Oleh: Owen
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan dan kesintasan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Mungkin, hal pertama yang akan orang ingat tentang saya adalah pelangi.
Bagaimana tidak, sejak bangku kedua SMA saya sering menggunakan kaos kaki berwarna pelangi, jepit rambut berbentuk pelangi, pin dan gantungan kunci berwarna pelangi, serta membuat poster dengan ornamen pelangi. Tentu berbagai pelangi ini menyita pandangan orang lain.
Beberapa kali teman atau orang asing akan berhenti dan bertanya, “Kamu sekarang lesbi?”
Dengan tenang, saya menjawab, “Tidak,” sambil berusaha melontarkan senyum terbaik yang saya miliki.
Tidak ada keinginan untuk berbohong atau membohongi diri saya sendiri kala itu. Di kepala saya, yang terbesit hanyalah bagaimana menyampaikan kepada orang lain kalau apa yang mereka anggap sebagai ‘masalah baru’, sesuatu yang asing dan menyimpang, sebenarnya lumrah, selalu ada di sekitar mereka, dan tidak menyakiti siapa pun. Hanya saja, kehadirannya memang hampir tidak terlihat dan sering kali dipaksa untuk bersembunyi.
Saya merasa tidak perlu menggunakan forum terbuka atau menguraikan secara rinci bahwa apa yang mereka artikan sebagai ‘penyimpangan’ adalah hal yang lumrah.
Saya hanya berusaha untuk menunjukkan diri saya, mempertontonkan kepada khalayak ramai bahwa apa yang selama ini dianggap ‘pembeda’ adalah garis imajiner yang tumbuh dari perasaan takut dan tidak percaya diri.
Banyak yang tertawa tentunya, menganggap pola pikir saya ‘terbuka’ dan saya ‘tidak memilah’ konsumsi dari media. Namun, beberapa orang justru tersenyum sambil menatap dengan cemas keberanian saya hari ini.
Tak jarang, dari kejauhan orang akan meneriaki saya dengan berbagai gurauan yang cenderung seksis. Tak jarang saya hiraukan—atau malah saya berbalik sambil mengacungkan jari tengah. Dari beragam respons yang timbul, ada satu kesimpulan yang dapat saya tarik sementara: mereka tak menghakimi apa yang ada dalam pikiran orang lain, karena mereka sendiri masih menghakimi apa yang ada dalam pikiran mereka sendiri.
Terbukti saat seorang teman yang cukup saya kenal dituduh sebagai seorang gay, beberapa siswa lainnya ikut terkejut dan bertanya kepada saya. Kebenaran saat itu masih tabu. Akhirnya, teman saya memilih bersembunyi dan menolak pernyataan itu.
Tak lama kemudian, bukti demi bukti terkuak: pamongnya di masyarakat turun, hingga suatu hari kami sempat berjalan beriringan hendak pulang dari sekolah, dan dirinya berdiri tinggi di sebelah saya. Sambil berbisik, ia melemparkan pertanyaan, “Kamu dukung LGBT ya?”
Sambil tersenyum, saya menjawab, “Iya.”
Sejak hari itu, kami semakin sering bertemu. Entah di lapangan, taman, atau kantin. Ia tak ragu menyapa saya lebih dahulu, sambil melambaikan tangan flamboyan atau menepuk pundak saya sambil tersenyum semringah.
Yang jelas, sejak hari itu saya merasa kalau ia tak lagi menghakimi isi kepalanya; ia tak lagi menghakimi dirinya untuk menjadi berbeda. Sejak hari itu juga, saya yakin apa yang mulanya rumit di dalam kepalanya perlahan mulai tersusun rapi.
Kemudian, suatu hari, di tengah hari yang padat, speaker kelas saya menggemakan lagu “Good Luck, Babe!” tanpa ragu—yang tentunya dipasang dari ponsel saya sendiri.
Tak banyak orang yang paham maksud lagu itu sampai akhirnya pandangan saya bertemu dengan seorang perempuan yang sedang duduk di barisan terdepan. Mulutnya ikut bergerak mengikuti lirik lagu bak mantra, begitu hafal, hingga saya terdiam di sesi karaoke yang saya buat sendiri.
Menyadari hal itu, perempuan di barisan depan menatap saya, ragu apakah saya memperhatikannya sedari tadi. Senyum saya lantas mengembang, seolah pemandangan yang saya lihat barusan bukan sebuah ketabuan terhadap heterogenitas lingkungan kami.
Saya berdiri dan mengambil tempat duduk di sebelahnya, lantas bertanya, “Kamu suka Chappel Roan?”
“Iya, kamu juga?”
“Of course, kamu suka Good Luck, Babe? Atau lagu yang lain?”
“Pink Pony Club, lagunya seru.” Ujarnya sambil berbalik ke arah saya. Senyum kecil terbentuk di wajah saya.
“Are we on the same page?” tanya saya, memberanikan diri dengan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.
“Aren’t you sapphic1?” Suaranya kecil, seperti hampir tak ingin bersuara.
“Yes, I am. How ‘bout you?”
“Just…Queer… I guess… kinda into a girl,” ucap perempuan itu perlahan, yang kemudian membuat senyum di wajah saya semakin merekah.
Sejak hari itu kami sering bercerita tentang budaya minoritas kami. Ketika pelajaran di kelas sedang membahas berbagai materi tentang penyimpangan sosial, pandangan kami kerap berjumpa. Seolah ada hal-hal yang kami pahami bersama walaupun tidak terucap. Kami pun terkekeh pelan, seolah-olah informasi yang sedang disampaikan di depan kelas diam-diam sedang menunjuk dan membicarakan kami.
Hingga saat ini, momentum yang masih melekat hadir di antara deru bising kendaraan dan trotoar jalan yang sudah tak layak pakai, dengan senyum dia membisikkan kepada saya,
“Terima kasih, Kak, sudah menerima cerita aku. I feel safe with you.”
Dari berbagai aksi kecil dan gerakan yang saya lakukan, tidak heran kalau beberapa orang lebih mengenal saya berdasarkan orientasi seksual saya. Tak jarang saya dipanggil dengan sebutan “pelangi”, “lesbi”, atau berbagai label lain yang menyimpulkan bahwa saya adalah seorang homoseksual.
Untungnya, hal tersebut tidak pernah menyudutkan posisi sosial saya. Panggilan-panggilan itu tidak mengubah cara lingkungan memperlakukan saya. Saya tetap dipercaya dan diberi kesempatan untuk memimpin, menyusun, dan mengorganisasi berbagai kegiatan.
Namun, meskipun banyak cerita menyenangkan yang saya temukan bersama teman-teman queer, tak jarang juga perjalanan itu diwarnai berbagai percakapan yang tidak mudah. Ada saat-saat ketika saya merasa kehabisan kata-kata untuk menjelaskan posisi saya dalam perdebatan mengenai gender dan seksualitas.
Ada juga beberapa orang yang menyudutkan dan menganggap saya terlalu “terbuka” hanya karena saya melazimkan pengalaman hidup transpuan, termasuk mereka yang memilih bekerja sebagai pekerja seks. Tidak jarang juga saya menjadi sasaran ujaran kebencian. Saya pernah dicaci, direndahkan, bahkan disamakan dengan hewan dan berbagai hal lain yang dianggap hina.
Tapi dari beragam cara penolakan yang saya hadapi, tak ada satu pun yang membuat saya ingin pergi.
Mungkin hingga hari ini saya belum bisa dengan lantang menyatakan bahwa saya seorang homoseksual. Saya juga belum memiliki keberanian yang cukup besar untuk mengatakan bahwa saya ingin menikah dengan perempuan yang saya cintai.
Tapi rasa aman dan rasa memiliki yang saya temukan di setiap jiwa yang juga sedang berusaha bertahan di lingkungan ini membuat saya yakin kalau hal sekecil apa pun yang dilakukan untuk saling menguatkan bisa menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar untuk mereka yang terpinggirkan.
Dari semua pengalaman ini, saya juga akhirnya sampai pada satu kesimpulan. Penerimaan bukanlah sebuah peristiwa besar yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Penerimaan sering kali adalah sebuah proses yang tumbuh di suatu lingkup yang sudah berdamai dengan keberadaan mereka sendiri.
Penerimaan bukan keadaan ketika identitas dan orientasi seksual selalu menjadi dasar untuk mengukur nilai seseorang.
Penerimaan adalah kemampuan memahami bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dan memberi ruang bagi mereka untuk bertumbuh sesuai dengan ritmenya sendiri.
Dewasa ini saya akhirnya paham bahwa identitas, orientasi, hingga kepercayaan seseorang adalah hal yang dinamis dan masih dapat berubah seiring kita tumbuh dewasa.
Mungkin dahulu saya ingin orang lain menerima saya apa adanya, memberi ruang untuk berpendapat sebebas-bebasnya, dan menganggap heterogenitas sebagai hal yang kuno. Tapi kini saya memahami kalau proses dan ritme setiap manusia berbeda. Cara mereka memahami diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya akan terus berubah seiring mereka bertumbuh.
Maka tak heran, penerimaan dan penolakan bukanlah dua hal yang bertolak belakang dan bersifat stagnan.
Sering kali, seseorang akan berdiri di antara keduanya, masih belajar, masih mempertanyakan, dan masih mencoba berdamai dengan isi kepala mereka masing-masing.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Fan Fiction dan representasi Queer di sini.
Perjalanan menemukan diri melalui eksplorasi busana di sini.
A/S/L dan pintu ke mana saja di sini.
Sapphic adalah istilah yang merujuk pada perempuan atau orang non-biner yang tertarik secara romantis dan/atau seksual kepada perempuan.



