Oleh: E. J. Bram
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Saya adalah pria kwir (queer) yang berasal dari generasi sebelum milennial dan Gen Z. Namun, saya bukan boomer. Saya Gen X, generasi yang sering kali terlewat karena tampaknya lebih mudah menyamaratakan semua orang seusia saya sebagai boomer. Walaupun belum setua generasi boomer, adik-adik Gen Z pasti akan menyapa saya dengan sebutan “Om” jika berpapasan dengan saya di mal.
Ah, omong-omong soal mal, saya suka sekali pergi ke mal karena sering menyaksikan queer joy anak-anak zaman sekarang dalam berbagai bentuknya di sana. Banyak adik-adik kwir yang nongkrong santai dan tertawa lepas bersama lingkar pertemanannya.
Ada juga yang duduk berdua di restoran dan mengobrol dengan canggung—tebakan saya, mereka sedang kencan pertama setelah berminggu-minggu berkenalan lewat aplikasi kencan. Di sudut mal yang lain, saya bisa berpapasan dengan sekelompok kwir muda yang begitu percaya diri mengekspresikan identitas mereka melalui pilihan fesyen yang berani.
Melihat ini semua, saya merasa senang. Di tengah masyarakat kita yang semakin konservatif, adik-adik masih bisa menemukan queer joy dan terhubung dengan teman-teman yang sefrekuensi, komunitas yang sevisi, dan pacar yang sehati.
Saya jadi berpikir, beruntungnya generasi yang hidup di era digital yang bisa mempertemukan segala jenis orang. Yah, kita boleh punya pendapat macam-macam tentang teknologi. Tapi satu yang tidak bisa dibantah: teknologi berperan besar sekali untuk queer joy yang kita nikmati sekarang.
Kita boleh saja memiliki beragam pendapat tentang teknologi. Namun, ada satu hal yang sulit dibantah: teknologi berperan sangat besar dalam menghadirkan queer joy yang kita nikmati saat ini.
Pernyataan tersebut memang membuat saya terdengar seperti semacam Jeff Bezos versi kwir yang agak sinting. Namun, coba pikirkan lagi. Geser kiri-kanan di aplikasi kencan, geser atas-bawah di aplikasi hookup, menemukan teman dengan minat yang sama di Instagram, berdebat soal queer rights di X, atau menatap layar ponsel sampai pagi karena baru menemukan saluran porno yang sesuai dengan minat kita yang sangat spesifik (hayo, mengaku saja, ini ruang aman, kok!).
Semuanya terjadi berkat teknologi, bukan?
Mungkin adik-adik akan bertanya, “Terus, waktu zaman Om dulu gimana tuh? ‘Kan teknologi belum kayak sekarang. Social media saja belum ada.” Nah, di sini cerita tentang queer joy saya dimulai.
Alkisah, sebelum era aplikasi kencan, aplikasi hookup, Jumat malam di bar Jakarta Selatan, riuhnya acara komunitas ballroom scene, atau sekadar kumpul-kumpul santai di toko buku skena membahas novel kwir terbaru, ada sebuah ruang rahasia yang mempertemukan para kwir yang baru mulai “meletek” di era 90-an.
Ruang ini bahkan tidak punya bentuk fisik. Ia sepenuhnya maya. Apa yang terjadi dalam ruang itu, seringnya, hanya bisa kita mainkan di dalam kepala kita saja. Di ruang ini, ada banyak “pintu ke mana saja”. Dan kunci untuk membuka pintu-pintu itu hanya tiga huruf saja:
A/S/L
Di era analog yang sedang merangkak menuju era digital, ketika internet mulai masuk ke dalam hidup kita, saya dan sesama kwir muda menemukan satu sama lain di sebuah situs obrolan bernama mIRC, tepatnya di ruang obrolan bertajuk #gim—singkatan dari Gay Indonesian Male. Di sana, kita bisa mengklik username yang menarik perhatian dan mengajak pemiliknya mengobrol.
Salam pembuka yang khas saat itu adalah: a/s/l? Singkatan dari age/sex/location? Biasanya dijawab dengan format seperti ini: 23/m/jkt atau 30/m/sby. Dari pertukaran salam sederhana itu, pintu kemungkinan bisa terbuka ke mana saja.
Bagi kami waktu itu, cara bertemu seperti ini terasa sangat revolusioner. Setelah mendengar kisah generasi sebelum kami yang hanya bisa bertemu di tempat-tempat cruising atau menggunakan kode-kode seperti saputangan di kantong belakang celana, akhirnya kami bisa mencari teman untuk mengobrol sesuai keperluan dan minat masing-masing tanpa harus selalu dibayangi embel-embel seks atau kode-kode membingungkan yang bahkan bisa berujung ditangkap Satpol PP
Ruang obrolan ini menjadi ruang yang aman, anonim, dan bebas dari penggerebekan.
Tentu, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aplikasi kencan atau aplikasi hookup zaman sekarang yang berbasis lokasi dan memungkinkan kita bertukar foto atau melakukan panggilan video dengan mudah. Dulu, bertukar foto harus dilakukan melalui situs web terpisah dan membutuhkan beberapa langkah. Setelah itu, mengunduhnya pun memerlukan waktu lagi.
Jangankan mengirim foto atau video, untuk bisa memakai internet saja kami harus bersabar menunggu sambungan modem dial-up hanya untuk terhubung ke koneksi dengan kecepatan 14 kbps. Namun, tantangan-tantangan seperti inilah yang membuat pengalaman tersebut terasa begitu langka dan berharga.
Bagi adik-adik Gen Z, cara seperti ini mungkin sama sekali tidak terbayangkan. Rasanya seperti zaman prasejarah saja. Namun, bagi kami, inilah queer joy kami. Saya masih ingat bunyi modem dial-up yang berisik bercampur dengan degup jantung saat menunggu internet tersambung. Kami tidak sabar mencari tahu: malam ini, pintu ke mana saja itu akan membawa kami dan kepada siapa lagi.
Keribetan bertukar foto juga membuat imajinasi kami bermain lebih liar. Bahkan, tidak jarang kami memutuskan untuk bertemu tanpa melihat foto terlebih dahulu. Hasilnya tidak selalu sesuai harapan, tetapi justru itulah yang membuat pengalaman ini terasa mendebarkan dan berkesan.
Karena waktu itu koneksi internet masih menyatu dengan saluran telepon rumah—dan biayanya cukup mahal, dihitung per menit, tidak unlimited seperti sekarang—kami juga tidak selalu bisa leluasa berselancar di internet dari rumah. Kalau situasinya sudah begini, kami memilih menghabiskan berjam-jam di bilik-bilik warnet 24 jam yang saat itu menjamur.
Di bilik-bilik kecil ini, privasi cukup terjamin. Waktu itu belum zamannya orang ke mana-mana membawa ponsel berkamera dengan rasa ingin tahu yang berlebihan dan hasrat untuk menjadi viral di media sosial. Kami hening di bilik masing-masing. Yang terdengar hanya bunyi jari mengetik di keyboard, desis asap rokok yang diembuskan, atau seruputan kopi sasetan.
Di warnet, kami bebas mengobrol di #gim sampai pagi. Syukur-syukur kalau orang yang sedang kami ajak mengobrol lokasinya dekat atau jangan-jangan malah berada di warnet yang sama. Obrolan pun bisa berlanjut sambil makan di warmindo 24 jam atau di kamar kos salah satu dari kami.
Bagi banyak kwir muda saat itu, koneksi yang tercipta di ruang maya tanpa disadari menjadi titik awal terbentuknya jaringan yang menumbuhkan rasa berkomunitas. Obrolan sering berlanjut menjadi pertemuan di dunia nyata. Persahabatan terbentuk. Romansa terjalin. Jaringan pun terkelindan.
Orang-orang yang tadinya hanya mengobrol lewat ketikan kemudian menjadi teman untuk nongkrong semalaman di restoran cepat saji di bilangan Sarinah, menemani pergi ke gay night di sebuah kelab malam di daerah Kuningan, atau menonton festival film kwir yang saat itu baru mulai diadakan. Dari sini, kami mengenal lebih banyak lagi orang-orang seperti kami—dari satu teman ke teman lain, lalu ke teman berikutnya.
Di era ketika akses terhadap koneksi dan informasi tidak semudah sekarang, pertemuan-pertemuan ini penting karena membuat kami merasa tidak sendirian. Kami yang awalnya hanya menonton film di festival film kwir, setelah bertemu banyak teman di sana, bisa jadi tergerak untuk ikut mengelolanya pada tahun berikutnya.
Tanpa disadari, komunitas dan aktivisme tumbuh dengan sendirinya, tanpa pernah benar-benar kami rencanakan. Pertemuan-pertemuan ini penting karena memungkinkan kami bergerak bersama atau mungkin sekadar hadir untuk saling menguatkan.
Memang tidak semua pertemuan a/s/l ini berujung pada sesuatu yang besar dan—kalau boleh meminjam kata yang paling mendekati—“bermakna”. Banyak juga dari kami yang masuk ke #gim malam hanya untuk mencari teman tidur, melakukan cybersex, atau sekadar mengobrol tanpa arah secara anonim.
Tidak ada yang salah dengan itu. Generasi zaman sekarang yang lebih mudah tampil dan speak up mungkin menganggap aktivitas seperti ini sebagai sesuatu yang semu dan serba sembunyi-sembunyi. Namun, inilah cara generasi kami merawat identitas dan eksistensi kami.
Dengan cara itu pula, kami secara tidak langsung melawan suara mayoritas yang berusaha membungkam atau menghapus keberadaan kami.
Zaman telah berubah begitu cepat. Queer joy seperti itu mungkin kini dianggap tidak lagi relevan. Sekarang, kami sudah memasuki usia paruh baya. Lalu, mungkin adik-adik akan melontarkan pertanyaan lanjutan:
“Kalau begitu, definisi queer joy buat Om sekarang apa dong?”
Bagi kami di usia ini, queer joy adalah masih bisa berada di sini: tetap hidup sehat, tetap bertahan di Indonesia meski situasinya semakin tidak ramah bagi teman-teman queer, dan tidak tumbang oleh tekanan heteronormativitas di sekitar kami—misalnya terpaksa menikah dengan lawan jenis demi status atau untuk “membahagiakan” keluarga.
Banyak dari kami telah lama hidup bersama pasangan pilihan kami sendiri. Kami juga masih berkumpul dengan lingkar sahabat lama yang mungkin semakin kecil, tetapi yang paling penting tetap sefrekuensi dan saling melengkapi. Banyak dari pasangan dan sahabat itu berawal dari sebuah ruang maya dengan pintu ke mana saja. Dan untuk membuka pintu itu, dulu kami hanya membutuhkan tiga huruf:
a/s/l
Mendefinisikan ulang makna bahagia sebagai gay di sini.
Queer joy sebagai praksis perlawanan di sini.
Perjalanan menerima diri sebagai aromantis di sini.



