Oleh: Ephemeral Creature
Kepalaku terasa lapang saat kuaktifkan mode noise-canceling pada penyuara telinga. Hampir setiap petang, beginilah caraku pulang. Sedikit bengong, mendengarkan musik, sesekali memutar-mutar card holder yang ada di dadaku, dan memandangi pemandangan dari balik jendela KRL. Sebuah keberuntungan kecil kalau aku masih bisa melihat semburat matahari sore sebelum langit kota Jakarta digulung gelap.
Kelelahan “steril” di dalam gerbong ber-AC ini beberapa kali melempar ingatanku pada Bapak di rumah. Pada dasarnya, kami berdua sama-sama kelas pekerja. Bedanya, Bapak sama sekali tak suka membungkam bisingnya dunia. Realitas kerja di sekitarnya benar-benar ia telan mentah-mentah.
Dulu, dari meja makan, aku sering memandangi Bapak ketika baru pulang bekerja. Bertahun-tahun menjadi seorang penjahit konveksi, bajunya kerap masih menyimpan bau kain dan debu serat benang. Seharian ia duduk di depan mesin mengerjakan potongan-potongan pakaian yang bukan miliknya. Telinganya akrab dengan rentetan suara entakan jarum yang terus berpacu mengejar tenggat waktu.
Melihatnya bekerja sekeras itu untuk upah yang tak seberapa dan tidak pasti kerap membuatku gemas sendiri. Jika keuangan sedang seret, Bapak biasanya merespons dengan jawaban ini,
“Tugas kita cuma usaha, rezeki sudah ada yang ngatur”.
Sebagai remaja yang merasa paling tahu segalanya, petuah bernada pasrah itu sangat menyebalkan. Jujur saja. Aku pun berjanji saat besar nanti, aku harus punya pekerjaan yang lebih mapan di Jakarta dan menghasilkan banyak uang melebihi Bapak
Bermodalkan gelar sarjana, aku sempat yakin bisa memutus rantai kepasrahan tersebut. Literatur dan ruang-ruang diskusi pada masa kuliah mengajariku banyak hal tentang ketimpangan struktural. Aku merasa jauh lebih progresif dari Bapak, amat yakin bahwa aku tak akan pernah tunduk menjadi sekrup kecil dari sistem eksploitatif.
Tapi ternyata, Jakarta punya selera humor yang kejam dalam menundukkan idealisme masa muda. Begitu aku menjejakkan kaki di lantai gedung perkantoran dan mengalungkan lanyard, teori-teori kritis itu perlahan luntur oleh pragmatisme.
Angka yang masuk ke rekeningku setiap akhir bulan memang lebih besar dari Bapak. Namun, kemapanan yang susah payah kuperjuangkan ini tetap mengejawantah sebagai dinamo high-speed jenis baru.
Rutinitas kantoran mengunciku dalam siklus metrik performa selayaknya mesin. Aku bisa merasakan dan mengatakan kalau pikiranku burnout. Aku juga bisa memetakan quiet quitting, imposter syndrome, hustle culture, work anxiety, sampai poor boundaries. Biarpun demikian, semua kosakata itu tak membuatku lebih bahagia—penderitaanku jadi terdengar lebih “intelektual” barangkali iya.
Seberisik apa pun sumpah serapahku terhadap pekerjaan, esok paginya aku masih harus bangun pagi, menyetrika kemeja, mengenakan lanyard di leher, lalu bergegas mengejar kereta demi memastikan aku tak terlambat. Terus demikian.
Makin dewasa aku merasa terlalu meremehkan sikap nrimo Bapak, padahal hari ini aku mempraktikkan kepasrahan yang persis sama. Hanya saja dibungkus dengan kosmetik urban yang lebih necis: kemeja rapi, minuman manis artisan, langganan streaming, serta tumpukan istilah-istilah bahasa Inggris nonsens di ruang rapat.
Saat tubuhku mulai menolak karena lelah, aku tak banyak bertanya mengapa waktu istirahat selalu dianggap sebagai kemewahan. Aku tetap membeli kopi. Saat kabar layoff beredar dari satu meja ke meja lain, aku tak punya banyak ruang untuk bertanya mengapa hidupku bisa berubah hanya karena sebuah angka di spreadsheet perusahaan. Aku memperbarui CV dan portofolio.
Kami sama-sama memprivatisasi penderitaan struktural menjadi urusan personal. Dan aku, menjelma seperti Bapak.
Selama ini, aku dididik untuk hanya memahami warisan dari sisi ekonomi, biologi, dan budaya; sebut saja sertifikat tanah, susunan genetik, sampai nama marga. Warisan lain yang kudapatkan dari Bapak ternyata mengakar pada diriku sebagai habitus pekerja dalam bentuknya yang paling banal.
Di titik kelelahan yang paling meremukkan tulang punggung, instingku akan senenatiasa mengambil alih untuk memoles setiap rasa sakit sebagai trope heroisme—menahan desakan asam lambung yang membakar pangkal tenggorokan adalah salah satunya. Aku dan Bapak hidup dalam keyakinan tragis seolah hanya melalui penderitaan fisik semacam inilah kami bisa menebus napas untuk hidup sehari lagi.
Luka batin menjadi kelas pekerja di negara ini adalah kenyataan bahwa kami tak punya tangan yang bersiap menangkap punggung kami saat jatuh selain diri kami sendiri.
Pemerintah adalah entitas gaib yang menolak hadir saat kami butuh perlindungan, tapi sangat rajin menyodorkan tagihan. Mereka merogoh saku kami nyaris di setiap tarikan transaksi, lalu lenyap tak berbekas begitu saja. Selebihnya, kami dilepas liar seperti sapi perah, dipaksa merakit jaring pengaman kami sendiri di pasar bebas.
Warga negara yang ideal, warga negara yang “baik”, telah lama didefinisikan sebagai individu-individu kompetitif yang tangguh. Inilah sebabnya mengapa Bapak di masa lalu, dan aku di masa kini, bereaksi dengan cara yang serupa ketika dunia terasa mau runtuh.
Bapak dibentuk oleh pergolakan krisis ekonomi 1998. Sikap nrimo Bapak di dalam rumah bukan sekadar karena ia kurang membaca buku-buku politik. Itu adalah respons logis dari seorang manusia yang dipaksa bertahan hidup di sebuah negara yang terlalu sering meminta warganya beradaptasi.
Sementara itu, pekerjaan-pekerjaan kantoran yang selama ini menjadi tameng kebanggaanku kini sedang direplikasi dan dikerjakan ribuan kali lebih efisien oleh akal imitasi. Barisan kode algoritma ini tak pernah mengeluhkan asam lambung yang kumat atau menuntut jaminan kesehatan dan hari tua.
Ketika kelak akal imitasi itu menekan ongkos operasional hingga ke titik nadir, nasib kelas pekerja hari ini tak akan jauh berbeda dengan mesin-mesin jahit tua karatan. Di mata pemerintah yang sejak awal hanya mengkalkulasi warganya sebagai angka, keusangan kami bukanlah tragedi struktural yang harus ditangani.
Menghadapi hari esok dengan kesadaran yang telanjang, sembari tahu sewaktu-waktu pijakannya dapat ambruk, adalah jenis ketabahan absurd. Kami terlalu dekat dengan jurang, terlalu terbiasa dalam tekanan, dan kami sering lupa jika hidup seharusnya bukan sekadar untuk bertahan.
Begitulah adanya: kami butuh lebih banyak keberanian untuk menjalani hidup daripada menembak diri kami sendiri.1
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Bekerja Sesuai Passion adalah Akal-akalan Kapitalis.
Kita Jadi Gak Sabaran dan Jahat karena Kapitalisme.
Generasi Paling Tahu tapi Paling Tak Berdaya.
Albert Camus, A Happy Death “... It takes more courage to live than to shoot yourself.”


