Oleh: Ellyen Darananta
Sewaktu kecil, kita diajarkan untuk punya cita-cita. Untuk bermimpi setinggi mungkin. Bahkan presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah berkata:
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”
Kata-kata ikonik nan indah. Penuh harapan. Tapi semakin dewasa, kalimat itu terasa semakin sulit dipercaya.
Anehnya, bukan karena kita kekurangan informasi. Justru sebaliknya. Kita hidup di zaman di mana informasi bisa didapat hanya lewat ujung jemari. Kita tahu banyak hal dengan cepat. Terlalu banyak, bahkan.
Coba saja berselancar di internet selama lima menit. Dalam waktu sesingkat itu, mungkin kita sudah melihat berita perang, orang kehilangan rumah karena bencana, harga kebutuhan yang naik lagi, lapangan pekerjaan yang semakin sempit, krisis politik, bumi semakin panas, sampai perkembangan teknologi yang sangat jauh, bahkan lebih jauh dari kemampuan manusia untuk mengejarnya.
Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Kita sadar akan semua itu. Kita melihat, kita membaca, tapi sering kali tidak tahu apa yang bisa kita lakukan terhadapnya. Dan semakin ke sini, semakin sulit juga untuk percaya bahwa semuanya benar-benar akan membaik. Rasanya ironis.
Waktu kecil, dunia orang dewasa terlihat menyenangkan. Punya uang sendiri, punya kebebasan sendiri, bisa menentukan arah hidup sendiri. Rasanya seperti masuk ke level kehidupan yang lebih seru.
Tapi setelah benar-benar tumbuh dewasa, ternyata sebagian besar waktu habis hanya untuk bertahan hidup.
Bangun pagi, bekerja, menghadapi tekanan, pulang dalam keadaan lelah, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Sampai kadang lupa bagaimana caranya benar-benar menjalani hidup itu sendiri.
Entah ini karena menjadi dewasa di era yang salah atau bagaimana, tapi sekarang rasanya masih bisa punya mimpi dan harapan saja sudah termasuk privilese. Hari demi hari terasa seperti krisis yang datang bergantian tanpa jeda. Tubuh terus hidup dalam survival mode. Otak terlalu lelah untuk membayangkan masa depan yang jauh.
Akhirnya kita mencari pelarian tercepat yang tersedia, yaitu dopamin instan.
Doomscrolling berjam-jam. Refresh media sosial tanpa sadar. Menonton video pendek sampai jam dua pagi hanya supaya otak berhenti berpikir sebentar.
Dan jujur saja, kita sebenarnya tahu itu tidak benar-benar membantu. Tidak membuat hidup lebih baik juga. Tapi setidaknya, untuk beberapa detik, kita bisa lupa betapa beratnya kenyataan. Kita hanya mencari bius agar suara bising di kepala bisa berhenti berteriak sebentar. Mungkin itu juga alasan kenapa kata overwhelmed sekarang terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Aku sendiri sering merasa overwhelmed. Salah satu penyebab terbesarnya adalah karena terus-menerus terekspos berita buruk. Sampai di satu titik, aku pernah sengaja menonaktifkan media sosial. Aku pikir kalau aku berhenti melihat berita, mungkin pikiranku bisa sedikit lebih tenang. Mungkin aku bisa fokus menjalani hidupku sendiri tanpa terus dibanjiri kecemasan dari seluruh dunia.
Tapi ternyata tidak semudah itu. Bahkan ketika mencoba menutup diri pun, berita buruk tetap sampai. Perang, krisis ekonomi, kekerasan, pemutusan kerja, bencana alam.
Seolah dunia sedang runtuh dengan suara yang begitu keras sampai tetap terdengar bahkan ketika kita menutup telinga.
Dan ketika kita belum selesai memproses semua itu, muncul lagi satu hal yang mengubah cara hidup kita, yaitu Artificial Intelligence (AI). Sebuah solusi yang menawarkan kemudahan, kecepatan, dan jawaban instan untuk hampir segala hal.
Aku tahu banyak orang melihat AI sebagai kemudahan, dan aku setuju. AI memang membantu banyak hal. Tapi ada ketakutan lain yang jarang dibicarakan:
Bagaimana kalau perlahan kita mulai kehilangan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri? Sedikit-sedikit bertanya kepada AI. Sedikit-sedikit konfirmasi ke AI.
Sampai akhirnya kita lupa rasanya yakin pada pikiran sendiri. Lupa rasanya mencoba salah, belajar pelan-pelan, atau percaya bahwa otak kita sebenarnya mampu bekerja tanpa selalu meminta validasi dari mesin. Yang lebih ironis lagi, perkembangan AI yang terlihat “tidak berwujud” ini ternyata tetap meninggalkan jejak nyata pada dunia.
Kita jarang memikirkannya karena semua terasa sesederhana mengetik pertanyaan, lalu jawaban muncul dalam hitungan detik. Padahal di balik itu, ada pusat data raksasa yang menyala dua puluh empat jam, menggunakan energi besar dan air dalam jumlah tidak sedikit untuk mendinginkan sistemnya. Hanya untuk sekadar mencari jawaban tercepat dan sederhana, dunia tetap harus membayar harga tertentu.
Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada krisis iklim. Sayangnya, banyak orang masih menganggap krisis iklim sebagai sesuatu yang jauh di masa depan. Padahal kita sedang hidup di dalamnya sekarang. Cuaca semakin panas. Musim semakin sulit diprediksi. Bencana terasa lebih sering datang. Tapi karena semuanya terjadi perlahan, banyak dari kita jadi terbiasa.
Mungkin manusia memang punya kemampuan aneh untuk menormalisasi keadaan buruk selama itu terjadi cukup lama dan tidak langsung besar-besaran. Semua hal ini terjadi bersamaan. Masalah demi masalah, tanpa jeda yang cukup untuk bernapas. Tanpa waktu yang cukup untuk benar-benar memproses semuanya.
Dan di tengah semua kekacauan itu, kita tetap dituntut untuk terus berjalan normal. Harus terus produktif. Punya semangat dan selalu optimis.
Padahal, bagaimana orang bisa terus bermimpi ketika masa depan terasa semakin sulit dan rapuh?
Kita tumbuh menjadi generasi yang sadar akan begitu banyak masalah, tapi tidak punya cukup energi untuk memperjuangkannya. Kita paling “tahu” tapi paling “tidak berdaya”.
Kadang masih ada keinginan untuk peduli. Untuk tetap bersuara. Untuk ikut memperbaiki keadaan. Ada bagian kecil dalam diri yang masih ingin percaya bahwa perubahan itu mungkin, bahwa bermimpi itu masih mungkin.
Tapi realitasnya, bahkan untuk bertahan hidup sehari-hari saja, banyak orang sudah kehabisan tenaga. Boro-boro menggantungkan mimpi setinggi langit.
Kadang yang lebih realistis hanyalah menyimpan cita-cita di atas bantal, lalu membayangkannya sebentar sebelum tidur. Bukan karena kita tidak mau mengejar mimpi. Tapi karena dunia memang terasa seberat itu untuk dilawan setiap hari.
Sedih memang, tapi masuk akal.
Kita berdiri di persimpangan yang aneh, semakin pintar karena kecanggihan teknologi, tapi semakin kosong karena semakin kehilangan koneksi dengan realitas. Kita mengonsumsi jawaban dengan instan, tapi kehilangan pertanyaan-pertanyaan besar tentang esensi hidup. Kita berjalan di atas planet yang semakin memanas, tapi dengan hati yang semakin lama semakin dingin.
Empati jadi mati rasa. Ambisi jadi luka. Semua orang berlomba terlihat berhasil, sementara diam-diam banyak yang bahkan tidak yakin sanggup bertahan sampai minggu depan.
Lalu, apakah kita akan terus membiarkan diri kita digiling oleh keadaan? Bergantung pada algoritma untuk menentukan kapan kita harus cemas dan kapan kita harus merasa gagal?
Jika langit sudah terlalu jauh untuk dicapai karena tertutup kabut polusi dan kebisingan digital, mungkin sudah saatnya kita berhenti mendongak dan mulai melihat ke bawah. Karena apa gunanya bermimpi setinggi langit jika kita kehilangan tanah tempat kita berdiri?
Menurutku, ungkapan Presiden Sukarno tidak seutuhnya salah. Namun, kita perlu mengubah cara memaknainya.
Menurutku mimpi yang paling realistis saat ini bukan lagi untuk digantung jauh di atas langit, tapi dibawa turun ke bumi melalui tindakan-tindakan kecil yang nyata. Tidak harus langkah besar, tidak harus menaklukkan dan menyelamatkan seluruh umat manusia di bumi.
Mungkin sekarang, bermimpi berarti tetap berusaha.
Bangun pagi dan tetap mencoba jadi orang baik, jadi orang yang peduli, meskipun kita tahu dunia sedang tidak baik-baik saja. Mencari damai di tengah kehidupan yang bising. Memilih berjalan saat seluruh dunia memaksa untuk terus berlari.
Dan mungkin bentuk perlawanan yang paling radikal saat ini yaitu tetap memiliki pengharapan walaupun itu tampak seperti nyala lilin kecil di tengah badai.
Harapan untuk bertahan satu hari lagi. Harapan untuk tetap peduli pada sesama walau hidup kita sendiri sedang terjepit. Harapan untuk tetap menjadi manusia seutuhnya di tengah kepungan mesin yang tidak punya hati.
Pada akhirnya, kita mungkin tetap akan jatuh di antara bintang-bintang. Namun kini bintang-bintang itu tidak lagi terasa dingin dan jauh, karena di tengah kegelapan yang pekat ini, kita masih memiliki satu sama lain untuk tetap saling menyalahkan.
Dan mungkin, di zaman seperti sekarang, menjaga cahaya itu tetap hidup sudah merupakan bentuk mimpi yang sangat besar.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Tentang patriarki dan rivalitas perempuan di sini.
Tentang tren baddie yang maknanya sekarang disabotase di sini.
Tentang kapitalisme dan kelelahan kolektif di sini.
Tentang ilusi mencari pekerjaan yang sempurna di sini.



Di era teknologi sekarang ini, bermimpi dan bercita cita mungkin adalah sebuah privelese, tapi menuntut ilmu, menimba ilmu bukan lagi sebuah privelese, yang dimana orang bisa mengetahui segala ilmu pengetahuan hanya dengan ketukan jari, berbeda dengan dulu, menuntut ilmu adalah privelese karena membutuhkan buku yang tidak semua orang bisa dapatkan, dan guru yang tidak semua orang punya koneksi yang luas.
Bukan hanya berita ataupun sesuatu yang mengguncang emosi yang bikin kita lelah, mau bagaimanapun, berhenti menjadi penonton pasif itu jauh lebih baik.