Oleh: Aquatic
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan dan kesintasan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Perjalananku mengenal diri sendiri dimulai melalui cerita fiksi penggemar (fan fiction) K-pop. Tahun 2018, saat aku masih sangat belia untuk dikatakan punya mimpi, aku membaca fiksi penggemar sebagai pelarian dari kejenuhan atas tugas sekolah yang monoton. Bagi banyak orang, fiksi penggemar identik dengan adegan-adegan dewasa yang klise atau biasa dikenal dengan sebutan “smut”. Namun, untukku yang masih belia saat itu, hanya ada satu hal yang ingin kubaca lamat-lamat, yaitu cerita tentang seksualitas yang dibalut perjalanan SMA para anggota boyband tersebut.
Tulisan itu dikemas dengan sangat sederhana tanpa banyak kiasan atau majas di dalamnya. Biasanya, satu paragraf hanya diisi dua sampai tiga kalimat saja. Fokusnya lebih banyak pada dialog antartokoh untuk menghadirkan representasi seksualitas yang beragam. Jika boleh jujur, tulisan itu belum sepenuhnya matang untuk diterbitkan dan terasa seperti indulgent atau kesenangan dari penulisnya sendiri. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatku nyaman membacanya.
Di antara karakter-karakter lain yang digambarkan sebagai transgender, homoseksual, biseksual, dan lesbian, aku menemukan satu tokoh yang memiliki daya tariknya sendiri. Ia dengan jelas menggambarkan apa yang ada di pikiranku selama ini—meski saat itu masih diselimuti rasa takut dalam proses menemukan diri. Aku tidak akan menyebutkan namanya karena penulis fiksi penggemar tersebut menggunakan nama asli salah satu anggota grup K-pop tersebut.
Dalam cerita itu, ia adalah seorang aseksual, sebuah identitas yang terasa sangat klik dengan apa yang kupikirkan tentang diriku.
Mungkin orang lain menganggap lucu jika hal yang membuat tokoh itu menarik di mataku justru adalah aseksualitasnya. Ketika membaca ceritanya untuk pertama kali, aku seperti mencentang banyak kecocokan antara diriku dengan karakter tersebut. Ia memang digambarkan lempeng, berkarakter baik meski lebih memilih diam, serta memiliki lingkaran pertemanan yang cukup luas serta menghargai seksualitasnya. Namun, apa yang paling berharga dari tulisan fiksi penggemar itu adalah… fakta bahwa ia dicintai.
Ia tidak hanya dicintai dalam konteks romantis. Ia juga dicintai oleh keluarga dan teman-temannya. Hal itulah yang membuatku lebih mudah menerima apa yang selama ini terasa salah dari diriku.
Di usia yang masih sangat muda, aku justru belajar menjadi diri sendiri melalui media yang oleh orang-orang dianggap terlalu vulgar.
Di masa-masa itulah aku menemukan jati diri dari serpihan cerita yang bagi orang lain mungkin tidak ada harganya.
Ada bagian spesifik dalam tulisan itu yang membuatku merasa sangat hidup, yaitu ketika tokoh aseksual ini harus berhadapan dengan kemungkinan bahwa ia mencintai temannya yang sudah lama peduli kepadanya. Cerita mereka dikemas seperti roman picisan, lengkap dengan ketakutan sang tokoh bahwa perasaannya tidak akan disambut baik.
Aku ingat adegan di sebuah jalan, di mana sang lawan bicara yang merupakan seorang biseksual berdiri di hadapannya dan mengutarakan rasa sayangnya. Awalnya, tokoh aseksual ini bingung dan cemas karena merasa tidak akan bisa mencintai seseorang sepenuhnya. Mereka dikemas dengan trope slow burn yang sukses membuatku gemas saat membacanya. Ceritanya ditulis dengan apik, menggambarkan bagaimana seorang aseksual bergulat dengan ketakutannya dalam membangun hubungan intim dengan orang lain. Aku yang masih belia akhirnya menyadari bahwa apa yang kurasakan ternyata valid dan nyata.
Dulu, aku mengira menjadi queer sebatas mencintai seseorang yang bukan lawan jenis. Tidak ada yang pernah mengenalkanku pada istilah aseksual maupun aromantis. Tidak ada yang mengajariku bahwa menjadi bagian dari LGBTQ+ juga bisa mengambil bentuk yang berbeda.
Alhasil, perjalananku sebagai seorang aseksual terasa sangat kontras dengan teman-teman sebayaku yang sudah jelas menunjukkan ketertarikan dan eksplorasi seksual mereka.
Saat masa remaja, aku sering kali berada dalam situasi atau obrolan yang berbau seksual. Pembicaraan itu biasanya didorong oleh rasa penasaran dan tontonan dewasa yang dinikmati oleh teman-teman yang sebenarnya masih terlalu muda.
Saat itu, aku tidak paham apakah aku harus merasa tidak nyaman atau tidak karena aku tidak merasakan apa-apa selain rasa penasaran yang datar. Seharusnya aku juga ikut berapi-api saat teman-teman laki-laki membicarakan pikiran erotis mereka atau saat teman-teman perempuan heboh membahas cerita cinta di tengah obrolan kami. Namun, hal-hal seperti itu tidak pernah terlintas di kepalaku. Akhirnya, aku lebih sering berpura-pura.
Namun, di dalam fiksi penggemar yang kubaca, tokoh aseksual itu menyadari seksualitasnya ketika temannya menunjukkan sebuah video dewasa dan ia berakhir mual seharian. Aku sendiri tidak pernah sampai muntah saat menonton video seperti itu, tetapi aku merasa sangat bersimpati karena karakternya mengingatkanku pada diriku sendiri.
Ketika teman-teman menceritakan secara eksplisit apa yang mereka tonton, aku tidak dibuat mual dan malah dibuat bingung dan bertanya-tanya: apa sebenarnya yang membuat hal tersebut terlihat begitu erotis dan menggairahkan di mata mereka? Mereka bahkan menyimpan video-video itu, dan meskipun aku tahu fungsinya, aku hanya bisa diam. Jelas, saat itu aku belum bisa merumuskan apa yang sebenarnya kurasakan.
Banyak orang bilang bahwa aku akan menyukai seks pada akhirnya, tetapi prediksi itu tidak pernah terbukti. Buktinya, kini aku sudah tumbuh dewasa, pubertas sudah lewat beberapa tahun lalu, dan hidupku tetap tidak berubah. Lucunya, aku bahkan pernah jujur kepada psikiater tentang seksualitas ini, hingga membuat sang dokter penasaran mengapa aku bisa seperti ini. Banyak yang menganggap ini hanya sebuah fase atau bahwa aku hanya belum menemukan orang yang tepat untuk mengubah pikiranmu.
Jujur, selama ini aku juga sudah berusaha. Namun, sebagai seseorang yang berada di dalam spektrum aseksual dan aromantis, perubahan itu tidak pernah terjadi.
Aku baru menyadari bahwa kebanyakan orang tidak memiliki pikiran serumit ini tentang cinta. Jika mereka mencintai atau terangsang oleh seseorang, mereka tidak akan merasakan kekosongan yang kurasakan ketika aku mengagumi seseorang. Aku hanya ingin menyatakan perasaanku tanpa mengharapkan timbal balik yang setimpal karena itulah caraku mencintai.
Namun, karena aku tidak bisa mencintai dengan cara yang sama seperti orang kebanyakan, sering kali ada banyak hal yang tertahan di tenggorokan karena mulut ini tidak mampu mengutarakan rasa seperti yang lain.
Aku berulang kali membaca bab tentang tokoh aseksual dalam fiksi penggemar itu lamat-lamat. Diam-diam, aku mengilhami perasaanku sendiri, menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang aseksual dan aromantis.
Selama ini, aku selalu bersembunyi di balik candaan-candaan seksual dan romantis demi bisa diterima oleh teman-temanku. Aku bersembunyi di antara kiasan-kiasan yang kupelajari dari teman-teman allo agar tidak terlihat berbeda. Namun, bagian paling menyakitkan adalah ketika teman-temanku berkomentar bahwa orientasiku ini hanya akan merepotkan pasanganku kelak. “Bagaimana kalau dia mau seks? Terus, apa yang mau kamu kasih?” Aku selalu bungkam setiap kali dihadapkan pada pertanyaan itu.
Ketika kejujuran terhadap diri sendiri mulai terbentuk perlahan, terkadang hal-hal di luar kendali justru membuatku ingin bersembunyi kembali. Dari ramalan kartu tarot hingga harapan-harapan semu, aku sering berharap ada hal yang bisa membebaskanku dari belenggu aseksualitas dan aromantisisme ini. Pada akhirnya, aku sadar bahwa aku masih sering ketakutan untuk sepenuhnya mengakui dan menerima siapa diriku sebenarnya.
Dalam fiksi penggemar itu, sang tokoh aseksual akhirnya menikah dengan pasangan biseksualnya dan mereka memiliki anak. Namun di dunia nyata, aku tahu bahwa menemukan pasangan yang bersedia menerima kondisi ini sedemikian rupa tidaklah semudah itu. Langkahku terasa tersendat dalam urusan asmara.
Ketika aku mencoba jujur tentang identitasku kepada orang yang berpotensi menjadi pasangan, mereka justru mengira aku adalah seorang biseksual. Lucunya, aku memang tidak memedulikan gender seseorang, tetapi rasanya ironis ketika identitas aseksual dan aromantisku malah disalahpahami sebagai seksualitas lain hanya karena aku dianggap tidak cukup homoseksual untuk bisa dimengerti.
Dalam perjalanan ini, masih banyak hal yang harus kupelajari. Untungnya, kini aku sudah memiliki teman-teman sesama aseksual dan aromantis yang lambat laun membantuku menemukan komunitas yang memahami kondisi ini. Aku memiliki teman aseksual yang punya pasangan dan teman aromantis yang masih bisa merasakan ketertarikan seksual pada orang lain.
Harapanku sebenarnya sederhana: aku hanya ingin keberadaan kami diakui dan terlihat.
Aseksualitas masih belum banyak dipahami orang-orang dan kami tahu posisi kami sangat kecil, bahkan di dalam payung komunitas LGBTQIA+ yang juga minoritas. Kerumitannya selalu kembali pada pertanyaan yang sama, yaitu apakah aku akan diterima apa adanya atau akankah semua orang terus menganggap bahwa ini hanyalah cerita belaka dan pada akhirnya aku akan menemukan pasangan itu?
Yang jelas, aku sudah mencoba. Namun, perasaan di dalam hati tidak pernah bisa berbohong—keadaan tidak membuat diriku berubah. Fiksi penggemar itu menyadarkanku bahwa hal-hal sekrusial ini ternyata bisa dipahami dari wadah yang paling nyeleneh sekalipun.
Meskipun fiksi penggemar sering kali memiliki reputasi yang buruk atau dianggap hanya berisi konten seksual, lewat cerita itulah aku mulai mempelajari bagian dari diriku yang sudah lama tidak pernah diajak bercerita.
Untuk teman-teman aseksual dan aromantis di mana pun kalian berada, aku tahu betapa sulitnya membuktikan bahwa cara kita merasa itu berbeda. Namun, satu hal yang pasti: kalian itu valid. Apa pun bentuk spektrummu, identitasmu berharga.
Harapan ini tidak lahir dari kenaifan belaka karena aku melihat sendiri betapa kerasnya usahamu untuk memahami dirimu sendiri.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Mendefinisikan ulang makna bahagia sebagai gay di sini.
Peri kemanusiaan di tengah budaya diskriminasi di sini.
Perjalanan menemukan diri melalui eksplorasi busana di sini.




Wow, jujur aku baru tau kalau ternyata ada author membuat karakter yang memiliki spektrum aseksualitas dan transgender di fanfic 🥹💗 biasanya yang ku temukan itu fanfic seputar hubungan sesama jenis saja. I think I need some fanfic recommendations that explore sexual identity and orientation, hehe.
this is such a beautifully written piece! semangat terus, dear author. ✨️