Oleh: The Goofy Guy
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Dari luar, hidupku terlihat sangat sempurna.
Aku berasal dari keluarga biasa yang berhasil masuk sekolah menengah favorit, lalu berkuliah di salah satu kampus top 3 di Indonesia. Aku pun sempat mendapat beasiswa master di sebuah kampus bergengsi di Amerika Serikat.
Karierku juga berjalan cukup baik. Di usia 30 tahun, aku sudah di posisi senior sebelum akhirnya resign untuk membangun perusahaan sendiri sambil mengejar studi doktoral di Australia. Dengan beberapa staf brilian dan rencana membeli rumah kedua, aku adalah definisi “menantu idaman” yang membanggakan keluarga.
Semuanya terlihat sangat baik-baik saja.
Padahal, di balik semua itu, tubuhku sedang memberontak, meneriakkan sesuatu yang bertahun-tahun kutolak untuk dengar. Jam dua atau tiga pagi, aku sering terbangun tiba-tiba dengan dada yang sesak. Asam lambung naik sampai tenggorokan. Kulitku mulai bersisik dan gatal tanpa alasan yang jelas.
Selama ini, aku menyimpan sebuah rahasia dalam diriku bahwa aku seorang gay.
Aku tertarik kepada laki-laki dan pernah menjalin hubungan selama tiga tahun dengan seorang lelaki. Hubungan itu adalah satu-satunya hubungan romantis yang benar-benar pernah kumiliki.
Aku bukan orang yang out and proud, tapi aku juga tidak hidup sepenuhnya di dalam lemari. Ada cukup banyak teman yang mengetahui orientasi seksualku dan mereka adalah orang-orang yang kupercaya. Aku juga tidak pernah secara aktif memberikan harapan palsu kepada perempuan mana pun. Paling jauh, aku hanya pernah berpura-pura sudah memiliki pasangan perempuan agar tidak terlalu banyak ditanya.
Meski secara sosial aku merasa sudah bisa mengendalikan keadaan, urusan hati ternyata berbeda. Aku masih memendam ketidakamaanan ‘insecurity’ yang sangat dalam, terutama soal cinta: adakah orang di luar sana yang benar-benar mampu mencintaiku apa adanya?
Di dunia percintaan homoseksual yang, menurutku, sangat berfokus pada visual, tubuh bagus sering kali menjadi mata uang utama ketertarikan sehingga rasanya sulit berharap menemukan hubungan yang membawa rasa aman dan ketenangan hati.
Hubungan yang penuh komitmen terasa seperti kemewahan yang mungkin tidak akan pernah bisa kumiliki.
Secara fisik, aku merasa tidak jelek-jelek amat, walaupun mungkin tidak setampan influencer Instagram dengan ribuan pengikut. Aku tidak punya otot yang terdefinisi. Perut dan dadaku bergelambir dengan body fat di atas 25 persen. Aku cukup bangga dengan tinggi badanku yang di atas 180 sentimeter, tapi mungkin hanya itu.
Dalam standar konvensional masyarakat kita, aku yakin aku tidak bisa disebut “jelek”. Tapi di lingkungan gay, standar penampilan sering terasa begitu tinggi dan nyaris mustahil dikejar.
Lama-lama, aku mulai melihat tubuhku sendiri dengan kecewa. Dan perasaan ini terus menjalar melampaui batas fisik, menyentuh sisi lainnya yang jauh lebih dalam.
Tumbuh sebagai seorang gay di Indonesia, terlebih di keluarga yang relatif homofobik, membuatku belajar menyembunyikan diri sejak sangat muda. Aku belajar memperhatikan cara berbicara, cara berjalan, gestur tangan, cara menatap orang.
Aku belajar bagian mana dari diriku yang aman diperlihatkan dan bagian mana yang harus dikunci rapat-rapat. Aku tidak pernah benar-benar berbicara terbuka tentang ketertarikanku kepada sesama jenis, bahkan kepada diriku sendiri. Aku menjadi terbiasa menahan perasaan. Terbiasa menjaga jarak. Terbiasa hidup seperti benteng.
Semakin lama aku melakukannya, semakin aku kehilangan kemampuan untuk melihat diriku sendiri dengan jujur. Namun, memasuki akhir usia 30-an, tubuhku akhirnya mulai menyerah.
Aku menemui beberapa dokter dan kebanyakan hanya memberiku obat untuk meredakan gejala. Sampai suatu hari aku bertemu seorang psikolog. Dari sesi pertama, ia mengatakan sesuatu yang membuatku sangat tidak nyaman: kemungkinan besar aku mengalami stres berat dan tubuhku bereaksi karenanya.
Sebagian diriku langsung menolak simpulan itu. Aku merasa hidupku baik-baik saja. Karierku berjalan. Finansialku stabil. Aku produktif. Aku ambisius. Aku masih bisa tertawa bersama teman-temanku. Jadi bagaimana mungkin aku stres berat?
Psikolog tersebut akhirnya mengajariku mindfulness. Praktik untuk menyadari perasaan tanpa langsung menghakimi atau menolaknya. Ia juga mengajariku meditasi dan teknik pernapasan untuk menenangkan diri.
Awalnya aku merasa semua itu asing. Sebagai orang yang terbiasa hidup di kepala sendiri dan menjadikan pekerjaan sebagai pelarian utama, duduk diam bersama perasaan terasa jauh lebih sulit daripada bekerja sampai larut malam.
Namun, dari situlah aku mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih besar: sumber stresku bukan semata-mata pekerjaan. Aku stres karena aku membenci bagian dari diriku sendiri.
Aku menyadari bahwa selama ini aku memang menggunakan ambisi sebagai tempat pelarian. Aku begitu takut menjadi gay sehingga menghabiskan bertahun-tahun hidupku mencoba menjadi versi diriku yang lebih “aman”, lebih “normal”, lebih bisa diterima.
Aku membangun tembok yang sangat tinggi untuk melindungi diri dari rasa malu dan ketakutan. Tanpa kusadari, benteng yang sama justru ikut menghalangi orang lain melihat diriku sekaligus mengaburkan pandanganku terhadap diriku sendiri.
Dalam proses rekalibrasi psikis itulah aku mulai melihat kembali relik-relik pertahanan yang sudah kubangun sejak kecil. Sedikit demi sedikit aku mencoba meruntuhkannya. Aku mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu kulakukan agar terlihat seperti “lelaki normal”, lalu secara sadar mencoba menghentikannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai mencoba menerima diriku sendiri tanpa syarat. Aku mulai memahami bahwa menerima diri tidak harus selalu berarti mengumumkan orientasi seksual kepada semua orang. Yang paling penting justru adalah berhenti berperang dengan diri sendiri.
Aku tidak pernah benar-benar sadar seberapa beruntung diriku terlahir sebagai seorang gay sampai tubuhku memaksa aku untuk menyadarinya.
Tidak ada yang salah dengan menyukai laki-laki. Itu hanyalah salah satu bentuk keberadaan manusia yang diberikan Tuhan kepadaku sebagai ciptaan-Nya. Tugasku hanyalah belajar hidup baik bersama anugerah tersebut.
Dan semakin aku menerima diriku sendiri, semakin aku menyadari bahwa orientasi seksualku membentuk cara pandangku terhadap dunia. Karena kemungkinan besar aku tidak akan menjalani hidup yang sepenuhnya konvensional, aku jadi bisa melihat banyak struktur sosial dari luar.
Aku mulai menyadari bagaimana perempuan sering ditempatkan dalam posisi yang jauh lebih rentan dalam relasi heteroseksual—terutama secara ekonomi. Aku melihat bagaimana laki-laki sering lebih mudah “dimaafkan” ketika berselingkuh dibandingkan dengan perempuan. Aku juga cukup sering menemukan laki-laki gay atau biseksual yang tetap menikah dengan perempuan sambil diam-diam menjalin hubungan dengan sesama jenis di belakang layar.
Karena hidup sedikit di luar struktur itu, aku jadi bisa melihatnya dengan lebih jelas.
Mungkin tanpa kusadari, menjadi gay memberiku sensitivitas tertentu terhadap isu keadilan, relasi kuasa, dan bagaimana manusia saling melukai karena takut menjadi dirinya sendiri.
Tentu saja, aku masih terus berproses.
Mungkin aku tidak akan memiliki istri dan tiga anak dengan stiker keluarga di belakang mobil seperti kebanyakan orang. Mungkin aku tidak akan pernah merasakan menjemput anak pulang sekolah.
Dulu, pikiran itu terasa sangat menyedihkan bagiku. Tapi sekarang aku mulai melihat bahwa hidupku tetap bisa penuh makna, hanya mungkin bentuknya berbeda.
Aku bisa memilih untuk mendedikasikan hidupku pada sesuatu yang kupercaya. Misalnya, menjaga lingkungan hidup, adalah sesuatu yang sangat kupedulikan. Aku juga bisa memilih membangun kehidupan bersama teman-teman yang juga memilih jalan hidup yang tidak konvensional.
Dengan kata lain, aku bisa menentukan sendiri seperti apa arti keluarga, cinta, dan kebahagiaan bagiku. Dan untuk pertama kalinya, semua itu tidak lagi terasa seperti kekalahan.
Dari rasa syukur itulah aku mulai menemukan harapan. Harapan untuk hidup yang lebih damai di masa depan. Dengan kesadaran penuh bahwa tidak semua orang bisa seberuntung diriku, aku bertekad untuk tidak menghabiskan hidup hanya untuk tenggelam dalam ketakutan. Aku ingin hidup dengan harapan.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai mengerti mengapa aku bisa bersyukur diciptakan sebagai seorang gay.
Epilog
Suatu siang bolong di hari Senin, aku sedang bekerja ketika saudaraku yang sudah berumur 40-an dan memiliki empat orang anak, yang tinggal di lingkungan religius konservatif, tiba-tiba meninggalkanku sebuah pesan WhatsApp. Ternyata tanpa kusadari, ia melihat postinganku di Threads tentang tidak berniat menikah.
“Gak perlu menikah juga gak apa-apa. Gak usah takut sendirian. Sudah tua juga, kamu punya banyak keponakan.”
Mungkin kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagiku, rasanya seperti semesta akhirnya berkata bahwa hidupku juga tetap layak dijalani.



