Aku menyambut baik antusiasme salah seorang laki-laki yang ingin berkencan denganku. Saat bertemu, kami bertukar banyak cerita, mulai dari pekerjaan kami, hobi, hingga masalah-masalah sosial-politik yang sedang naik ke permukaan.
Percakapan kami mengalir bak air yang turun dari hulu ke hilir. Lancar dan tanpa kendala. Sampai pada penghujung percakapan, muncul satu topik yang menggelitik perhatianku.
Pada mulanya ia bertanya, “Nanti kalau bapak ibumu sudah tua, siapa yang akan jaga? Kamu atau adikmu?”
Kujawab singkat, “Kemungkinan besar adikku, kalau kamu?”
Ia menjawab, “Aku, karena memang pengen dekat sama bapak ibu dan kakakku sudah punya keluarga sendiri dan tinggal di luar kota.”
Pertanyaan lanjutan pun aku lontarkan, “Kalau kamu sudah menikah, prioritasnya siapa? Ibu atau istrimu?”
Ia menjawab tanpa ragu, “Ibu nomor satu (sambil mengacungkan salah satu jari telunjuknya ke atas). Ibu tetap prioritas.”
Jujur saja, aku agak tidak nyaman dan gelisah setelah mendengar jawabannya.
Dua hari berselang, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini ke arah romantis. Aku menyudahi proses perkenalan ini karena ia lebih memprioritaskan ibunya dibandingkan dengan pasangannya ketika sudah berumah tangga.
Cerita di atas adalah sebagian kecil perjalanan cintaku selama satu setengah tahun ke belakang. Di luar laki-laki yang aku ceritakan pun, ada pula beberapa laki-laki lainnya yang datang dari latar belakang keluarga, pendidikan, dan pekerjaan yang berbeda-beda. Umurnya pun juga berbeda: ada yang seumuran, lebih tua, ataupun lebih muda.
Jawaban mereka kurang lebih selalu sama, dan aku selalu merasa tidak nyaman.
Tapi kemudian muncul pertanyaan: kenapa aku, sebagai perempuan, seperti harus membandingkan diriku dengan perempuan lain, ya? Mengapa juga laki-laki harus memilih antara aku dan ibunya?
Aku menemukan sebuah pola yang mirip setiap aku berkenalan dengan laki-laki baru: aku merasa seperti harus selalu membandingkan diriku dengan perempuan lain, dalam hal ini, ibu laki-laki yang aku ajak berkencan. Alih-alih mendapatkan pasangan, aku malah mendapatkan kesadaran sistem.
Aku menaruh sangsi pada sistem patriarki; tentang keberhasilan patriarki menciptakan rivalitas antarperempuan. Ada persaingan tak kasat mata antara sesama perempuan dalam suatu tatanan, termasuk keluarga. Misalnya, antara ibu dan anak perempuan atau ibu mertua dan menantu perempuan.
Aku yang sadar akan sistem yang tidak adil ini tentu ingin melawan dan menciptakan dunia yang baru dan lebih baik bagi perempuan lainnya. Dunia di mana perempuan bisa memilih menjadi apa dan siapa, tidak terbelenggu oleh standar dan tugas yang diciptakan oleh laki-laki dalam hidupnya.
Sayangnya, tanpa aku sadari, di saat aku ingin melawan sistem ini, aku malah ikut melanggengkannya.
Sistem patriarki seakan-akan membentuk anggapan bahwa hanya laki-laki seorang yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan. Dan ruang aman itu hanya tersedia bagi satu orang perempuan saja, sehingga ibu dan calon pasangan harus berebut untuk mendapatkan posisi tersebut.
Dalam salah satu studi dari Pew Research Center (2018), dijelaskan bahwa konflik antara mertua dan menantu lebih banyak terjadi pada relasi sesama perempuan dibandingkan dengan mertua laki-laki.
Dan sudah seharusnya kita mulai mempertanyakan, “Kenapa pihak yang sering berkonflik itu ibu mertua dan menantu perempuan, ya? Jarang sekali kita temui konflik antara bapak mertua dan menantu laki-laki, ‘kan?”
Patriarki menyebabkan perempuan harus bersaing untuk mendapatkan ruang aman di dalam rumah. Masalah sistemik ini kadang berubah menjadi masalah personal yang mempersempit kesempatan perempuan untuk menjadi mandiri.
Di dalam sistem yang patriarkis, perempuan harus selalu hidup sesuai dengan standar-standar yang diciptakan untuk melayani laki-laki.
Perempuan seperti selalu berada dalam posisi subordinat: ketika menjadi anak, ia diminta pengertian kepada orang tua; ketika menjadi kakak, ia diberi tanggung jawab moral untuk menjadi “contoh baik” bagi adik-adiknya; ketika orang tua sakit, ia diharapkan menjadi pengasuh secara sukarela; sebagai seorang ibu dan istri, ia harus melayani suami, menyiapkan makan, mengurus rumah dan anak-anak, dan hal ini sering dilakukan seorang diri tanpa support system yang cukup.
Semua ini harus dilakukan oleh perempuan dengan dalih bahwa ini adalah “kodrat” mereka di keluarga dan masyarakat. Akibatnya, perempuan yang paling patuh pada standar patriarki ialah yang dianggap paling berhasil memuaskan laki-laki dan berhak atas ruang aman.
Ditambah lagi, ketika patriarki meminta perempuan bergantung pada laki-laki untuk mendapatkan rasa aman tersebut, banyak laki-laki justru mempunyai maskulinitas rapuh, minimnya kapasitas, serta ketidakmampuan mengelola emosi sehingga akhirnya mengurangi rasa aman perempuan, baik secara personal maupun emosional. Ironisnya, perilaku-perilaku dalam diri laki-laki adalah hasil dari sistem patriarki itu sendiri.
Kehidupan di keluarga patriarkis juga tidak pernah memberikan pelajaran tentang komunikasi emosional yang sehat, dan siklus ini terus berulang serta diwariskan secara turun-temurun. Anak laki-laki terjebak dalam siklus toksik yang diciptakan patriarki, yaitu pola asuh yang tidak didasarkan pada rasa cinta dan kasih sayang, melainkan pada insecurity atau rasa tidak aman dan trauma ayah-ibunya.
Inilah lingkaran setan patriarki. Ketika perempuan ingin melawan, malah secara tidak sadar ikut terjebak dan mempertahankan sistem ini karena perempuan menganggap ini satu-satunya cara agar bisa bertahan di sistem yang tidak adil bagi mereka. Sedangkan buat laki-laki, banyak yang secara tidak sadar melanjutkan sistem ini ke dalam keluarga baru yang mereka bangun.
Menurutku, jika sebuah keluarga tidak mengimani sistem patriarki di dalamnya, maka ruang aman personal dan emosional akan terbentuk. Sehingga ibu dan menantu—seorang perempuan—bisa bergantung pada dirinya sendiri dan tetap merasa aman, tanpa harus bergantung pada sosok laki-laki lain, baik suami maupun anak laki-lakinya.
Seperti halnya parasit yang menempel pada inangnya, sistem patriarki melekat erat pada diri masing-masing individu—struktur berpikir, pandangan sosial, hingga keputusan-keputusan yang seseorang buat setiap harinya.
Jika seorang individu tidak punya kemampuan untuk membebaskan diri dari nilai-nilai destruktif patriarki, maka ia akan membawa nilai-nilai ini ke dalam keluarga yang ia bangun.
Terciptalah keluarga disfungsional—setiap individu, baik ayah, ibu, anak laki-laki, atau anak perempuan, membawa nilai patriarkis yang malah menjauhkan keluarga untuk menjadi ruang aman bagi setiap anggotanya.
Dari sini aku menyadari: generasi terus berganti, tapi sistem patriarki tetap lestari. Selama itu pula, sistem ini menempatkan perempuan sebagai nomor dua dan harus selalu bersaing dengan perempuan lainnya, sehingga hak-haknya dikesampingkan dan tetap buram.
Laki-laki juga harus bekerja lebih keras untuk keluar dari jeratan sistem patriarki ini. Mereka tidak seharusnya perlu memilih untuk menomorsatukan ibu atau pasangannya. Seorang ibu dan menantu perempuan seharusnya tidak perlu berebut hierarki di hadapan laki-laki, melainkan bisa berjalan berbarengan dan saling dukung dengan setara.
Aku harap, sebagai perempuan, kita punya cukup keberanian untuk keluar dari lingkaran setan patriarki yang selama ini memosisikan kita untuk selalu berebut ilusi rasa aman dari seorang laki-laki. Hidup dalam sistem yang tidak berpihak kepada kita sudah memberatkan. Maka, kita perlu saling mendukung satu sama lain.
Untuk laki-laki, aku harap kalian lebih bijak dalam membentuk sistem yang lebih baik dalam keluarga yang ingin dibangun karena peran kalian krusial dalam membentuk generasi baru di masa depan yang lebih setara, adil, dan memberdayakan.
Bacaan lebih lanjut
Cleary, A. (2022). Emotional constraint, father-son relationships, and men’s wellbeing. Frontiers in Sociology, 7, 868005. https://doi.org/10.3389/fsoc.2022.868005
Korniawati, D., & Rahim, A. (2024). The influence of patriarchal culture on social life in Javanese families in Wolio sub-district. Cendikia: Media Jurnal Ilmiah Pendidikan, 14(6), 608–615.
Novianti, E. D., & Fitriani, A. Z. (2026). Analysis of the impact of patriarchal culture in family dynamics on child parenting and emotional development. ISO Journal: Journal of Social, Political and Humanities Sciences, 6(1), 1–7.
Elzahra, H. R. (2025, October 4). Queen Bee Syndrome: Ibu, Mertua, Menantu dan Luka yang Diwariskan. Mudalah.id. Retrieved April 14, 2026, from https://mubadalah.id/queen-bee-syndrome-ibu-mertua-menantu-dan-luka-yang-diwariskan/
Maulida, S. (2025, August 15). Kala Ibu Jadi Sumber Kesakitanku: ‘Queen Bee Syndrome’ dalam Keluarga. Magdalene. Retrieved April 14, 2026, from https://magdalene.co/story/queen-bee-syndrome-pada-ibu/
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Tentang pelanggengan kekerasan dan patriarki di sini.
Tentang tren baddie yang maknanya sekarang disabotase di sini.
Tentang kapitalisme dan kelelahan kolektif di sini.
Tentang ilusi mencari pekerjaan yang sempurna di sini.



Betul-betul artikel yang sangat mencelikkan. Mungkin inilah kenapa aku betul-betul menolak menikah, entah mengapa ada rasa takut berlebihan jika pada akhirnya ditinggalkan karena kondisi orang tua. Thank you. Bisa banget jadi refleksi diri.
Namun, satu hal yang jadi pertanyaan besarku adalah, apakah breaking the cycle akan semudah itu? Semudah tidak melanggengkan cara pikir yang demikian? Eheheh.
kak sumpah tulisan" kamu bagus" banget dan membuka pikiran! seneng bacanyaaa >_<