Oleh: Koalatanpaasmara
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Aku makan sesuap nasi goreng. Satu suap lagi, lalu satu suap lagi. Teman-temanku tidak berhenti berbicara—soal cinta, pasangan, dan mantan pacar. Mereka terus berbincang soal gebetan terbarunya. Lalu topik berganti. Salah satu teman kami akan segera menikah.
Aku tidak mau dengar dan memilih fokus makan. Topik kembali berganti. Kali ini aku ditanya. Tiba-tiba rasanya seperti sulit bernapas.
“Lagi dekat sama siapa, Koala? Aku lihat di story Instagram kamu kemarin pergi sama cewek,” tanya seorang teman.
Aku sempat ragu menjawab. Aku ingin bercerita tentang betapa senangnya menghabiskan waktu bersama temanku. Namun, aku tahu kemungkinan besar mereka tidak akan memahaminya. Bagi banyak orang, kedekatan laki-laki dan perempuan hampir selalu dianggap sebagai sesuatu yang romantis.
“Aku kemarin ice skating sama dia. Dia ulang tahun, jadi aku traktir,” jawabku.
“Kalau segitunya berarti lagi PDKT?” tanya temanku.
“Engga kok, kebetulan ada diskon aja,” jawabku sambil tersenyum.
“Mana mungkin cowok sama cewek deket kalau enggak ada niat sih, haha.”
Dan lagi-lagi mereka tidak memahamiku.
Sebagai seseorang yang tidak bisa jatuh cinta, percakapan seperti itu terasa melelahkan. Jujur, aku kesal. Obrolan orang-orang di sekitarku hampir selalu berputar pada cinta, pacaran, dan pernikahan. Alhasil, kebahagiaan versiku—yang tidak bergantung pada semua itu—nyaris tidak pernah mendapat ruang untuk didengar.
Ini membuatku bertanya: apakah mungkin aku bisa dipahami sebagai aromantis?
Menjadi Aromantis di Indonesia
Memang ada orang-orang yang mudah sekali menyukai orang lain. Ada juga yang jarang jatuh cinta. Beberapa sisanya tidak pernah jatuh cinta sama sekali, bahkan mungkin tidak pernah menyukai teman atau idola dengan cara yang romantis.
Keragaman ini menunjukkan bahwa pengalaman manusia sangatlah luas. Kita mengenalnya dengan spektrum gender, orientasi seksual, dan orientasi romantis.
Mereka yang tidak mengalami ketertarikan romantis atau hanya mengalaminya dalam kondisi terbatas, disebut aromantis. Dalam singkatan LGBTQIA+, kami berada di huruf A bersama aseksual, aplatonis, dan identitas lain dalam spektrum A (A-spec).
Sayangnya, istilah aromantis masih jarang dikenal di Indonesia. Jika mencarinya di internet, kamu mungkin hanya menemukan sedikit konten yang berbahasa Indonesia. Itu pun penjelasannya kurang mendalam. Sebagian besar sumber yang membahas aromantis justru masih lebih banyak dalam bahasa Inggris sehingga banyak pertanyaan sehari-hari yang jarang dibahas.
Bagaimana menghadapi pertanyaan “kapan nikah”? Apakah mungkin membangun keluarga tanpa cinta romantis? Apakah berhak marah ketika teman perlahan menjauh setelah memiliki pasangan? Apakah boleh merasa sedih karena ingin merasakan jatuh cinta, tetapi tidak bisa?
Aku melihat sendiri banyak teman aromantisku bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Beberapa bahkan dipaksa menikah meski tidak menginginkannya.
Padahal, mereka sebenarnya punya pilihan untuk tinggal sendiri atau membangun hidup bersama teman. Tidak semua kebahagiaan harus berpusat pada hubungan romantis.
Keterbatasan informasi membuat orang-orang sulit membayangkan alternatif-alternatif tersebut. Menurutku, persoalan ini juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengakses informasi sering kali ditentukan oleh sumber daya yang ia miliki.
Karena itu, aku sulit memisahkan isu queer, terutama A-spec, dari isu sosial dan ekonomi. Semakin besar akses yang dimiliki seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memahami dirinya dan menentukan masa depannya sendiri.
Belum lagi, masih ada banyak negara, termasuk Indonesia, yang melanggengkan aturan dan norma yang menyulitkan kehidupan seorang A-spec.
Di Indonesia, banyak urusan administratif menjadi lebih mudah ketika seseorang menikah. Hak waris, pengambilan keputusan medis, cicilan KPR rumah, dan berbagai urusan rumah tangga sering kali dirancang dengan asumsi bahwa setiap orang pada akhirnya akan memiliki pasangan dan membangun keluarga inti.
Hal ini berbeda dengan program registered partnership (geregistreerd partnerschap) di Belanda yang memudahkan dua individu yang tinggal bersama dan tidak terikat pernikahan untuk bisa mendapatkan manfaat hukum, pajak, finansial, hak asuh anak, dan pensiun yang mirip dengan orang yang menikah.
Selain itu, ada juga aspek kesetaraan gender, di mana masih banyak perempuan yang dirugikan oleh norma sosial yang menitikberatkan cinta romantis. Mereka ditekan untuk segera menikah. Tapi setelah menikah pun, mereka masih mendapat tekanan untuk diminta tidak bekerja, fokus mengurus rumah, dan taat dalam hubungan yang tidak setara secara ekonomi.
Cinta romantis membuat perempuan hanya fokus pada satu tujuan, yaitu pernikahan, dan tidak mengizinkannya untuk membayangkan bentuk dan alternatif yang lain. Bagaimana kalau perempuan hanya ingin tinggal sendiri, bersama keluarga kandungnya, atau bersama teman?
Isu patriarki masuk ke dalam kehidupan perempuan aromantis. Standar cinta romantis ingin perempuan tidak terlalu pintar karena bisa mengganggu ego dan dominasi laki-laki. Kalimat-kalimat seperti “cewek gak usah sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga rawat keluarga” sering terdengar. Peran perempuan direduksi hanya sebagai perawat, ibu, dan pendukung pasangan.
Aku merasa sangat sedih karena teman-teman aromantis kesulitan mengakses informasi seputar A-spec, hukum di Indonesia tidak cukup ramah, sampai masih banyak unsur patriarkis jika aromantis memilih untuk menikah.
Banyak sekali tekanan dari sisi hukum, agama, dan sosial untuk jatuh cinta. Jika aku cerita soal tidak merasakan cinta romantis, pengalamanku sering tidak dipahami oleh keluarga dan teman. Ketika dijelaskan pun mereka tidak percaya. Aku ditekan untuk segera jatuh cinta dan segera menikah. Ada juga kekhawatiran kalau sudah menikah, teman-temanku akan menjauh perlahan. Apa iya dunia sempit seperti ini?
Membayangkan Masa Depan sebagai Aromantis
Pada Agustus 2022, aku masuk ke dalam komunitas indo.aspec–sebuah komunitas Discord yang berisi orang-orang dengan spektrum yang mirip denganku. Di sana kami berdiskusi dan membagikan konten seputar menjadi A-spec di Indonesia.
Awalnya aku masuk untuk belajar tentang A-spec lebih dalam, kemudian aku menceritakan kisah pribadiku. Lambat laun, aku menemukan teman, kenalan, dan komunitas yang memahamiku lebih dari yang kubayangkan.
Sebuah komunitas di mana mencari pasangan romantis adalah pilihan, bukan kewajiban. Aku tidak lagi merasa sendiri.
Beberapa tahun kemudian, nama komunitas indo.aspec berganti menjadi Natuna. Kami beranggotakan berbagai gender, orientasi seksual, dan orientasi romantis, bahkan ada juga yang tidak aromantis atau aseksual. Kami berupaya menjadi ruang aman untuk A-spec.
Norma yang ada di Natuna tidak mewajibkan satu cara hidup tertentu: kamu boleh mencari pasangan; kamu juga boleh tidak mencari pasangan. Tidak ada salah satu yang lebih istimewa dibandingkan dengan yang lain.
Hal favoritku di Natuna adalah tidak adanya budaya “cie-cie.” Dua orang yang dekat tidak pernah dianggap sebagai kedekatan romantis. Norma yang ada di sini justru terbalik. Kalau kamu suka dengan seseorang, kamu harus berkata langsung, “Aku suka sama kamu secara romantis.” Kode-kodean tidak berlaku di sini. Kalau suka, ngomong, dan kalau perlu, dua kali agar dianggap serius.
Ketika aku bingung, aku bisa bertanya kepada rekan-rekan di Natuna. Bagaimana hidup di masa tua ketika kita memilih tidak menikah? Bagaimana cara bilang ke orang tua kalau aku tidak bisa jatuh cinta? Bagaimana tidak kehilangan teman setelah mereka menikah?
Pengalaman, keresahan, dan keinginanku akhirnya bisa dipahami dan didengar dengan baik. Walaupun tidak selalu ada solusi untuk setiap masalah yang kuhadapi, aku tetap merasa senang. Aku merasa tidak sendiri lagi. Mereka menemaniku dan mengajarkan kalau kita bisa sama-sama belajar hidup sebagai A-spec.
Banyak anggota Natuna merasa tertekan untuk mencari pasangan, menikah, dan hidup sesuai standar cinta “yang sewajarnya”. Tidak jarang kami sedih, kesal, dan merasa kesepian. Di Natuna, kami saling dukung dan berbagi sumber daya untuk merakit hidup kita sendiri. Semua rasa sedih, rendah diri, dan kurang yang kami rasakan divalidasi.
Ini karena kita dikondisikan untuk hidup di dunia yang mengarahkan kita ke satu tujuan: menemukan cinta sejati. Jadi, sangat wajar kalau emosi memuncak. Ini juga dipertegas di dalam film, novel, bahkan institusi negara kita, yang hanya mengizinkan satu jenis hubungan untuk berdiri di paling atas, yaitu cinta yang berujung pada pernikahan.
Natuna juga bukan hanya sekadar tempat cerita dan curhat. Beberapa dari kami sering bertemu offline di berbagai kota dan main bersama. Kami pernah main ke café anjing, kulineran, bahkan naik gunung dan berkemah.
Aku tidak hanya dimengerti, tetapi juga tidak sendiri. Orang yang memahamiku ada di depan mataku tahun demi tahun.
Suatu hari aku mengungkapkan kepada teman di Natuna kalau aku ingin membuat desa.
“Biasanya orang jadi tua, menikah, dan punya keluarga. Aku mau membuat hal yang sama, tapi tanpa ada cinta romantis yang terlibat dan ketertarikan antara satu sama lain,” kataku.
Temanku mendengarkan dan aku lanjut bercerita,
“Orang-orang saling terhubung, saling tolong, dan saling menjaga satu sama lain. Tidak perlu lagi kita takut di masa tua siapa yang asuh,” kataku.
“Aku mau,” kata temanku.
Aku kaget dengan jawabannya.
“Aku mau jadi bagian dari desamu. Aku selalu memperlakukan teman-temanku dengan baik. Makanya, aku ingin kita terus bareng sampai tua,” jawabnya.
Aku tidak mau sendiri dan demikian juga temanku. Kami ingin dukung satu sama lain.
Aku merasa lebih riang semenjak aku masuk Natuna karena menemukan orang-orang yang membuatku bahagia. Aku tidak lagi merasa sendiri dan tidak dimengerti. Aku juga tidak lagi takut kalau ternyata temanku suka denganku secara diam-diam. Hidupku jadi lebih mudah, makin seru, dan penuh dengan hal-hal yang kunanti. Aku bersyukur aku bisa bertemu mereka di Natuna. Terima kasih.
Setelah ikut Natuna, aku terinspirasi membuat konten dan komik singkat tentang pengalaman aromantisku. Aku juga pernah menjadi penerjemah untuk penelitian internasional bertema A-spec dan jadi pembicara di webinar acara A-spec internasional. Aku tidak lagi merasa kecil.
Mungkin sudah saatnya kita mulai mempertanyakan norma sosial yang tidak mengizinkan kita keluar dari standar cinta romantis: Kenapa aku tidak pernah diajarkan kalau orientasi romantis beragam? Kenapa hak-hak sipil sulit diakses kalau belum menikah? Kenapa pacaran malah memperkuat stereotip gender tertentu?
Kepada pembaca, aku tidak berharap untuk dimengerti atau meminta kalian setuju dengan orientasi romantisku. Aku hanya ingin kalian kenal bahwa ada orang yang tidak jatuh cinta. Dengan mendengarkan dan tidak meremehkan hubungan orang lain yang tidak bersifat romantis, itu sudah menjadi satu langkah yang bagus.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Mendefinisikan ulang makna bahagia sebagai gay di sini.
Merayakan Queer di negara yang takut cinta di sini.
Queer Joy sebagai praksis perlawanan di sini.





Kakak, aku relate banget sama tulisan ini 😭 kenapa di Indonesia kita lebih mementingkan cinta romantis dan sebagainya, semuanya sudah tertuang disini. Apalagi keluarga yang selalu mendesak pertanyaan tentang menikah :')
Terima kasih kak dah share pengalaman kakak
Aku bukan aromantis atau bagian dari lgbtqia+, tapi aku emang tidak mendambakan puncak dari hidup aku adalah pernikahan. Jujur setiap kali memberanikan membuka diri dan kasih tau orang sekitar aku gamau menikah, respon mereka selalu binggung bahkan memperdebatkan PILIHAN hidup ku. Padahal menurut ku seharusnya pilihan seperti ini bukan hal yang harus di perdebatkan sih. Tiap manusia punya pemikiran, tujuan dan hak nya masing masing. Jadi kenapa harus di perdebatkan