Oleh: MD
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya untuk membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Ada momen tertentu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa: ketika sekelompok perempuan dan orang-orang gender nonconforming1 duduk melingkar di lantai rumah kontrakan sempit, tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit, saling memperbaiki riasan, membicarakan kehidupan dengan jujur tanpa sensor.
Tidak ada kamera. Tidak ada tagar. Tidak ada siapa pun dari luar yang menyaksikan. Hanya kegembiraan itu sendiri, utuh dan milik kami.
Inilah yang ingin saya bicarakan: queer joy yang tidak meminta izin, tidak menunggu diakui negara, tidak membutuhkan validasi siapa pun untuk benar-benar ada.
Diskursus global tentang queer joy, terutama yang beredar dari Barat, sering kali hadir dalam kemasan yang terlalu rapi. Parade berwarna-warni. Wajah-wajah bersinar di papan iklan perusahaan multinasional setiap bulan Juni. Representasi di serial streaming yang menampilkan tokoh queer yang cantik, berasal dari kelas menengah, tinggal di apartemen cerah, dan problemnya hanya soal coming out2 kepada orang tua yang pada akhirnya selalu menerima.
Model kegembiraan ini sudah mendapatkan izin. Ia telah diproses, disterilkan, dan dikembalikan kepada kita dalam bentuk yang dapat dikonsumsi, dipasarkan, dan, yang paling penting, tidak mengancam apa pun.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa representasi tidak penting. Ia penting. Tapi representasi tanpa redistribusi adalah pertunjukan. Dan ketika korporasi yang pada sebelas bulan sisanya mensponsori kandidat anti-LGBTQ+ tiba-tiba memasang bendera pelangi pada produk mereka, kita perlu bertanya:
Kegembiraan siapa yang sedang dirayakan, dan untuk kepentingan siapa?
Di Indonesia, pertanyaan ini menjadi lebih tajam. Tidak ada parade Pride yang diizinkan. Tidak ada pengakuan hukum. Rancangan undang-undang yang mengkriminalisasi hubungan sesama jenis terus diperjuangkan. Dalam konteks ini, queer joy versi rainbow capitalism3 bukan hanya tidak relevan, ia juga secara aktif menyesatkan karena menawarkan ilusi kemajuan kepada mereka yang hidupnya jauh dari kondisi itu.
Soal Material: Siapa yang Mampu Berbahagia?
Queer joy bukan pengalaman yang setara. Ini bukan soal psikologi individual, melainkan soal kondisi material.
Perempuan queer yang hidup di kota besar, memiliki pekerjaan tetap dengan pendapatan yang cukup, dan tinggal jauh dari keluarga kandung memiliki ruang gerak yang berbeda secara fundamental dibandingkan dengan remaja queer di kota kecil yang tidur serumah dengan keluarga besar, sekolah di lingkungan yang homogen secara religius, dan tidak memiliki akses ke komunitas mana pun.
Orang trans yang memiliki jaringan pertemanan dan kemampuan ekonomi untuk mengakses layanan kesehatan mengalami realitas yang berbeda dari orang trans yang harus menyembunyikan identitasnya demi kelangsungan hidup sehari-hari.
Kegembiraan (termasuk queer joy) terikat pada kondisi: siapa yang bisa berbahagia, seberapa aman, seberapa bebas, dan dengan biaya berapa.
Ketika kita membicarakan queer joy tanpa membicarakan kelas, ia menjadi konsep yang mengambang dan akhirnya hanya merayakan keistimewaan sebagian kecil orang yang sudah cukup beruntung untuk memiliki ruang bagi kegembiraan itu.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa orang-orang yang paling rentan tidak merasakan kegembiraan; justru sebaliknya. Tapi kegembiraan mereka sering kali lahir bukan karena sistem memberikan ruang, melainkan karena mereka tetap mampu menciptakannya meskipun sistem bekerja keras untuk menghancurkan mereka.
Queer Joy sebagai Subversi
Di sinilah letak radikalitasnya.
Jamie Heckert, dalam esainya “Anarchy without Opposition” yang termuat dalam antologi Queering Anarchism, mengingatkan kita tentang jebakan yang sering dihadapi gerakan-gerakan progresif: moral high ground yang dingin dan sunyi.
Di tempat yang tinggi itu, seseorang bisa merasa paling benar, paling radikal—tetapi hatinya mati rasa. Heckert menulis dengan jujur: “The numbed heart is also impervious to joy. And how queer can life be without joy?“ Pernyataan itu bukan sekadar puisi. Ia adalah diagnosis politis.
Gerakan yang meninggalkan sedikit pun ruang untuk kegembiraan, keintiman, dan kerentanan bukan hanya lebih miskin secara manusiawi, tetapi juga lebih lemah secara struktural. Gerakan yang mati rasa kehilangan kapasitas untuk membayangkan dunia yang berbeda karena sudah terlalu sibuk menolak dunia yang ada.
Queer joy, dalam pengertian ini, bukan pelarian dari perjuangan. Ia adalah kondisi kemungkinan perjuangan itu sendiri.
Ketika orang-orang queer memilih untuk merayakan diri mereka sendiri, untuk tertawa, mencinta, berkarya, berdandan, mengambil ruang, di dalam masyarakat yang secara sistematis menegaskan bahwa keberadaan mereka adalah masalah. Tindakan itu bukan sekadar personal, tapi juga termasuk tindakan politis.
Ada tradisi panjang dalam pemikiran queer dan feminis yang melihat kegembiraan bukan sebagai kelengahan dari perjuangan, melainkan sebagai bagian integralnya. Audre Lorde, dalam esainya Uses of the Erotic: The Erotic as Power, berbicara tentang kedalaman perasaan sebagai sumber pengetahuan dan resistensi, sesuatu yang sistem patriarki selalu berusaha kendalikan atau padamkan, justru karena ia mengancam. Kegembiraan yang tidak dapat dikuasai adalah ancaman.
Di Indonesia, kita bisa melihat ini bekerja secara konkret. Komunitas queer yang bertahan bukan hanya karena mereka berjuang dalam demonstrasi atau memproduksi dokumen kebijakan, meskipun itu juga penting, tetapi karena mereka membangun ruang-ruang kecil di mana mereka benar-benar hadir bagi satu sama lain: arisan, kumpul memasak, grup pesan berantai yang penuh dengan meme dan cerita hari ini.
Solidaritas yang muncul bukan dari ideologi semata, melainkan dari persahabatan dan kasih sayang yang nyata. Ini bukan soft politics. Ini adalah infrastruktur bertahan hidup.
Merayakan Sebelum Diizinkan
Saya ingin mengakhiri dengan kembali ke Heckert, yang menulis: “And if I am called to fight, to protect those under threat, let me do it with love. Because if I’m not loving, it’s not my revolution.”
Kalimat itu sederhana, tetapi implikasinya jauh. Ia menolak dikotomi yang sering kita terima begitu saja: bahwa perjuangan harus keras dan kegembiraan harus ditunda; bahwa mencintai adalah kelemahan dan kemarahan adalah satu-satunya bahasa yang didengar.
Bagi Heckert dan bagi siapa pun yang pernah merasakan bertahan hidup sebagai queer, cinta bukan lawan perlawanan. Ia adalah isinya.
Oleh karena itu, queer joy bukan tentang menunggu dunia menjadi tempat yang aman dulu sebelum kita boleh berbahagia. Ia adalah tentang memutuskan, dengan segala kesulitan yang menyertai keputusan itu, bahwa eksistensi kita layak dirayakan sekarang, hari ini, dalam kondisi apa pun yang ada.
Ini bukan kenaifan. Ini bukan pengabaian terhadap realitas penindasan. Ini adalah penolakan untuk membiarkan sistem yang ingin menghapus kita juga merampas kapasitas kita untuk hidup dengan penuh.
Ketika kita tertawa, mencintai, berdandan, menari, menulis puisi, membangun komunitas, mendukung satu sama lain, kita sedang melakukan sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan oleh sistem mana pun: kita sedang menjadi nyata, bersama-sama, dengan cara yang kita pilih sendiri.
Dan ya — itu adalah perlawanan. Dan itu adalah revolusi.
Mereka yang ekspresi gendernya tidak mengikuti ekspektasi sosial yang biasanya dikaitkan pada laki-laki atau perempuan.
Proses seseorang mengungkapkan identitas seksual atau identitas gendernya kepada orang lain.
Ketika perusahaan atau brand menggunakan simbol dan pesan LGBTQIA+ (terutama saat bulan Pride) hanya untuk kepentingan pemasaran dan keuntungan, tanpa komitmen nyata terhadap perjuangan LGBTQIA+.



life changing read on a random saturday during pride month 🥲❤️🩹 tersentuh banget dengan gagasan kalau cinta itu bagian dari perlawanan hiks