Aku selalu mengalami kesulitan untuk memberikan arti kepada sebuah kata yang bunyinya ‘Indonesia’.
Aku selalu berpikir, Indonesia adalah sebuah ide tentang negara yang terletak di tenggara benua Asia. Ia katanya memiliki lebih dari 17.000 pulau, ratusan etnis dan puluhan juta manusia yang memiliki kartu berwarna biru dan bertuliskan ‘warga negara Indonesia’.
Aku tahu Indonesia adalah sebuah entitas politik yang kontraknya ditandatangani pada 17 Agustus 1945, hari yang 81 tahun setelahnya terus dirayakan oleh semua penduduknya. Aku juga tahu, selama 81 tahun ini, entitas bernama Indonesia terus mengalami naik turun.
Ada masa-masa ketika aku bangga memiliki kedekatan dengan entitas ini. Tapi, aku lebih sering merasa malu dan marah karena harus diasosiasikan dengan sebuah kata bertuliskan ‘Indonesia’. Perasaan inilah yang membuatku terus memutar bola mata ketika tanggal 17 Agustus semakin dekat dan nuansa merah putih serta lagu daerah dan kebangsaan mulai dipasang di setiap sudut kota.
Untuk apa kita merayakan sebuah entitas politik yang secara aktif melakukan diskriminasi terhadap warganya yang berbeda? Untuk apa kita merayakan sebuah entitas politik yang selalu mengeruk isi bumi untuk mengisi perut yang buncit, tapi meracuni perut yang lapar?
Aku tahu kita memang harus membedakan mereka yang mengelola Indonesia—pemerintah—dan masyarakatnya. Bisa jadi, yang aku tidak sukai adalah mereka yang mengelola negara, bukan ide yang diterjemahkan menjadi ‘Indonesia’. Tapi, bukankah pemerintah merupakan gambaran rakyatnya?
Apalagi, belakangan ini kita juga sering melihat bagaimana sesama warga saling menyakiti satu sama lain. Seperti yang sebelumnya aku bilang, terutama bagi mereka yang berbeda; yang kulitnya berbeda, gendernya berbeda, status ekonominya berbeda, orientasi seksualnya berbeda. Kelakuan rakyat sebuah tempat bernama ‘Indonesia’ ini benar-benar sama seperti kelakuan mereka yang mengelola tempat ini!
Aku bahkan tidak akan membahas tentang kebijakan dan sistem pengelolaan ‘Indonesia’ dulu dan sekarang. Tidak ada yang perlu dibahas—kita tahu, jarang ada yang bisa dibanggakan.
Negatif sekali, ya, pandanganku terhadap ‘Indonesia’ ini. Bisa jadi, ini yang membuat aku tidak bisa memberikan arti terhadap ‘Indonesia’. Karena… mungkin memang sudah tidak ada artinya.
Tapi, di saat yang bersamaan, aku tahu aku memiliki sebuah kedekatan batin dengan huruf-huruf yang disusun menjadi ‘Indonesia’ ini. Aku suka dengan ide bernama ‘Indonesia’ ini. Tapi, di bayanganku, ‘Indonesia’ bukanlah tentang segelintir orang saja, melainkan untuk semua orang.
Dari kelima sila yang menjadi pemikiran dasar yang membangun Indonesia, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kemanusiaan yang adil dan beradab adalah yang paling aku percayai. Aku percaya semua orang harus dimanusiakan secara adil dan beradab. Aku percaya seluruh manusia yang tinggal di tanah yang disebut sebagai ‘Indonesia’ ini harus mendapatkan keadilan. Dan aku tahu, kedua pemikiran inilah, mimpi yang paling sulit untuk dicapai.
Ironisnya, keduanya sulit dicapai bukan karena keduanya mustahil. Keduanya terkesan sulit dicapai karena segelintir orang sudah terlalu nyaman dengan kondisi yang mereka miliki.
Mereka nyaman bisa menguasai tanah, air dan udara. Mereka nyaman, bisa memiliki warga yang mau bekerja bagi mereka, serendah apa pun upahnya. Mereka nyaman, membuat kongsi-kongsi yang bisa terus menguntungkan diri mereka dan kelompoknya. Dan mereka pulalah, yang terus memaksa kita untuk menari, lompat di dalam karung, makan kerupuk, dan berdiri tegap menghormat pada mereka.
L’État, c’est moi—negara adalah aku. Bagi orang-orang tersebut, Indonesia adalah mereka. Sama seperti Raja Louis XIV dari Prancis, yang pernah mengatakan bahwa dia, sebagai pemimpin, lebih tinggi dari hukum dan rakyat jelata: l’État, c’est moi.
Indonesia adalah mereka yang bisa menguasai isi bumi, mengeringkan sungai dan menggundulkan hutan, demi mengisi perut buncit yang sebenarnya sudah kenyang. Indonesia adalah mereka yang mau dengan sadar menghakimi orang lain, membayar manusia untuk menyakiti orang lain. Bagi mereka, Indonesia adalah tabungan masa depan milik mereka dan keluarga mereka saja.
Mungkin mereka tidak salah. Tapi, bisa jadi Indonesia bukan tentang kepemilikan sendiri, melainkan kepemilikan kolektif: l’État, c’est nous—negara ini adalah kita.
Bagiku, huruf-huruf yang disusun menjadi ‘Indonesia’ artinya aku dan kamu. Tentang bagaimana kita, sebagai individu, juga merupakan bagian dari sebuah kolektif bernama ‘Indonesia’. Tentang kita yang sama-sama mengusahakan keadilan sosial bagi satu sama lain, sambil memanusiakan satu sama lain.
Batasan dari Sabang sampai Merauke bisa jadi bukanlah arti sebenarnya dari Indonesia. Apalah daerah-daerah ini, jika bukan rekayasa dan keputusan politik? Ketika seluruh perwakilan warga, baik secara sukarela maupun terpaksa, menyatakan kesetiaannya terhadap sebuah entitas bernama ‘Indonesia’?
Bagiku, ‘Indonesia’ adalah warganya. Kelompok yang bahkan di pelosok dunia sekalipun, akan memiliki sama rasa dan sama asa. Kelompok yang bahkan ketika harus hidup di tengah rezim yang terus-menerus menutup ruang untuk berkumpul, berbicara, dan berbahagia terus berdiri dan memegang tangan satu sama lain. Sama-sama manusia yang menginginkan kenyamanan, kebebasan, dan kesetaraan.
Mungkin pada akhirnya, tidak sulit untuk memberikan arti pada Indonesia. Mungkin pada akhirnya, kita tidak perlu mencari jauh-jauh tentang apa itu Indonesia. Karena memberikan arti pada Indonesia berarti memberikan arti kepada diri kita sendiri.
Indonesia adalah kita. Saat ini kawan-kawan di NTT sedang membutuhkan bantuan kita untuk pulih dan bangkit pascabencana. Kamu bisa ikut membantu dengan berdonasi lewat:


