Oleh: Ganiara
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan dan kesintasan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Aku terlahir di tubuh perempuan, meskipun aku tidak pernah merasa seutuhnya sebagai seorang perempuan. Ketika orang menyebutku laki-laki—karena kecenderungan berpakaianku yang condong ke warna sendu dan tak pernah sekalipun menyentuh rok kecuali saat sekolah—aku juga risi karena aku merasa bukan laki-laki. Aku tak pernah tahu aku kenapa.
Mungkin ada yang salah denganku.
Mana mungkin ada orang yang merasa asing di tubuhnya sendiri? Sebenarnya, tubuh siapa yang aku kenakan? Mengapa tubuh ini terasa seperti kostum yang perlu aku kenakan di hadapan banyak orang? Mengapa aku tak merasa nyaman di bawah kulitku sendiri? Mengapa Tuhan menciptakan aku begini?
Dengan tekanan atas segelintir pertanyaan tersebut, di umur penghabisan belasanku, aku mulai memberanikan diri untuk mengenakan rok. Semata-mata karena aku risi juga disebut laki-laki melulu. Mulanya aksi heroik itu dipenuhi sambutan meriah dari teman-teman dan keluarga. Namun, di tengah-tengah sambutan penyemangat itu, aku tetap merasa ini bukan diriku seutuhnya.
Aku tidak merasa sebagai perempuan hanya karena sebilah kain yang punya lubang besar di bagian bawahnya. Namun, aku juga tak merasa sebagai laki-laki. Hatiku justru kian kopong.
Siapakah aku? Apakah aku?
Pengeksplorasian busana tak pernah kusangka-sangka menjadi pintu masuk pencarian identitasku.
Aku bisa menghabiskan berjam-jam lamanya di depan cermin, bukan untuk mengagumi diri sendiri, melainkan mempertanyakan sosok siapa yang aku lihat di seberang sana. Karena rasanya, ia selalu berbeda. Ia menginginkan topeng yang berbeda setiap hari. Inkonsistensi yang kurasakan ini jelas membuatku gusar. Tidak ada pakaian apa pun yang sanggup menutupi sosok diriku, tidak, bahkan tidak ada satu helai pakaian pun yang mampu menyingkap siapa aku sesungguhnya.
Kalimat “you are not what you wear” justru menggelitik bagiku. Mungkin cara berpakaian bisa kujadikan sebagai mekanisme koping dalam mencari jati diri. Aku selalu menerima secara sukarela sebilah pedang yang disodorkan padaku dengan telapak tangan karena aku belum tahu cara menggunakannya. Kini, aku bertekad untuk merebut pedang itu dan mengklaimnya sebagai milikku.
Penelusuranku dimulai dari pakaian perempuan dan laki-laki, karena hanya dua itu yang diakui. Perempuan identik dengan warna cerah, ceria, seperti matahari tenggelam atau matahari terbit. Sementara laki-laki cenderung berwarna mendung, terkadang dilengkapi dengan sedikit cipratan warna biru.
Kemudian, aku menemukan konsep uniseks dan androgini. Istilah androgini mungkin relatif modern, tetapi gagasan tentang perpaduan maskulin dan feminin rupanya telah hadir jauh lebih lama.
Pencarianku bahkan menyasar hingga menemukan sosok Ardhanārīśvara dalam kepercayaan Hindu, yang merupakan wujud kemanunggalan atau penyatuan androgini antara Dewa Siwa (prinsip maskulin) dan Dewi Parwati (prinsip feminin) dalam satu tubuh. Pengenalanku terhadap sosok Ardhanārīśvara pun merupakan wujud pertama yang kuketahui mirip dengan yang kurasakan, sesuatu yang mulanya tak aku yakini ada.
Saat kuketuk pilihan uniseks, muncul sejumlah pakaian yang… bisa kubilang membosankan, dan tidak ada bedanya dengan pakaian yang biasa kupakai dengan pakaian laki-laki yang kucari sebelumnya.
Aku masih tersesat, keluar rumah dengan perasaan tidak nyaman dengan kulit sendiri, karena agaknya tidak ada pilihan lain. Di sinilah yang luput dariku.
Aku kemudian menemukan film Farewell My Concubine (1993) yang punya andil besar dalam membuka mataku perihal ini. Tokoh Cheng Dieyi, seorang nandan (istilah untuk aktor laki-laki dalam opera Tiongkok) yang memerankan karakter selir (concubine) oleh aktor Leslie Cheung, mengetuk pintu hatiku. Dalam sejumlah periode sejarah opera Peking, perempuan dilarang atau sangat dibatasi untuk tampil di panggung sehingga peran perempuan dimainkan oleh nandan.
Dieyi begitu luwes menjelmai perempuan di The Hegemon-King Bids His Lady Farewell, judul pementasan opera tradisional Tiongkok tersebut. Dengan celak yang tegas dan tata rias yang rupawan, jubah merah jambu dan putih menjuntai ke bawah, mahkota berbulir mutiara dan rumbai yang bergelantungan, tak lupa dengan suara merdunya ketika bernyanyi, betul-betul mengingatkanku pada burung merak.
Hanya di momen tersebut tampaknya laki-laki diperbolehkan berdandan seperti perempuan, terlepas dari larangan yang mereka berlakukan terhadap perempuan yang pentas di hadapan banyak orang. Ini membuat penonton, termasuk aku, sulit memisahkan Dieyi sang aktor dari Dieyi sang selir.
Pertanyaan yang kemudian muncul selama, bahkan setelah, menonton film ini adalah:
Ketika seseorang memerankan suatu peran di bawah tekanan norma sosial, di manakah batas antara lakon dan identitas? Dan apakah pengalaman tersebut semata-mata hanya sebuah pertunjukan untuk meyakinkan orang lain?
Masih dalam rangka pencarian jati diri, aku mengobrak-abrik isi lemari.
Berbagai pakaian kupadankan dengan bayangan yang wara-wiri di dalam pikiranku, buah hasil dari apa yang kutonton. Aku mencoba meniru gaya Dieyi, baik saat ia menjadi nandan maupun ketika tidak. Entah bagaimana, aku melihat diriku pada kedua versi Dieyi tersebut. Aku bermain-main dengan warna dan pemanis busana lainnya, lalu kuserasikan dengan pakaian yang kupunya. Berangkat dari anggapan itu, aku juga mulai mengenakan rok. Tudingan badut dan salah kostum malah jadi makanan sehari-hari, meskipun ada juga sesekali yang memuji.
Lagi-lagi, bukannya aku akhirnya memahami diri, aku malah semakin merasa asing di tubuh sendiri. Bukan hanya karena tudingan dan pujian yang dilontarkan padaku, melainkan ketika aku bercermin, rasa tidak nyaman justru makin menjadi-jadi. Siapa yang tengah mengeksplorasi berbagai macam pakaian di cermin itu? Perasaan salah kostum tak hanya menggerayangi telingaku, tapi juga sekujur tubuhku.
Begitu panjang jika mengingat proses pergulatan diri sendiri untuk memahami hal ini. Namun, setiap detik yang kuhabiskan untuk memikirkan ini tidak pernah aku sesali; sebaliknya, justru sangat aku syukuri.
Pencarian ini pun tidak berhenti sampai di film Farewell My Concubine semata, karena selama pencarian masih berlangsung, belum akan ada perpisahan.
Aku akhirnya belajar kalau sepanjang nafas sejarah, rupanya sudah banyak bukti yang menguak bahwa perempuan menggunakan lintas busana untuk memperoleh akses terhadap ruang sosial yang dibatasi baginya. Kendati demikian, lelaki yang berlintas busana umumnya lebih menghadapi stigma dan dipandang sebelah mata.
Misoginistik yang telah mengakar tersebut semakin mendampratku pada kenyataan bahwa keraguanku terhadap rok kemungkinan bersumber dari sana.
Mengapa orang lain mesti berpikir aku bukan perempuan hanya karena aku segan mengenakan rok? Mengapa aku dicap sebagai laki-laki karena menolak memakai rok? Mengapa orang lain merasa berhak menentukan identitasku berdasarkan apa yang kulakukan atau yang kukenakan?
Pada titik tersebut, aku semakin melihat diriku pada karakter Dieyi. Lewat film Farewell My Concubine, aku mencoba menerobos dinding kategori gender yang rigid. Penampilan yang Dieyi pertunjukkan begitu digemari karena kekuatan Dieyi melebur dengan tokoh yang ia perankan. Meski di balik itu, orang-orang kesulitan memisahkan Dieyi dari perannya. Banyak mata yang otomatis memberi makna pada peranannya tentang siapa Dieyi menurut versi mereka.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok yang tidak dapat ditafsirkan hanya karena penampilan ataupun pakaiannya, meskipun keduanya dapat berbicara tentang identitas. Ketika aku kembali menengok diriku di cermin, eksperimen pakaian yang tiada henti ini bermakna apa sebetulnya bagiku? Apakah itu sungguh sebatas penampilan, atau sebetulnya ada sesuatu yang tengah kucari dan kupahami tentang diriku sendiri?
Di tengah-tengah kebingunganku ini, aku mulai terpapar oleh bacaan yang ditulis Judith Butler yang berargumen bahwa gender bukan sesuatu yang stagnan, melainkan sebuah aksi, sesuatu yang dibentuk dan dinegosiasikan melalui praktik sehari-hari.
Gender adalah sesuatu yang dikerjakan dan diwujudkan, bukan sebatas benda mati yang pasif.
Butler juga menekankan bahwa identitas gender tidak bisa begitu saja diganti dan ditanggalkan hanya dengan keputusan pribadi.
Adapun pembacaan atas Sara Heinämaa yang membeberkan bahwa gender dapat hadir dalam tubuh bahkan sebelum diwujudkan secara sadar. Seseorang dapat merasa dirinya sebagai perempuan, laki-laki, atau gender lainnya bahkan ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan tidak ada pertunjukan sosial yang terjadi.
Senada dengan Heinämaa, seorang filsuf transpuan, Talia Mae Bettcher juga menyoroti bahwa banyak orang trans mengalami perasaan diri yang mendalam yang hadir sebelum, bahkan terlepas dari, penampilan sosial mereka. Bettcher juga mengkritik cara masyarakat menggunakan penampilan, termasuk pakaian, sebagai petunjuk untuk mengasumsikan status jenis kelamin seseorang.
Ketiga pandangan tersebut menguatkan pemahamanku tentang pengalaman gender yang selama ini aku selami. Pakaian jelas membantuku mengekspresikan dan menampilkan diri, tetapi pakaian tidak pernah menciptakan diriku.
Pakaian memberiku bahasa untuk menerjemahkan sesuatu yang telah ada jauh sebelum itu. Karenanya, aku tidak lagi memandang pakaian sebagai penentu identitas. Apa yang kukenakan adalah perwujudan identitas yang kuhayati.
Dalam pengalamanku, gender merupakan sesuatu yang kuhidupi di bawah tekanan norma sosial. Namun, pengalaman itu juga membuatku menyadari bahwa identitas tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma yang berlaku. Lewat Dieyi, aku melihat bahwa gender tidak lagi sekadar persoalan penampilan. Lewat sosoknya, aku menyadari bahwa identitas tidak selalu dapat dipisahkan dari performa.
Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa ketidaknyamanan terhadap tubuh dan cara berpakaianku juga muncul dari cara orang lain memaknai keduanya. Gender, bagiku yang nyaman dengan label non-biner, bukanlah soal rok atau celana, bukan pula soal warna cerah atau kelabu. Semua itu dapat menjadi pelengkap yang mengisi sanubariku, berfungsi sebagai medium yang dapat kukenakan untuk mengekspresikan diri, namun tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa diriku seutuhnya.
Eksplorasi busana membawaku pada pemahaman bahwa identitas genderku sebagai non-biner tidak dapat direduksi menjadi pakaian atau penampilan.
Film Farewell My Concubine menuntunku untuk mempertanyakan hubungan antara identitas dan performa gender, hingga akhirnya aku menyadari bahwa pakaian bisa menjadi sarana mengekspresikan diri, tapi bukan penentu siapa diriku. Kini aku bebas mengenakannya, menampilkannya, tanpa harus merasa dikungkung olehnya. Sebab identitasku telah hadir lebih dulu daripada isi lemariku.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Mendefinisikan ulang makna bahagia sebagai gay di sini.
Peri kemanusiaan di tengah budaya diskriminasi di sini.
Perjalanan menerima diri sebagai aromantis di sini.




SUKAAA