ke jalur itu walau harus pindah tempat kerja. Bahkan ketika seseorang harus banting setir sekalipun, selama ia masih mampu memaknai hidupnya, menurutku mereka termasuk orang-orang yang beruntung.
menurutku artikel ini agak terlalu sering ngelempar semua masalah ke kapitalisme. burnout, hubungan atasan-bawahan yang toksik, budaya kerja yang bikin capek, itu memang bisa diperparah sama sistem yang ngejar profit. tapi fenomena kayak gitu juga muncul di banyak konteks sosial, budaya, bahkan sistem ekonomi yang berbeda.
jadinya pas semua hal ditarik ke satu penyebab yang sama, analisisnya terasa agak nyederhanain masalah. kata "kapitalisme" di sini kadang berasa lebih kayak buzzword.
tapi esainya tetap kuat dan emosional. pengalaman yang diceritain juga relatable. terima kasih telah menulis ini!
Saya setuju dengan argument kakak yang bilang bahwa kita sebagai pekerja mengangap istirht adalah sebuah hak bukan reward yang diberikan perusahaan setelah kita bekerja keras,juga di bagian aspek yang kakak bilang bahwa konsep filosofi "ikigai" dari jepang itu di exploitasi oleh barat yang di mana harusny Filosofi asliny lebih mengedepankan fokus pada kebahagiaan hidup sederhana bukan formula untuk kerja di dunia korporat yang sempurna tapi kak menggeneralisasikan bahwa pekerjaan sempurna ialah pekerjaan yang mendapatkan gaji layak saya setuju emang kewajiban harusny dan mendapatkan istrhat sebgai hak juga setuju bnget karna kita bukan robot atau mesin kita manusia desain manusia itu sendiri gk bisa hidup tanpa emosi karna default kita lahir kita mengolah dua konsep logika dan emosi kita gk bisa memakai salah satunya disini saya gk membelah yah mendukung tekanan yang berasal dari toxic seperti exploitasi tapi saya lebih menekankan bahwa saya mendukung tekanan yang sifatnya profesional dan inovatif, memiliki kehidupan di luar kantor keluar dari komputer,wa kantor itu terlalu naif gk sih kak karna realitany tanpa ad tekanan dari segala arah kita sebagai manusia stuck trus kenapa contoh kalau kita melihat sejarah orng tinghoa atau China bayangkan mereka sebenerny itu di jamanny udah maju bnget contoh di abad kedua sebelum Masehi yah china udah punya kertas kak tapi di barat kertas ad pada saat di abad 11 sampai 12 masehi,dan bukan contoh kertas aj kak komps ,mesin cetak, bubuk mesiu juga tapi yang jadi pertanyaan kenapa mereka stuck trus jawabannya mneurut saya simpel karna stabilitas mereka,lah kok stabilitas jawabnny karna gini kak maksud konsep tekanan tadi manusia tanpa ad tekanan bakalan stuck trus karna ia merasa "ah ngapain capek capek menciptakan inovasi baru to gk ad tekanan dari siapa siapa santai dulu gk sih" nah mindset ini akhirny yang menjadi senjata makan tuan dari kenyamanan kak,contoh dari tekanan membawa inovasi baru kak kita sendiri tau yah kak bahwa mendirikan sebuah perusahaan di amerik susahny minta ampun kak kalau kita gk bisa efisiensi dalam mengelola perusahaan trus di bawah tekanan dari kompetitor lain jelas Perusahaan kita bakalan bangkrut kan tapi ironi terbesarny dari tekanan dan efisiensi ini lahirlah perusahaan besar kak seperti Microsoft, gogel hingga Tesla nah dampakny ap kak ? Kita sebagai konsumennya di beri teknologi yang jauh lebih tinggi dari zaman sebelumnya,nah makany saya kurang setuju dengan argumen kakak yang bilang pekerjaan harus tanpa Tekanan ini saya kutip di bagian "Tidak ada yang bilang kalau pada akhirnya, saya akan merasa burnout melakukan hal yang saya sangat sukai" Krn tanpa tekanan manusia gk akan maju sesimpel itu itu emang paradoks terbesar manusia kak,juga di bagian kakak bilang "Maka dari itu, mungkinkah kita menjadikan istirahat sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme? Mungkin akan terasa sulit, namun jika dilakukan secara kolektif, bukan tidak mungkin kita mengubah sistemnya perlahan-lahan" nah maksud kakak kan mengubah systemny walauapun perlahn,tapi kakak ny ad gk pengganti system dari kapitalis ini menurut saya kalau tidak ad ini terlalu naif kak kenapa ? Karna struktur sosial tanpa ad pengganti bakalan membuat sebuah kolektif bakalan collaps, contoh revolusi Prancis kak kita lihat di masa itu sebuah kolektif meruntuhkan system feodalisme Karn ketidakadilan tapi ujungny ap kak ? Jelas collpas bnget kak kekacauan ekonomi, pembunuhan massal emang terdengar kata katany idealisme yah meruntuhkan system tapi ketika sebuah system tidak ad pengganti dari sytem itu sendiri malahan kak membuat penderitan sebuah kolektif jauh lebih meyakitkan dan ironiny kak kdang kita terlalu meromantasikan idealis pengganti system kak Karn kalau kita sejarah kah contoh keruntuhan kekaisaran Romawi,runtuhny penguasa absolute Stalin manusia besi dan revolusi Prancis selalu akhirny ad pengorbanan kak nyawa sebua kolektif emang kita tega mengorbankan mereka di mana sisi moral kita sebagai manusia Hanya krna keegoisan kita itu Sama aj kita dengan penguasa kapitalis kan mengorbankan seseorng demi keuntungan kita jadi gk ad bedany kak,saya bukan anti perubahan tapi saya anti kekacauan sebelum mengubah system kita harus mendesain dulu untuk meminimalisir kemungkinan dari kerusakan yang kita hancurkan di system itu kalau kita gk mikir meminimalisir itu terlalu naif saya bilang
haii kak thankuu for sharing your opinion on this whole work for passion topic. Izin share opini ku sebagai pekerja yg bekerja tidak sesuai passion yaa kak ^^
Kalau dari aku konsep “ikigai” cukup membantu sih kak karena di kerjaan ku yang sekarang aku merasa sangat amat tidak cocok mulai dari passion, job desc, beserta lingkungan. Sehingga aku tidak well perform considering im not in the environment im not supposed to be. Jadi konsep ikigai cukup membantu ku untuk memahami, kira kira pekerjaan seperti apa yaa yang dapat membuat ku berambisi dalam hidup dan dapat memberi manfaat yang cukup untuk lingkungan sekitar.
jadi bekerja sesuai passion menurutku malah membantu orang-orang untuk terus merasa “hidup” dalam pekerjaannya.
senang sekali bertemu tulisan ini, dan seperti sedang melihat sisi lain dari bekerja sesuai passion. betul adanya, ketika bekerja sesuai passion seperti bisa membenci hal yang kita sukai karena tekanan.
namun, bekerja dengan passion vs tidak passion bukannya justru akan meningkatkan burnout? orang yang bekerja dengan passion, yang secara nalurinya dia memang senang di bidang tersebut, akan banyak hal yang dia akali untuk "perform" dan menurutku ini bukan hanya akal-akalan kapitalis, namun berdampak pada diri sendiri contohnya seperti kepuasan bekerja. Bagiku, puas ketika bekerja bukan hanya uang yang masuk ke rekening tiap bulan >< (meskipun itu pasti), tapi bagian lain adalah puas ketika kita bisa belajar bertumbuh dari apa yang kita kerjakan, kita bisa happy ketika melakukan pekerjaan dengan sempurna dan mungkin efisien.
karena bekerja dengan passion, tentu bisa jadi jauh lebih efisien bukan untuk perusahaan aja, menurutku juga untuk diri sendiri. efisien dari segi waktu - kita bisa lebih singkat mempelajarinya, kita bisa lebih singkat mengerjakannya. dan waktu yang efisien bisa memberi kita ruang untuk mengerjakan beberapa hal lain.
tapi aku pun masih dalam proses mencari "kepuasan" itu dalam bekerja. jadi, semoga kita semua yang sedang berjuang sampai saat ini terus menemukan makna dan sudut pandang dari kacamata lain, yang membuat pekerjaan bisa bagian dari hidup bukan keseluruhan dari hidup.
thank youuuu ka sudah tulis dan membuka ruang berdiskusiii.
hanya satu yg aku setuju kak, saat kamu bilang manusia skrg dibayar terlalu murah