Oleh Ruth Maria Artauli Purba
“Baddie eats in warteg”
Menyenangkan sekali rasanya melihat perempuan yang percaya diri menampilkan dirinya secara utuh dan tidak merasa perlu menyembunyikan kepribadian mereka untuk bisa fit in society.
Perempuan yang berani tampil dengan riasan dan penampilan yang mencolok serta heboh di tempat umum yang tidak lazim, seperti warteg misalnya.
Konon katanya, berdandan harus ingat tempat dan situasi. Namun, konsep konservatif ini tidak berlaku bagi sang baddie; mengekspresikan diri dengan merdeka adalah visi misi yang pakem bagi mereka.
Di tengah masyarakat yang gemar menyinyiri tubuh dan wajah perempuan, Tuhan menurunkan perempuan-perempuan baddie ke bumi untuk diberi tugas khusus: menjadi aktivis kebebasan yang dalam penampilan dan kediriannya memantik jiwa-jiwa merdeka perempuan-perempuan lain yang sempat redup karena norma-norma yang mengunci mereka untuk berekspresi secara utuh.
Baddie bukan hanya sekadar ungkapan; ia adalah buah pikir yang mendobrak nilai-nilai pakem dan menantang norma dan moral yang memang patut dipertanyakan.
Namun sayang, makna baddie kini mengalami pergeseran. Perempuan baddie, definisinya menjadi tidak lain dari perempuan berpenampilan menarik dengan makeup yang memikat.
Baddie kini justru menciptakan standar kecantikan yang baru. Memilukan jika kita menilik bagaimana definisi baddie tercipta karena ia sebenarnya adalah bentuk perlawanan, bukan riasan dan fitur wajah.
Di media sosial, baddie sering kali hadir ke permukaan sebagai sebuah tren estetika visual semata yang identik dengan riasan tebal dan pilihan outfit mencolok. Padahal, penampilan tersebut pada dasarnya membawa sebuah pesan eksplisit bahwa perempuan memiliki daulat penuh atas dirinya untuk berekspresi.
Pilihan berpenampilan eksentrik ini sendiri adalah sebuah simbolisasi atas kebebasan para perempuan untuk melawan salah satu standar kecantikan patriarki nan seksis, yang kerap melabeli perempuan ber-makeup tebal sebagai perempuan centil, gatal, hingga nakal.
Sayangnya, simbol perlawanan ini dibunuh maknanya; perhatian pengguna internet lebih banyak ditujukan kepada aspek visual alih-alih narasi sosio-politik di baliknya. Akhirnya, tren ini direduksi menjadi hanya sekadar komoditas kecantikan yang dangkal dan bikin dongkol.
Karena kedangkalan makna ini, baddie tidak lagi dimaknai berdasarkan akar subkultur dan narasi awal mengapa ungkapan ini tercipta. Baddie kini bukan lagi tentang perempuan dengan kadar kepercayaan tinggi yang selalu berani menunjukkan dirinya tanpa peduli pada apa kata orang.
Awalnya Melawan Standar, tapi Malah Menciptakan Standar Baru
“Aku sih suka sama perempuan natural”
Ratusan kali saya mendengar ucapan klise ini dari bibir berbagai laki-laki, baik dari percakapan langsung dengan teman pria, hingga interview di infotainment. Mereka begitu memuja perempuan yang menurut mereka berdandan natural.
Padahal, definisi natural versi mereka sebenarnya adalah tuntutan agar perempuan terlihat sempurna tanpa terlihat berusaha. Persepsi ini akhirnya menjebak perempuan dalam standar kecantikan baru yang melelahkan.
Fenomena tutorial ‘no-makeup makeup look’ adalah salah satu buktinya. Perempuan dipaksa dandan sedemikian rupa hanya untuk terlihat tidak dandan. Perempuan ingin terlihat cantik, tapi harus tetap terlihat ‘asli’ di mata pria. Ribet, bukan? Sebuah standar yang diciptakan untuk memuaskan ego male gaze, namun membelenggu kebebasan berekspresi perempuan.
Perempuan yang cantik karena makeup kemudian dianggap sebagai sebuah kecurangan: “Ah, mereka cantik karena makeup”, sedangkan kalau makeup terlalu tebal dikatai menor, bahkan diasosiasikan dengan profesi seperti pekerja seks atau LC karaoke.
Di televisi, makeup perempuan juga masih sering jadi bahan olok-olok. Perempuan yang suka mengganggu suami orang digambarkan dengan makeup tebal, sedangkan perempuan-perempuan alim biasanya bermakeup tipis dan natural. Mengesalkan karena bukan hanya pakaian, cara bermakeup perempuan pun juga akhirnya dikomentari.
Kemunculan perempuan baddie membawa angin segar. Kebebasan berekspresi perempuan yang pernah direnggut oleh standar yang tidak jelas kemudian didobrak oleh mereka.
Mereka melawan persepsi orang mengenai perempuan dengan makeup tebal dan baju heboh. Bahkan penampilan mereka menjadi sebuah hal biasa, seperti makan di warteg dengan penampilan cetar.
Baddie membuat hal-hal yang dianggap buruk oleh masyarakat menjadi hal yang biasa, bahkan bisa jadi terlihat menarik dan keren. Namun, sayangnya, orang-orang lupa dengan semangat yang dibawa, karena akhirnya yang dilihat bukan kepercayaan diri dan keberanian dalam melawan standar.
Orang-orang malah menciptakan standar baru yang sempit dan dangkal yang mendikte bagaimana seorang baddie harus terlihat, padahal menjadi baddie adalah melawan standar itu sendiri.
Definisi baddie kini telah direduksi menjadi sekadar standar visual semata. Masyarakat seolah menciptakan pakem estetika tunggal bahwa untuk menjadi seorang baddie, perempuan harus memiliki fitur wajah atau gaya riasan yang menyerupai perempuan tertentu, yakni perempuan Latina.
Sehingga saat perempuan tidak masuk standar ideal menurut definisi sempit mereka, kebebasan yang mereka rayakan akan dianggap sebagai sebuah lelucon.
Lucunya, sekarang pria-pria yang dulu sepakat menyukai perempuan natural kini berpindah haluan dan justru menjadikan perempuan baddie sebagai tipe perempuan ideal mereka. Istilah seperti “I pull a baddie” menjadi salah satu bukti nyata bagaimana laki-laki menjadikan perempuan sebagai sebuah pencapaian dan piala baru untuk dimiliki.
Perempuan baddie yang awalnya hadir untuk melawan patriarki malah menjadi korban dari patriarki itu sendiri. Semangat perlawanan mereka kini habis tandas dihilangkan dan yang tertinggal malah objektifikasi dan seksualisasi.
Dulu, semua perempuan yang percaya diri dan berani untuk tampil beda adalah baddie tanpa syarat macam-macam. Namun kini, banyak perempuan tidak percaya diri untuk menyebut diri mereka baddie karena merasa gagal memenuhi standar dan syarat-syarat yang dibentuk oleh sistem yang awalnya diciptakan untuk melawan standar itu sendiri.
Tembok berisi standar-standar dangkal yang awalnya pernah diruntuhkan oleh gerakan ini, kini malah membangun standar baru yang lebih dangkal lagi. Perjuangan perempuan lagi-lagi disabotase oleh sistem patriarki yang selalu berusaha menjadikan perempuan sebagai objek yang dikuasai oleh standar patriarki yang seksis dan misoginis.
Saat Label Perlawanan Menjadi Ladang Misoginisme
Suatu hari, algoritma tiktok saya menampilkan sebuah video reaksi dari seorang konten kreator laki-laki. Ia merespons video seorang perempuan yang menyebut dirinya baddie dengan nada skeptis dan penuh olok-olok.
Saat bereaksi, kreator tersebut seolah tengah meng-gatekeep label baddie dengan alasan yang nggak masuk akal, seperti perempuan ini ga cocok jadi baddie hanya karena asal provinsinya. Dia bahkan punya blueprint sendiri kalau baddie itu harus full glam dan mirip “cewek Latina”.
Padahal, si perempuan ini memang tidak berusaha untuk tampil layaknya perempuan Latina, dan lagi, memangnya kenapa? Keberanian dia untuk menunjukkan wajahnya dengan penuh percaya diri tanpa harus mengikuti standar patriarki soal baddie tadi justru adalah definisi baddie yang sebenarnya.
Baik reaksi laki-laki maupun komentar-komentar di video si perempuan tersebut sama-sama bernada misoginis. Mereka mengobjektifikasi wajah dan tubuh perempuan tadi dengan nada menghina, bahkan melecehkan. Padahal yang menentukan dia itu baddie atau tidak, bukan riasan dan rupa, melainkan keberaniannya.
Pergeseran makna ini tidak terjadi di ruang hampa. Ia berakar dari kebiasaan semantik (semantic habits) masyarakat kita. Bagi kebanyakan orang Indonesia, makna sebuah kata sering kali tidak dipahami dari definisinya yang asli, melainkan dari reaksi semantik, bagaimana kata itu dirasakan dan diasosiasikan dalam keseharian.
Masalahnya, reaksi semantik kita sering kali terjebak dalam kacamata misoginis dan patriarkis yang sudah tertanam secara struktural. Hal yang sama juga terjadi pada kata ‘slay’ yang dikerdilkan menjadi label ejekan bagi laki-laki feminin, dan sekarang terjadi lagi pada baddie.
Bukannya memaknai baddie sebagai bentuk kebebasan berekspresi perempuan, masyarakat kita (lewat algoritma media sosial dan sikap misoginisnya) justru menjadikannya penjara baru.
Alih-alih menjadi simbol kebebasan radikal, baddie akhirnya menjadi standar kecantikan yang kaku dan baru. Kita tidak lagi merayakan keberaniannya; kita hanya menilai apakah seragam baddie-nya sudah sesuai standar atau belum. Pada titik ini, baddie bukan lagi sebuah perlawanan, melainkan sekadar komoditas visual yang kehilangan ruh rebelnya.
Pada akhirnya, baddie bukanlah soal riasan mencolok, tapi keberanian yang mencolok. Perempuan-perempuan yang berani menunjukkan dirinya secara utuh dan menolak untuk didikte oleh standar sempit dan dangkal adalah baddie itu sendiri. Merekalah baddie dalam arti yang sesungguhnya.




kenapa ya apapun yang perempuan lakukan itu tolak ukurnya selalu laki-laki? kenapa mereka sangat merasa unggul sehingga merasa punya hak berbicara atas apapun yg dilakukan perempuan? bahkan permaknaan baru ini aja muncul dari laki-laki 😭