Saat masih duduk di bangku kuliah, saya berkenalan dengan konsep ‘ikigai’ melalui sebuah organisasi ekstrakampus. Konsep ini, yang katanya berasal dari falsafah hidup orang Jepang, dimaknai oleh kami, para mahasiswa, sebagai dorongan buat menemukan tujuan hidup yang termanifestasi dalam bentuk ‘pekerjaan yang sempurna’.
Disebut sempurna karena pekerjaan ini digambarkan sebagai perpaduan antara hal yang kami sukai, yang bermanfaat bagi orang lain, dan yang bisa menghasilkan uang yang cukup. Akhirnya, kami selalu diingatkan untuk terus ‘membentuk’ dan ‘mengembangkan diri’ supaya bisa mendapatkan ‘pekerjaan sempurna’ tersebut.
Ada masanya ketika saya sangat percaya pada konsep ini. Arah hidup saya dibentuk oleh keinginan untuk menghidupi diri lewat pekerjaan yang ‘sempurna’ tersebut. Saat itu saya percaya, jika saya mengerjakan apa yang saya sukai, maka saya akan menemukan tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar menjalani hari demi hari—dan pada saat yang bersamaan, saya juga bisa dapat uang yang banyak dari sana!
Ternyata, saya cukup beruntung karena bisa mengerti dan hidup sesuai dengan konsep ini. Saya mendapatkan ‘pekerjaan yang sempurna’ itu! Apa yang saya kerjakan ternyata bermanfaat bagi orang lain. Saya juga cukup menikmati kegiatan sehari-hari di kantor, dan yang terpenting: setiap bulan rekening saya mendapatkan bayaran yang lebih dari cukup untuk menghidupi diri sendiri.
Sialnya, tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa harga dari pekerjaan yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri.
Tidak ada yang bilang kalau saya bisa membenci apa yang saya kerjakan.
Tidak ada yang bilang kalau mengerjakan apa yang kita sukai, tapi dengan tekanan dari atasan dan bawahan, justru akan menambah beban pikiran kita.
Tidak ada yang bilang kalau pada akhirnya, saya akan merasa burnout melakukan hal yang saya sangat sukai.
Tidak ada yang bilang kalau sebuah pekerjaan di masyarakat yang kapitalistik pada akhirnya tetaplah sebuah pekerjaan.
Tidak ada yang bilang kalau ‘ikigai’ yang saya pelajari ternyata hanyalah jebakan yang dibuat oleh orang-orang yang mendewakan kapitalisme. Mereka yang ingin memastikan kita menghasilkan sebanyak mungkin, karena kan, kita menyukai pekerjaan itu!
Dengan dalih ‘passion’, ‘kerja keras’, ‘kamu beruntung bisa bekerja seperti ini’, kapitalisme secara tidak langsung mengajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk bekerja, makanya konsep ‘pekerjaan sempurna’ pun menjadi penting. Seakan-akan, jika kita menyukai apa yang kita lakukan, bekerja terus-menerus harusnya tidak menjadi masalah. Akhirnya, kita jadi melupakan relasi kuasa yang ada, bahwa yang diperkaya dan yang paling diuntungkan bukanlah diri kita sebagai pekerja, melainkan si pemberi kerja dan yang punya modal.
Kapitalisme seakan-akan mengajarkan bahwa beristirahat adalah ‘hadiah’ yang baru bisa kita terima setelah bekerja keras. Atau bahkan, jika kita sangat bersemangat dan menyukai pekerjaanmu, tidak apa-apa kalau kita tidak mau beristirahat sekalipun. Kita bisa terus bekerja dan meniti karier setinggi-tingginya. Hingga akhirnya saya menyadari, berusaha untuk terus meniti karier, bahkan di pekerjaan yang terasa ‘sempurna’, hanyalah jebakan kapitalisme.
Selama ini, kita diajarkan untuk merasa bersalah ketika beristirahat. Sistem kapitalisme menyamakan istirahat dengan menyerah, menghela napas dianggap tidak bersyukur, dan berhenti sejenak dianggap sebagai sebuah kelemahan.
“Kamu kan suka dengan pekerjaan ini. Ini tuh pekerjaan yang ‘sempurna’, loh. Kok, kamu malah berhenti? Kamu gak passionate, ya?”
Ada logika yang aneh dari pernyataan tersebut, yang sering dilontarkan di gedung-gedung kantor. Mengapa malah kita, para pekerja, yang disalahkan karena kelelahan ketika terus-menerus bekerja—bahkan ketika pekerjaan itu ‘sesuai’ dengan ‘passion’ kita? Mengapa seakan-akan beristirahat menjadi suatu hal yang tabu untuk dilakukan oleh seorang pekerja? Mengapa pekerja harus selalu dituntut untuk bekerja lebih cepat, lebih produktif, dan lebih efisien?
Kapitalisme menganggap manusia sama seperti mesin, alat untuk menghasilkan.
Itulah mengapa istilah yang dipakai pun adalah ‘sumber daya’ manusia: artinya kita dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Dari kacamata kapitalisme, kita hanyalah sumber daya yang dapat digantikan dan yang harus dioptimalkan agar bisa menjadi seefisien mungkin.
Nyatanya, manusia bukan mesin. Kita tidak diciptakan untuk bekerja dan menghasilkan sebanyak-banyaknya. Kita juga bukan robot yang memang diciptakan untuk produksi terus-menerus dan seefisien mungkin.
Ironisnya, alasan yang sering digunakan buat menuntut manusia harus bekerja secara efisien adalah untuk ‘memanusiakan manusia’. Katanya, supaya kita bisa memiliki kehidupan nyaman di luar kantor. Tapi pada kenyataannya, ketika kita diminta untuk bekerja secara ‘efisien’, kita tidak benar-benar ‘dimanusiakan’, malah justru ‘dimesinkan’. Kita diharapkan untuk menghasilkan output yang lebih banyak lagi. Sungguh sebuah paradoks yang berisi omong kosong.
Mobil yang dipaksa terus berkendara tanpa istirahat, isi bensin, dan servis pada akhirnya bisa mengalami turun mesin. Apalagi kalau manusia terus dipaksa bekerja tanpa istirahat, bahkan dengan dalih ‘bekerja sesuai passion’? Memperbaiki mesin yang rusak saja sulit, apalagi memperbaiki manusia yang rusak.
Oleh karena itu, beristirahat pun sebenarnya bisa jadi bentuk perlawanan terhadap paksaan sistem yang hanya menguntungkan segelintir pemilik modal saja. Konsep ini dikenal sebagai rest is resistance—beristirahat sebagai perlawanan—yang pertama kali dikemukakan oleh The Nap Ministry, gerakan yang dimulai oleh orang kulit hitam di Amerika Serikat. Dalam perspektif ini, beristirahat bukan sebuah ‘hadiah’ bagi pekerja setelah kerja keras, melainkan hak dasar kita sebagai seorang manusia.
Orang muda Indonesia saat ini adalah generasi yang dibayar terlalu murah, namun dibebani pekerjaan yang terlampau banyak. Istirahat pun menjadi sebuah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh banyak orang. Penelitian dari Litbang Kompas (2026) menunjukkan bahwa orang muda Indonesia harus memiliki lebih dari satu pekerjaan untuk bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka. Di saat yang bersamaan, lapangan pekerjaan tidak tersedia, dan PHK terus melanda. Kebebasan berpikir semakin menyempit, dan sekolah malah dijadikan pabrik yang terus mencetak pekerja demi memperkaya mereka yang sudah kaya.
Kita hidup di dunia yang terus-menerus menunjukkan kegagalan kapitalisme. Namun, para motivator dan content creator kapitalis akan terus mengatakan bahwa kita terlalu malas untuk mencari pekerjaan yang ‘sempurna’, tanpa menghiraukan tantangan struktural yang dihadapi oleh orang muda yang tidak memiliki modal dan yang terjebak di masyarakat yang mengagung-agungkan harta kekayaan.
Bekerja lembur sampai malam hari, sampai akhirnya jatuh sakit, pun karena kita menyukai pekerjaannya, bukanlah bentuk ‘pekerjaan yang sempurna’.
Pekerjaan yang ‘sempurna’ adalah yang bisa memberikan kita gaji yang layak, yang memperbolehkan kita untuk beristirahat dan memiliki kehidupan di luar kurungan kantor, komputer, dan WhatsApp pekerjaan.
Terperangkap dalam pekerjaan dan layar hanya akan menjauhkan kita dari realita di luar pekerjaan: membatasi imajinasi kita terhadap kehidupan yang lebih baik. Apakah kita bisa membayangkan dunia tanpa kapitalisme? Apakah kita bisa membayangkan hidup tanpa harus bekerja? Bagi kebanyakan orang, termasuk saya sendiri, akan sulit untuk membayangkannya. Tanpa adanya waktu untuk berhenti sejenak dan beristirahat, kita tidak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk membayangkan suatu tatanan baru yang radikal.
Akhirnya, saya sadar kalau konsep ‘ikigai’ yang diajarkan pada saya merupakan konsep yang telah diambil alih oleh orang Barat yang kapitalistik, bukan apa yang dihidupi oleh orang Jepang. Filosofi ikigai bagi orang Jepang tidak memuliakan kapitalisme sama sekali dan bukan tentang mencari pekerjaan yang ‘sempurna’. Ikigai seharusnya mengajak kita untuk menikmati hal-hal yang ada di setiap sentimeter kehidupan.
Maka dari itu, mungkinkah kita menjadikan istirahat sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme? Mungkin akan terasa sulit, namun jika dilakukan secara kolektif, bukan tidak mungkin kita mengubah sistemnya perlahan-lahan.



Berarti kalo Sherlock berjam-jam mecahin kasus, kadang ga dibayar kliennya, hanya karena dia cinta dunia detektif, apakah artinya kerjaan Sherlock adalah akal-akalan kapitalis?
Kalau misalnya Ahmad Dhani passionnya musik, ngarang lagu, bikin aransemen, dan karya-karya itu menembus jaman, apakah kerja keras Ahmad Dhani adalah akal-akalan kapitalis?
Tulisan ini panjang, tapi tanpa data, dan menggeneralisasi bahwa semua pekerjaan itu adalah akal-akalan kapitalis, sementara ada orang-orang yang memang bekerja karena kecintaan terhadap bidang tersebut.
Yang saya setujui dari tulisan ini hanya pemberian gaji yang layak. Selebihnya, tulisan ini menganggap para pemberi kerja dan mereka yang bekerja atas nama passion sebagai orang-orang jahat
Hemm sudut pandang yang menarik. Sebenarnya bekerja sesuai passion itu ideal dan bukan berarti kita diakalin kapitalis kok. Tapi tulisan ini ada benarnya juga. Intinya kita bicara bagaimana memastikan hak-hak sebagai pekerja tetap terlindungi tanpa harus mengorbankan diri demi romantisasi pekerjaan sesuai passion itu.