Discussion about this post

User's avatar
Syneidesis's avatar

Mengakui martabat seseorang tidak mengharuskan kita menyetujui seluruh pandangan, identitas, perilaku, atau pilihan hidup oranglain.

Lepas dari tulisan yg trll gampang membuat dikotomi (hitam putih) dan sepertinya perlu riset lebih mendalam ttg sejarah...menurut saya, justru di titik pertemuan kedua prinsip itulah diskusi yang dewasa dimulai. Dan lepas dari riuhnya perdebatan ttg queer...kita bisa mengatakan: “Kamu tetap manusia dan tidak boleh direndahkan.”

lili's avatar

Apakah perasaan yang secara alamiah muncul, mereka anggap sebagai kesalahan? Dan dengan preferensi dogmatis mereka bebas mengutuk dan meludahi orang yang mereka anggap menyalahi kodrat.

No posts

Ready for more?