Oleh: Louie
Tulisan ini adalah salah satu kontribusi dalam seri Cerita Queer Joy di Indonesia—sebuah ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kebahagiaan dan kesintasan LGBTQIA+ yang tumbuh di tengah upaya-upaya membatasinya.
Selamat membaca dan selamat merayakan Bulan Kebanggaan, kawan-kawan!🏳️🌈🏳️⚧️
Aku lahir dan tumbuh di dunia yang penuh aturan. Sejak kecil, banyak dari kita—manusia—diajarkan bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap. Laki-laki dianggap harus kuat, maskulin, dan dominan. Perempuan dianggap harus lemah lembut, penurut, dan anggun. Aturan-aturan tersebut begitu sering diulang sehingga banyak individu menerimanya sebagai sesuatu yang mutlak.
Namun, semakin aku bertumbuh, semakin aku menyadari bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar dua kotak yang telah diciptakan oleh masyarakat.
Tidak semua orang mengekspresikan diri dengan cara yang sama. Tidak semua orang merasa nyaman dengan ekspektasi yang diberikan kepada mereka masing-masing. Dan tidak semua orang mencintai dengan cara yang dianggap “normal” oleh lingkungan sekitarnya.
Meski demikian, masih saja banyak orang yang memandang komunitas LGBTQIA+ sebagai sesuatu yang aneh atau salah (terutama dari sudut pandang agama). Menurutku, hal ini sering kali bukan karena mereka benar-benar memahami apa yang mereka benci, melainkan karena mereka tumbuh dengan aturan dan stereotip tertentu. Ketika seseorang hidup di luar aturan tersebut, mereka langsung dianggap berbeda.
Padahal, keberagaman identitas dan orientasi seksual bukanlah fenomena baru atau modern yang sering disebut “terlalu dibarat-baratkan”. Sepanjang sejarah manusia, bahkan di alam, variasi dalam cara individu mengekspresikan diri dan menjalin hubungan selalu ada. Yang berubah bukan keberadaannya, melainkan cara masyarakat memandangnya.
Banyak individu sejak kecil diajarkan bahwa segala sesuatu di luar ekspektasi tertentu adalah sesuatu yang salah atau tidak wajar. Akibatnya, ketika mereka melihat seseorang yang hidup secara berbeda, mereka menganggapnya sebagai ancaman terhadap nilai yang mereka yakini.
Aku percaya bahwa orientasi seksual bukanlah pilihan yang diputuskan seseorang begitu saja.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orientasi seksual dipengaruhi oleh faktor biologis yang kompleks dan bukan sekadar keputusan sadar yang dibuat seseorang. Bahkan perilaku ini juga dapat diamati pada spesies lain. Artinya, keragaman ini merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Meski begitu, menjadi queer di Indonesia tetap bukan hal yang mudah. Ada banyak pendapat tentang bentuk diri kita. Ada banyak orang yang merasa berhak menentukan bagaimana hidupmu harus dijalani. Terkadang, ruang untuk menjadi diri sendiri terasa sempit. Terkadang, keberadaan seseorang seolah harus terus dijelaskan dan dipertahankan.
Sebagian orang menggunakan agama untuk menolak keberadaan LGBTQIA+. Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan yang mengenal agama, aku memahami bahwa keyakinan memiliki peran penting dalam kehidupan banyak orang. Namun aku juga percaya, agama bukanlah satu-satunya cara untuk memahami manusia.
Sepanjang sejarah, manusia terus mencari makna hidup, tujuan keberadaan, dan cara hidup bersama. Dalam proses tersebut, berbagai kepercayaan dan sistem nilai berkembang untuk menjawab kebutuhan sosial maupun psikologis masyarakat.
Karena itu, menurutku, perbedaan keyakinan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat terhadap sesama manusia.
Pada akhirnya, semua orang ingin didengar, diterima, dan diperlakukan dengan layak. Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi kebutuhan dasar kita sebagai manusia tidak jauh berbeda.
Semakin aku memikirkan semua ini, semakin aku menyadari bahwa persoalannya tidak hanya tentang LGBTQIA+. Dunia dipenuhi berbagai bentuk ketidakadilan. Ada orang yang lahir dengan lebih banyak kesempatan dibandingkan dengan yang lain. Ada orang yang harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama. Ada orang yang tumbuh dengan dukungan dan kepercayaan diri, sementara ada orang lain yang sejak kecil terus diberitahu bahwa mereka tidak akan pernah cukup baik.
Kita hidup dalam sistem yang sering kali mengukur nilai manusia berdasarkan pencapaian. Kita diajarkan untuk menjadi yang terbaik, mendapatkan nilai tertinggi, memenangkan kompetisi, dan terus membuktikan diri. Seolah-olah hidup adalah perlombaan yang tidak pernah berakhir. Dunia mendorong kita untuk terus bertahan, terus berjuang, dan terus bersaing.
Namun aku sering bertanya-tanya: apakah memang itu tujuan hidup manusia?
Apakah hidup hanya tentang menjadi nomor satu?
Apakah dunia benar-benar terdiri dari pemenang dan pecundang?
Atau, sebenarnya ada orang-orang yang memperoleh lebih banyak kesempatan daripada yang lain? Adakah orang-orang yang terpaksa kehilangan kesempatan yang seharusnya mereka miliki? Adakah orang-orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia berputar di sekitar mereka dan ada pula orang-orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak layak mendapatkan apa pun?
Aku tidak memiliki jawaban pasti untuk semua pertanyaan itu. Namun, satu hal yang kusadari adalah bahwa bertahan hidup tidak selalu berarti benar-benar hidup.
Sering kali kita begitu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain hingga lupa bertanya kepada diri sendiri apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita terus berusaha bertahan dari tekanan, ketakutan, dan penilaian orang lain. Kita belajar untuk tetap berjalan meskipun lelah. Kita belajar untuk tetap diam meskipun ingin berbicara.
Sebagai bagian dari komunitas LGBTQIA+, perasaan itu terkadang terasa sangat nyata. Ada saat-saat ketika aku merasa lebih sibuk bertahan daripada menikmati hidup. Bertahan dari prasangka. Bertahan dari stereotip. Bertahan dari ketakutan bahwa keberadaanku mungkin tidak akan diterima oleh semua orang.
Namun, semakin aku bertumbuh, semakin aku menyadari bahwa aku tidak ingin hanya bertahan. Aku ingin hidup.
Aku ingin merasakan kebebasan untuk menjadi diriku sendiri tanpa terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa keberadaanku layak dihargai.
Aku ingin hidup sebagai manusia, bukan sebagai seseorang yang terus dipaksa memenuhi ekspektasi yang tidak pernah ia pilih.
Aku ingin memiliki ruang untuk tumbuh, berubah, belajar, dan membuat kesalahan tanpa rasa takut.
Mungkin itulah alasan mengapa konsep queer joy terasa begitu berarti bagiku.
Banyak orang mengira queer joy hanya tentang kebahagiaan setelah diterima oleh orang lain. Bagiku, maknanya jauh lebih dalam. Queer joy adalah kemampuan untuk menemukan kebahagiaan di tengah dunia yang belum sempurna. Queer joy adalah keberanian untuk tetap berharap meskipun masih ada diskriminasi.
Queer joy adalah menyadari bahwa keberadaanku bukan sesuatu yang perlu disembunyikan atau disesali.
Harapan itu tidak datang dari satu peristiwa besar. Harapan itu datang dari hal-hal sederhana. Dari teman-teman yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Dari orang-orang yang berani menjadi diri mereka sendiri. Dari komunitas yang mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. Dari setiap tindakan kecil yang menunjukkan bahwa dunia masih memiliki ruang untuk kebaikan.
Pengalaman-pengalaman kecil tersebut membuatku memahami bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai dari langkah kecil. Tidak ada kemajuan yang terjadi dalam semalam. Setiap perubahan sosial yang berarti selalu dimulai dari individu-individu yang memilih untuk peduli ketika orang lain memilih untuk diam.
Karena itu, ketika aku memikirkan bagaimana mengatasi ketidakadilan di dunia, aku tidak lagi mencari solusi yang sempurna. Aku tidak percaya bahwa dunia suatu hari akan menjadi sepenuhnya adil. Ketidakadilan akan selalu ada dalam berbagai bentuk.
Namun, aku percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat dunia sedikit lebih baik.
Kita bisa memilih untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kita bisa memilih untuk mendengarkan sebelum menghakimi. Kita bisa memilih untuk menunjukkan empati kepada mereka yang berbeda dari kita. Mungkin perubahan yang kita ciptakan terlihat kecil dan tidak berarti. Namun, setiap kemajuan besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil.
Pada akhirnya, aku tidak bermimpi tentang dunia yang sempurna. Aku hanya berharap akan dunia yang lebih manusiawi. Dunia yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Dunia yang tidak memaksa semua orang menjadi sama agar dianggap layak dihargai.
Bagiku, queer joy adalah keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang terkadang membuat kita lupa bagaimana rasanya hidup.
Bukan sekadar bertahan, tetapi benar-benar hidup. Bukan sekadar melewati hari demi hari, tetapi menikmati keberadaan kita sebagai manusia yang bebas untuk mencintai, berharap, dan menjadi diri sendiri.
Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian yang ada, itulah bentuk kebebasan yang paling berarti.
Untuk siapa pun yang sedang berjuang menjadi dirinya sendiri: aku harap suatu hari nanti kamu menemukan kebebasan yang selama ini kamu cari. Kebebasan untuk berbicara tanpa takut. Kebebasan untuk mencintai tanpa rasa malu. Kebebasan untuk hidup tanpa terus-menerus merasa harus bertahan.
Dunia mungkin tidak akan pernah sempurna. Akan selalu ada ketidakadilan, prasangka, dan orang-orang yang tidak mengerti. Namun, jangan biarkan itu mengambil harapanmu.
Karena pada akhirnya, keberadaanmu bukanlah sebuah kesalahan. Kamu tidak diciptakan untuk terus bersembunyi. Kamu berhak hidup sebagai dirimu sendiri.
Dan meskipun langkahmu terasa kecil hari ini, tetaplah melangkah.
Sebab setiap perubahan besar selalu dimulai dari seseorang yang berani berharap.
Untuk dibaca berikutnya di KHP:
Fan Fiction dan representasi Queer di sini.
Perjalanan menemukan diri melalui eksplorasi busana di sini.
Saatnya kita berani untuk berani di sini.



